
HYOU AKHIRNYA ingat dengan Gu Yihao yang kini berada di gazebo halaman belakang. Ini sudah tengah malam. Meski cuacanya tidak terlalu dingin di malam hari, pria itu masih memegang sebotol anggur merah dan gelasnya. Pria itu berkata ingin minum sendirian di sana.
Hyou secara alami tidak terlalu khawatir dengan pria itu. Tapi ... bukan berarti dia akan mengabaikannya. Jadi setelah memberi tahu Qing Mao, dia pergi ke dapur untuk membuatkan makanan. Sebagian pelayan sudah beristirahat dan sisanya memiliki kerja malam yang panjang.
Adapun Qing Mao yang berjalan menuju halaman belakang, samar-samar tirai gazebo yang berkibar lembut tertiup angin itu menampilkan sosok pria yang duduk sambil minum. Cahaya bulan cukup bagus malam ini, Qing Mao bisa melihatnya.
Gu Yihao sepertinya menyadari ada seseorang yang datang dan kewaspadaannya meningkat. Namun ketika melihat sosok ramping itu datang memasuki gazebo, dia tertegun. Entah karena mabuk atau apa, Gu Yihao melihat Qing Mao saat ini.
"Mao'er ... Mao'er," gumamnya dengan pipi memerah akibat efek alkohol. Dia mencoba untuk memejamkan mata dan menenangkan diri. Mungkin itu hanya bayangannya saja, tidak nyata.
Qing Mao mencibir, tapi tidak mengatakan apa-apa. Suami di masa lalu ini benar-benar tidak pernah berubah. Selalu ceroboh dan minum banyak ketika diliputi kekhawatiran. Qing Mao sangat akrab dengan kebiasaannya ini.
Dia berjalan mendekati Gu Yihao, berpura-pura untuk menggodanya. Lagi pula, kebenciannya waktu itu sudah hilang. Dia tidak membenci pria ini, sungguh tidak. Dia hanya menyesal karena tidak memiliki takdir yang baik untuk hidup bahagia bersamanya. Semua itu karena Gu Wei .…
Memikirkan makhluk itu, Qing Mao sedikit emosional. Seandainya dia dan Gu Yihao hidup dengan baik, pasti sudah memiliki anak dan cucu. Kali ini tidak tahu apakah bisa hidup dengan baik atau tidak. Qing Mao mengharapkan semuanya baik-baik saja.
“Kenapa kamu mabuk di sini?” tanya gadis itu.
Gu Yihao menurunkan pandangannya dan sayup-sayup bisa mendengar suara yang manis tersebut. Aroma bunga yang lembut tercium di sampingnya. Dia sepertinya melihat gadis itu duduk di sampingnya dengan ekspresi datar tapi ada jejak kelembutan yang tak terlihat.
Pria itu ingin mengatakan sesuatu tapi enggan. Mao’er nya selalu cantik sepanjang waktu dan memiliki suara yang tak pernah berubah. Seperti saat ini. Entah ilusi atau bukan, Gu Yihao melihat bayangan gadis itu dan juga mendengarkan suaranya.
“Gu Yihao, apakah kamu mendengarku??” tanya Qing Mao ragu.
“Mao’er?” Gu Yihao masih setengah sadar. Apakah ini semua bukan ilusinya karena mabuk.
"Kamu mabuk," gumam gadis itu.
Tiba-tiba saja Gu Yihao mengulurkan tangan dan menyeretnya dalam pelukan. Aroma bunga dari parfum yang dipakai Qing Mao benar-benar tercium. Tubuh gadis itu juga hangat. Ini bukan mimpi. Qing Mao sudah sadarkan diri.
Hal ini membuat Gu Yihao sedikit berantakan pada awalnya tapi dengan cepat menetralisir rasa anggur yang membuatnya mabuk. Namun dia tak melepaskan pelukan seolah-olah Qing Mao adalah harta karun yang tak ternilai harganya.
__ADS_1
"Mao'er," gumam pria itu lagi. Pipinya sedikit memerah akibat efek alkohol.
"Aku di sini," kata gadis itu sedikit canggung. Meski ini bukan kali pertama Gu Yihao memeluknya, Qing Mao masih belum terbiasa.
"Mao'er."
"..." Qing Mao memiliki tiga garis hitam di kepalanya. Lupakan saja, pria mabuk ini tidak memiliki pemikiran yang jelas.
***
Keesokan paginya.
Qing Mao bangun di jam biologisnya dan membersihkan diri. Lalu turun ke lantai bawah untuk menunggu sarapan. Semalam Gu Yihao mabuk dan terpaksa menyeretnya ke kamar. Adapun Hyou yang tidak peduli, sebenarnya sengaja membuat hubungan keduanya lebih dekat.
Qing Mao sempat jengkel dan hendak memarahi Hyou, namun Gu Yihao hampir meracau sepanjang waktu. Jadi mau tidak mau Qing Mao menelan semua amarahnya ke perut.
"Apakah dia sudah pergi?" tanyanya.
"Jangan biarkan dia mabuk di rumahku lagi," kata Qing Mao langsung mendengus tidak suka.
Hyou tidak mengatakan apa-apa lagi namun sejak Qing Mao sadarkan diri semalam, perasaannya selalu tidak nyaman. Rasanya ada sesuatu yang dia lupakan tapi tak mampu mengingatnya dengan jelas. Terkadang dia khawatir Qing Mao akan mengingat jati dirinya yang asli.
Gadis itu meminum setengah gelas susu hangat dan melirik Hyou yang agak linglung di tempat. Laki-laki itu mungkin bisa merasakan sesuatu yang ganjil tentang dirinya. Namun Qing Mao tidak berniat untuk mengatakan jika dia tahu siapa dirinya sendiri.
Bertingkah seperti layaknya Qing Mao pada umumnya.
"Apakah tubuhmu baik-baik saja?" tanya Hyou memastikan.
"Aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Tidak apa-apa," jawab Hyou langsung menghela napas lega. "Apa yang akan kamu lakukan saat ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja mencari tahu tentang empat cincin giok legenda," jawab Qing Mao santai. "Bukankah kemarin aku pergi ke rumah nyonya Pei untuk memastikan identitasku?"
"Ya. Keluarga Qing sudah tidak ada lagi saat ini. Dari mana kamu akan memulai lebih dulu?"
"Kaisar." Qing Mao makan dengan santai. "Dari kaisar, aku ingin mencari tahu lebih awal."
"..." Kaisar Mu diperkirakan memang tahu sesuatu, pikir Hyou. Hanya saja ...
"Tapi seharusnya Gu Yihao yang mencari tahu dari kaisar. Kamu mungkin bisa mencoba dari sisi lain," sarannya.
"Oh ... Aku lupa tentang pria itu," gumam Qing Mao sedikit malu. "Lalu menurutmu dari mana aku harus memulai lebih dulu?"
"Perpustakaan istana kekaisaran."
"..." Bukankah sama saja aku harus pergi ke Istana Kekaisaran? Pikir Qing Mao seraya menatap Hyou dengan heran.
Hanya saja laki-laki itu tidak mau mengatakan lebih banyak lagi dan segera melarikan diri ke ruangan lain untuk mengerjakan tugas lain.
Setelah sarapan, Qing Mao pergi ke halaman depan dan memanggil dua penjaga rahasianya Fan Chen dan Dong Mei. Keduanya melaporkan apa yang terjadi di kediaman putra mahkota dan juga kediaman keluarga perdana menteri keuangan Nu.
Ibu kota ramai seperti biasanya tapi kediaman perdana menteri keuangan Nu tidak tenang. Setelah Nu Qingge penuh dengan rasa malu, ayahnya segera mengurung gadis itu di halamannya. Belum lagi masih ada diskusi hangat di luar, membuat seluruh anggota keluarga Nu tidak berani muncul di publik.
Ada lagi masalah serangga beracun yang tiba-tiba muncul di kediaman mereka, semakin menambah banyak desas-desus tidak menyenangkan. Meski begitu, semua ini hampir bersamaan dengan beberapa ruangan istana Gu Wenlian yang terbakar.
Apakah ini karma atau sejenisnya, warga bisa menebak secara acak meski tidak terang-terangan. Hal ini membuat Gu Wenlian sendiri curiga jika seseorang menggerakkan tangan dan kakinya untuk membuat masalah.
Di Istana Putra Mahkota.
Para pelayan yang telah dijatuhi hukuman pun tidak pernah muncul lagi. Gu Wenlian juga mendapatkan teguran kaisar sejak kemarin sehingga tidak berani menggerakkan apa pun lagi di belakang punggung ayahnya itu.
"Masih belum menemukan penyebabnya?"
__ADS_1
Gu Wenlian mengenakan pakaian serba biru langit hari ini. Ditambah wajahnya yang memiliki beberapa poin mirip kaisar, pesonanya cukup untuk membuat banyak wanita jatuh cinta.