Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Fragmentasi Ingatan


__ADS_3

MENGIRA jika Qing Mao masih dalam keadaan bingung, Gu Yihao segera memeluknya. Dia menenangkan gadis itu untuk waktu yang cukup lama. Tidak tahu mimpi apa yang membuat Qing Mao ketakutan, Gu Yihao khawatir ini masih berhubungan dengan dirinya.


Ada banyak penyesalan di hati pria itu, kemarahan dan ketidakberdayaan. Kenapa dulu dia begitu bodoh, mengambil Nu Qingge sebagai tunangan dan menyingkirkan gadis yang ditakdirkan untuknya? Mungkin kedua kakinya yang cacat waktu itu adalah hukuman dari para dewa untuk pria bodoh seperti dirinya.


Dia mengelus kepala gadis itu dan terus menenangkannya dengan beberapa patah kata yang menyenangkan.


"Siapa yang akan meninggalkanmu? Raja di sini. Lihatlah, Raja ada di depan mata Mao'er. Raja tidak pergi ke mana-mana."


Gadis itu segera menatap Gu Yihao dengan tatapan agak kosong. "Hao Hao ..."


Ini kali pertama bagi Qing Mao memanggil pria itu lagi dengan intim. Membuat Gu Yihao gemetar karena sedikit kebahagian. Meski Qing Mao dalam keadaan linglung, ia tetap senang. Ya, sudah lama sekali nama itu tak terucap dari mulut Qing Mao.


"Raja di sini," gumamnya.


"Aku takut ...."


"Baik, tidurlah. Raja menemani Mao'er malam ini. Jangan takut, mimpi buruk itu akan pergi," kata Gu Yihao seraya tersenyum lembut.


Gadis itu segera meringkuk di sampingnya seperti bola. Pria itu memeluknya. Walaupun malam ini ada sedikit fantasi bisa lebih dekat dengan gadis ini, namun ia tahu jika besok mungkin kembali normal. Tidak apa-apa, ia senang malam ini.


Qing Mao masih agak linglung dan pikirannya penuh dengan beberapa fragmentasi mimpi. Ia seperti bukan dirinya sendiri saat ini dan hanya bisa memeluk Gu Yihao. Ia merindukan aroma cendana pria ini. Apapun alasannya, dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya ....


Qing Mao terbangun oleh jam biologisnya dan menyadari jika saat ini dia memeluk pria itu. Tubuhnya segera kaku. Dia menggerakkan kepalanya sedikit dan menatap Gu Yihao yang tertidur tenang. Bagiamana bisa pria ini ada di sini? Pikirnya.

__ADS_1


Karena terkejut, dia segera menjauhkan diri dan membelalakkan mata. Pria yang memeluknya tadi mengerutkan kening, memiliki tanda-tanda akan bangun. Qing Mao yang linglung sedang memikirkan apa yang terjadi semalam dan tampaknya tidak ingat banyak.


Namun keberadaan Gu Yihao di sini jelas tidak biasa. Ia tidak yakin jika pria itu berani naik ke tempat tidurnya dan bertindak kurang ajar. Bukankah semalam dia bermimpi? Qing Mao berpikir keras saat ini hingga pria itu benar-benar bangun.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya pria itu setelah tahu jika ekspresi Qing Mao sudah cuek kembali seperti biasanya.


"Aku ... Aku baik-baik saja. Apakah semalam aku bermimpi?" Dia bertanya kembali untuk memastikannya.


"Ya, kamu berteriak di tengah malam dan terbangun dengan ekspresi ketakutan. Kamu juga berkeringat. Jadi ... Raja ini menenangkanmu. Kamu bertingkah manja seperti empat tahun lalu," jawab Gu Yihao sedikit berhati-hati memperhatikan perusahaan ekspresi di wajah gadis itu.


Benar saja, gadis itu segera menunjukkan tatapan tidak percaya dan linglung lagi. Gu Yihao hanya memintanya untuk bertanya saja pada pelayan jika tidak percaya. Namun Qing Mao segera turun dari tempat tidur dan memang jika tubuhnya lengket karena berkeringat semalam. Ia mengusir pria itu dari kamarnya dan pergi ke kamar mandi.


Melihat jika kamar mandi dikunci dari dalam, Gu Yihao yang baru saja turun dari tempat tidur pun tersenyum tidak berdaya. Semalam itu adalah hari terbaiknya sejak pertemuan kembali dengan Qing Mao. Dia segera meninggalkan kamar dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan.


Di kamar mandi ....


Qing Mao sedikit lemas. Dia berdiri di depan wastafel dan menatap dirinya di cermin yang cukup besar. Perhatikan diri sendiri dan apa yang salah dengan mimpi semalam. Kenapa dia begitu manja pada Gu Yihao? Apa yang sebenarnya tersembunyi selama ini.


Tetes air dari wajahnya sedikit hangat. Qing Mao meremas tepian wastafel dan menggigit bibir bawahnya.


"Haruskah pertanyaan siapa Qing Mao itu ... kini menjadi siapa aku?" gumamnya.


Walaupun Qing Mao yakin dia tak pernah datang ke zaman ini, tapi mimpi-mimpi yang selalu muncul saat tidur itu membuatnya curiga sepanjang waktu. Ditambah sikap Hyou seolah-olah menyembunyikan sesuatu darinya. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa dirinya? Apa hubungannya dengan Gu Yihao?


Qing Mao menatap dirinya lagi di cermin dan pantulan cahaya aneh muncul. Pantulan cahaya itu seakan-akan menyilaukan matanya hingga dia mundur dua langkah. Setelah mengucek kedua mata, ia merasa jantungnya berdegup.


Saat melihat ke cermin lagi, ia seperti sedang melihat sebuah fragmentasi ingatan seseorang. Dalam pantulan cermin, ada seorang pria jangkung yang sangat tampan, memasangkan kalung giok hijau padanya. Lalu memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Mao'er ... Di kehidupan ini dan selanjutnya, kita akan selalu bersama. Jika kita dipisahkan, kita akan kembali bersatu dan mengalahkan Gu Wei. Ini sumpahku," kata pria itu sangat lembut.


Wanita yang mirip Qing Mao dewasa tersebut berbalik dan menyentuh wajah pria itu. "Hao Hao ... Aku juga bersumpah dalam hidup ini dan selanjutnya, aku hanya mencintaimu. Mencintaimu selamanya."


Lalu keduanya berciuman.


Fragmentasi ingatan itu segera pecah di hadapan Qing Mao hingga menyilaukan matanya. Untuk waktu yang singkat, Qing Mao tidak menyadari jika kini dia telah berjongkok dengan ekspresi bodoh. Apa ini sebenarnya? Siapa dia dan bisakah seseorang menjelaskan tentang gambaran aneh di cermin itu?


Dia bangkit dan memperhatikan cermin. Tapi tak ada apa-apa selain bayangan dirinya sendiri. Ini aneh. Meski Qing Mao begitu penasaran dan ingin mencari seseorang untuk bertanya, ia memendam semuanya lebih dulu dan tunggu Hyou kembali.


Gadis itu membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Rambutnya digelung handuk kecil. Dia baru saja selesai keramas. Setelah berpakaian dan mengeringkan rambut, dia keluar kamar. Pikirannya masih agak berantakan.


"Di mana Gu Yihao?" tanyanya pada salah satu pelayan.


"Pangeran tengah berada di ruangannya. Karena semalam Nona Muda berteriak ketakutan akibat bermimpi buruk, pangeran telah meninggalkan pekerjaannya."


"..." Gu Yihao masih bekerja di tengah malam? Qing Mao baru tahu jika bagi mereka yang begitu sibuk, waktu tidak menjadi ukuran untuk beristirahat. Tapi diukur dari kapan pekerjaan itu bisa selesai.


Mungkin pekerjaannya harus selesai semalam dan hari ini mungkin harus bersantai. Namun dia membuat pria itu meninggalkan pekerjaannya di malam hari.


"Nona Muda, sarapan sudah siap. Haruskah saya memanggil pangeran untuk makan?" tanya gadis pelayan muda itu agak ragu-ragu. Gaun pelayan hitam putihnya sedikit kusut karena telah bekerja sejak pagi buta tadi.


"Bawa sarapan ke kamar tamu saja."


"Ya, Nona." Pelayan itu segera melenggang untuk mengambilkan sarapan bagi keduanya.


Qing Mao pergi ke kamar tamu di mana Gu Yihao berada. Pintu tidka ditutup rapat sehingga dia bisa membukanya tanpa mengetuk. Lagi pula, ini rumahnya sendiri. Ia melihat jika Gu Yihao membuka beberapa gulungan dan membacanya, lalu menulis sesuatu. Setelah ragu-ragu, gadis itu pun mengetuk pintu.

__ADS_1


Gu Yihao mengangkat kepalanya sedikit dan melihat ke arah pintu. Gadis itu berdiri dengan kebingungan di sana.


Sementara Qing Mao agak canggung. "Sarapan sudah siap. Apakah tidak apa-apa jika sarapan di bawa ke sini saja?" tanyanya.


__ADS_2