Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Kunjungan Tengah Malam Untuk Han Baimo


__ADS_3

DIKATAKAN jika Gu Wenlian tertekan oleh kaisar setelah kematian Nu Qingge yang tak bisa dijelaskan. Jadi Gu Wenlian melampiaskan kemarahannya pada selir di halaman belakang. Pria itu minum anggur hingga mabuk dan menyentuh beberapa selirnya secara kasar. Yang penting, kepuasannya tercapai.


Masalah ini sungguh rumit.


Qing Mao menatap Gu Yihao dan ingin bertanya sesuatu. "Apakah semua pria benar-benar memiliki daya tahan yang besar di tempat tidur, hingga mampu meniduri berapa selir hanya kurang dari sehari?"


Tidakkah mereka takut penyakit menular yang memiliki nama lain di zaman kuno ini?


Gu Yihao sedikit canggung ketika membahas ini. Sepertinya tidak cocok bagi seorang wanita kecil seperti Qing Mao untuk membicarakan masalah pria di tempat tidur.


Tapi, Qing Mao kini juga pandai dalam pengobatan Tiongkok kuno. Tentu masalah seperti ini tidak membuatnya malu. Hanya saja Gu Yihao tidak berpikir demikian. Pria itu merasa jika pembicaraan ini agak vulgar.


Gu Yihao batuk disengaja dan menggelengkan kepala. "Tidak semuanya seperti itu. Tidak ada yang bisa menandingi raja ini," jawabnya percaya diri.


Qing Mao melihat penampilannya yang begitu percaya diri, hatinya sedikit mati rasa. Dia ingat berapa lama pria itu bermain di tempat tidur malam itu. Ini ... daya tahannya memang luar biasa?


Entahlah. Qing Mao juga tidak ingin membicarakan masalah tentang kelebihan seorang pria di tempat tidur. Dia menghela napas dan mengakhiri pembicaraan itu.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanyanya.


"Lihat dan perhatikan. Gu Wei sudah tahu jika aku mengembalikan ingatan masa lalu dan kini dia harus lebih berhati-hati," jelasnya.


"Dia belum tahu tentang aku?"


"Belum. Lebih baik jangan. Tapi untuk berhati-hati, jangan pergi ke tempat sepi sendirian. Dia pasti akan mencari waktu untuk datang padamu dan memulainya," jelasnya. "Apakah kamu paham?"


"Aku bukan anak kecil. Aku tahu itu," kata Qing Mao segera cemberut.

__ADS_1


"Kamu bukan anak kecil. Raja tahu ini. Hanya saja kemampuanmu belum pulih dan sebagian lagi ditekan oleh cincin batu giok hijau. Apakah kamu masih yakin tentang cara mengalahkan Gu Wei?" Gu Yihao tenggelam dalam pikirannya.


Di kehidupan sebelumnya, Gu Wei mengincar Qing Mao di mana-mana. Gadis itu sangat polos sebelumnya. Dan keduanya terlambat menyadari tentang keberadaan Gu Wei yang akan selalu menghantui di setiap reinkarnasinya.


Kali ini Gu Yihao tidak mau kejadian itu terulang kembali. Demi mewujudkan itu, dia telah pergi ke negara Baicheng untuk menjemput Han Baimo. Cincin batu giok putih diyakini memiliki aura suci yang membuat Gu Wei sebagai roh cincin artefak batu giok hitam enggan menyentuh Han Baimo.


Anggap saja Han Baimo ini adalah perisai baginya di garis depan. Setelah itu, Gu Yihao akan melancarkan serangan, mengalahkan Gu Wei dan menghancurkan cincin batu giok hitam


Gu Yihao memeluk Qing Mao dengan perasaan nostalgia yang dalam. “Mao Mao, dalam hidup ini, jangan berpikir untuk meninggalkanku lagi. Apakah kamu tahu?” bisiknya.


Qing Mao merasakan kehangatan di pelukan Gu Yihao dan mengangguk patuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat Han Baimo saat ini, Istana Kekaisaran cukup sepi ketika menjelang tengah malam. Pria berjubah dan berambut putih itu duduk di kursi yang terdapat dekat jendela kamar. Lentera yang terpasang serta lilin di atas meja membuat suasana menjadi hangat.


“Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Gu Wei bukan makhluk yang lemah setelah sekian lama memasuki berbagai kehidupan,” gumamnya sedikit tidak berdaya.


Seekor anak kucing putih duduk nyaman di bahu kirinya. “Tuan, apakah kamu akan membantu mereka?” tanyanya.


Jika orang lain tahu makhluk berbulu putih yang lucu itu mampu bicara, mungkin akan terkejut setengah mati.


“Ya, tentu saja. Ini sudah melewati banyak kehidupan dan mereka belum bisa mengalahkan Gu Wei sama sekali.” Han Baimo mengambil sebuah buku kuno dari ruang magis cincin batu giok putih. “Sekarang aku tahu apa yang kurang …,” gumamnya.


Kucing kecil berbulu putih itu memiringkan kepalanya sedikit dan membaca judul buku usang sudah menjadi barang sampah di matanya.


“Tuan …” Kucing putih kecil itu ingin mengatakan sesuatu tapi terganggu oleh aura gelap yang datang dari luar. “Tuan, seseorang akan datang!”

__ADS_1


“Kembali ke ruang cincin, jangan membuat masalah,” gumam Han Baimo. Dia juga tahu seseorang akan datang malam ini, tapi tujuannya tidak baik.


Belum lagi, Han Baimo juga melihat gambaran api dan kematian banyak wanita malam ini. Namun belum tahu wanita mana saja yang akan mati, serta api seperti apa yang akan menjadi bencana malam ini.


Kucing putih kecil itu segera menghilang dari pandangan dan tak lama setelah itu, seseorang muncul di jendela. Sosok jangkung seorang pria yang memakai jubah brokat hitam berpola ular merah. Pria itu juga membawa sebilah pedang tajam di punggungnya.


Han Baimo masih duduk tenang dan melirik ke arah pria itu. “Tidak kusangka, Yang Mulia Kesembilan akan datang ke sini sendirian dan bahkan masih membawa pedang yang ternoda darah,” ujarnya.


Pihak lain tak lain tak lain adalah Gu Wenlian, putra mahkota yang statusnya kini ditahan. Malam ini, pria itu berani menyelinap ke halaman istana yang khusus disiapkan untuk tamu penting.


Gu Wenlian tersenyum namun senyumnya tidak mencapai dasar matanya. Justru senyumnya menyerupai seringaian dan kilatan kekejaman terlihat oleh Han Baimo.


“Apakah Pangeran Besar yakin tidak mengenaliku?” tanya Gu Wenlian, suaranya berubah serak dan agak berat. Itu bukan suara asli Gu Wenlian.


Udara sedikit hening. Han Baimo menatap Gu Wenlian dengan ekspresi datar. Dan kini ekspresinya sedikit dingin.


“Mungkin aku harus memanggilmu … Gu Wei,” jawabnya.


Pada akhirnya, Gu Wenlian tertawa karena tebakan Han Baimo memang benar. Gu Wenlian yang asli tidak menyukai pakaian serba hitam. Sebagai putra mahkota, tentu saja pakaiannya lebih cerah dan mewah.


Setelah tertawa, Gu Wenlian terkekeh dan menatap Han Baimo dengan takjub. “Sudah begitu lama, kamu selalu menjadi penonton di setiap kehidupan. Kali ini kamu datang untukku, apakah ingin mati juga?”


“Kali ini tidak ada yang akan mati, tapi kamu yang akan mati,” jawab Han Baimo lagi.


“Hah, Baimo, cara bicaramu masih sama seperti dulu, sangat tidak menyenangkan untuk diajak bercanda. Tapi, malam ini aku datang untuk mengatasimu lebih dulu sebelum membunuh Gu Yihao dan wanita itu. Kali ini juga, kamu akan mati seperti di masa lalu, tidak berdaya dan harus mengorbankan dirimu sendiri untuk keselamatan dunia. Baimo, aku ingin kamu mati sebelum menyelamatkan negara Quentian ini.” Gu Wei yang ada pada tubuh Gu Wenlian pun mengambil pedangnya dan masuk ke ruangan.


Sayangnya, Han Baimo yang terlihat tenang dari awal kini bangkit dan mengeluarkan sebuah gulungan misterius dari dalam lengan baju kirinya.

__ADS_1


Di saat Gu Wei melihat gulungan itu dibuka dan mengeluarkan cahaya, ekspresi wajahnya berubah waspada.


__ADS_2