
DI RUMAH Qing.
Hyou muncul di halaman dan segera masuk rumah. Dia mendapati para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mereka akhirnya lega setelah mendapati Hyou kembali. Lalu Dong Mei dan Fan Chen segera melaporkan apa saja yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Qing Mao demam hingga tidak bisa berjalan jauh. Gadis itu hanya bisa bersantai di ranjang seraya bersandar atau kadang tertidur dengan tubuh panas. Gu Yihao berulang kali membantu menurunkan panasnya. Namun setiap kali panasnya menurun pasti akan kambuh lagi dan lagi.
Hyou lupa jika sebelum pergi, seharusnya dia meminta pelayan untuk membuatkan obat dulu. Tapi herbalnya baru saja dia beli sekarang. Ini memang kelalaiannya.
"Cepat, rebus obat ini dan tambahkan sedikit gula," katanya pada pelayan paruh baya.
"Baik, Butler," kata pelayan paruh baya itu seraya mengambil obatnya.
"Jangan lupa, tambahkan gulanya hanya sedikit. Dan siapkan manisan buah. Gadis itu harus dibujuk dengan manisan," imbuhnya.
"..." Si pelayan paruh baya itu mengiyakan lagi dan berpikir jika Hyou seperti seorang kakak saat ini.
Hyou pergi ke kamar Qing Mao dan mendapati gadis itu berbaring di ranjang, wajahnya agak pucat. Lalu Gu Yihao mengompresnya berulang kali. Saat laki-laki itu kembali, Gu Yihao merasa lega. Ia meletakkan sapu tangan yang digunakannya untuk mengompres.
"Kenapa kamu begitu lama? Dari mana saja kamu selama ini?" tanyanya kesal.
"Hanya mengecek beberapa tempat. Tapi semuanya sudah selesai. Apakah ada sesuatu yang aneh selama aku pergi?" Hyou tidak menghiraukan ekspresi kesal pria itu.
"Tidak ada selain mengigau, seperti mengutukku dan lain sebagainya. Aku tidak tahu bahwa karena diriku ... gadis ini terlihat seperti orang yang pernah ditinggalkan seseorang," jelasnya.
"..." Hyou tidak mau berkata apa-apa tentang ini dan segera memintanya untuk turun ke bawah. Ia telah meminta pelayan untuk merebuskan obat.
Meski Gu Yihao adalah Raja Yi dan seorang pangeran, tapi ia masih pergi untuk mengambil obatnya. Selama beberapa hari terakhir, ia hidup seperti orang-orang biasa, tanpa pelayan khusus ataupun bawahannya. Jika takdirnya bukan seotang pangeran, mungkin terlihat lebih santai?
Tak berapa lama, kereta dari Istana Putri Lailan tiba. Gadis itu turun dari kereta seraya membawa keranjang tonik. Lalu segera masuk setelah pelayan menyambutnya. Ia diantar ke lantai di oleh sorang pelayan senior di rumah tersebut.
__ADS_1
"Apakah sakit Mao Mao begitu parah?" tanyanya pada pelayan tersebut.
"Nona Qing telah demam selama beberapa hari dan tidak kunjung turun. Hari ini Kepala Pelayan Hyou telah kembali dan segera merebuskan obat untuknya," jelas pelayan wanita paruh baya itu dengan senyum ramah
Putri Lailan memberikan keranjang berisi beberapa botol tonik kepada si pelayan. "Ini dari ibuku untuk gadis itu," katanya.
"Terima kasih, Putri." Pelayan wanita paruh baya itu merasa bersyukur karena sang putri begitu perhatian pada Qing Mao.
Gadis itu hanya mengangguk ringan dan mengangkat roknya sedikit agar tidak tersandung. Dia menaiki anak tangga dengan cepat hingga akhirnya sampai di kamar gadis itu. Ada Hyou yang duduk di tepian ranjang seraya mengompres dahi Qing Mao. Sesekali menyentuh dahinya dan menggumamkan sesuatu.
"Apa yang kamu lakukan?" Putri Lailan terkejut ketika Hyou terlihat seperti seseorang yang tengah melakukan sesuatu pada Qing Mao.
Konsentrasi Hyou langsung pecah dan cahaya putih di tangannya yang menyentuh dari Qing Mao pun langsung menghilang. Ekspresinya tiba-tiba berubah dingin. Dia menatap Putri Lailan dengan wajah menggelap.
"Maaf, Putri. Bisakah ketuk pintu sebelum masuk?" tanyanya.
"Ah, aku ... Aku terlalu khawatir dengannya. Aku hanya ingin tahu apa yang kamu lakukan. Aku tidak bermaksud tidak sopan," jawab Putri Lailan sedikit malu.
Putri Lailan melihat An Daiyu yang tiba-tiba ada di sampingnya dan merangkul seperti seorang suami pada istrinya. Dia mencibir dan menepis tangan pria playboy itu. Boleh saja bicara, tapi tidak merangkulnya. Dia masih polos dan murni.
"..." An Daiyu merasakan penolakan dari sang putri dan hanya bisa menghela napas panjang. Sulit hidup sebagai pria yang dicap sebagai playboy di mana-mana.
Hyou tidak ingin repot mengurus keduanya dan menyentuh dahi Qing Mao. Demamnya turun saat ini. Efek dari asap kegelapan itu sungguh berbahaya bagi gadis ini. Dia yakin jika kondisi gadis ini sebelumnya disebabkan oleh asap kegelapan dari penjaga cincin batu giok hitam.
Benar-benar sesuatu yang harus dijauhkan dari Qing Mao ataupun Gu Yihao. Jika terus berlanjut, dia khawatir jika di masa depan, keduanya akan memiliki takdir yang baru lagi. Hyou tidak mau hal ini terulang hingga tugasnya tidak selesai di masa depan.
"Lupakan saja. Kalian bisa duduk dulu. Gadis ini masih butuh istirahat saat ini," katanya.
"Apakah dia sudah baikan?" tanya Putri Lailan segera berjalan mendekat. Dia melihat wajah Qing Mao yang agak pucat kini terlihat lebih baik.
__ADS_1
Dari luar kamar, Gu Yihao kembali sambil membawa nampan berisi semangkuk kecil obat cair yang terlihat pahit, lalu manisan buah. Tampaknya Hyou sering membujuk gadis itu dengan hal-hal ini.
"Masih panas," ujar Gu Yihao seraya menunjukkan obatnya.
"Tidak apa-apa. Letakkan saja dulu. Setelah obatnya agak dingin, bangunkan gadis ini. Aku mau mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu." Hyou bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Putri Lailan melihat saudara kesebelasnya cukup kurus dan kurang tidur. Akhirnya ia meminta pria itu untuk tidur. Ia dan An Daiyu akan menjaga Qing Mao selama masih tertidur. Namun Gu Yihao menggelengkan kepala dan tetap keras kepala saat meletakkan nampan di meja nakas.
Ia ingin mengurus gadis itu hingga terbangun nanti. Tampaknya An Daiyu memilliki pemahaman tentang alasan ini dan segera meminta Putri Lailan untuk tenang. Dia menggelengkan kepala dan berbisik pada gadis itu.
"Saudara Kesebelas mu sedang berusaha untuk mendapatkan hati gadis itu. Apakah kamu tega mematahkan semangatnya?" bisikkannya lebih pelan.
Putri Lailan merasakan embusan hangat di daun telinga, wajahnya langsung memerah. Dia membuka kipas lipatnya dan menghalangi sebagian wajahnya. Menutupi rasa malu.
"Aku tahu, aku tahu ... Kalau begitu, haruskah kita menunggu di ruangan lain?" tanyanya juga berbisik.
"Ya. Bagaimana jika menemaniku bermain catur?"
"Tidak masalah," jawab gadis itu. Ia juga tahu cara bermain catur. Setelah itu ia bangkit dari duduknya dan melirik Gu Yihao. "Saudara Kesebelas, aku akan bermain catur dengan Tuan An di ruangan sebelah. Kamu jaga dirimu juga di sini. Panggil kami jika ada apa-apa," katanya.
"Pergilah." Gu Yihao tidak peduli pada keduanya tapi juga tidak mengabaikan mereka.
Akhirnya Putri Lailan meninggalkan ruangan dengan An Daiyu.
Gu Yihao sendiri memang sakit kepala saat ini. Belum lagi tidak cukup tidur dan makan sedikit selama beberapa hari terakhir. Para bawahan Gu Yihao yang ada di bayang-bayang pun tak berdaya saat melihat tuan mereka terlihat tidak sehat.
Akhirnya setelah obatnya memiliki suhu yang pas untuk diminum, Gu Yihao membangunkan Qing Mao lebih dulu.
"Mao'er ... Bangunlah. Minum obatmu dulu. Hyou sudah kembali. Kamu ingin melihatnya bukan?"
__ADS_1
Gadis yang tertidur dengan suhu badan yang cukup panas itu langsung mengerutkan keningnya. Sayup-sayup mendengar suara Gu Yihao memanggilnya hingga ia pun terbangun.
"Hyou sudah kembali? Di mana dia?" tanyanya agak serak.