Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Mengetahui Jati Dirinya


__ADS_3

SAYANGNYA Nyonya Pei menggelengkan kepala dan tidak tahu tentang masalah ini. Lagi pula keluarga kekaisaran bukan sesuatu yang bisa dijangkaunya jika mau. Oleh karena itu, Nyonya Pei tidak berdaya.


Awalnya dia ingin pergi ke istana kekaisaran uuntuk menanyakan mahar Qing Mao ketika menikah nanti. Tapi dua orang telah datang ke pintu jadi serahkan saja sebelum sesuatu yang lain terjadi.


"Kaisar memiliki salinan dari daftar mahar dan seharusnya tersimpan dengan baik selama tiga tahun terakhir ini," katanya.


Qing Mao bingung dan pikirannya benar-benar tidak baik saat ini. Dia mencoba membuat dirinya berpikir lebih jernih namun kabut di pikirannya justru mendorong dia untuk mencari tahu sesuatu.


Gu Yihao segera menepuk pundaknya dan menenangkan Qing Mao. "Jangan khawatir, Raja akan pergi ke Istana Kekaisaran dan bertanya pada kaisar," cibirnya sedikit tidak senang saat mengingat kaisar.


Gadis itu merasa bingung tapi mengangguk tidak berdaya. "Terima kasih," katanya.


"Jangan sungkan. Kita akan menikah di masa depan." Gu Yihao tersenyum tidak bersalah.


"..." Nyonya Pei sedikit terkejut dengan hubungan keduanya dan tanpa sadar ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.


Namun menghadapi tatapan Gu Yihao yang tidak mau diinterogasi, kata-kata yang hendak diucap oleh Nyonya Pei tersangkut di tenggorokannya. Mari lupakan saja. Hubungan keduanya mungkin lebih rumit daripada menyusun benang kusut.


Di saat keduanya hendak mengucapkan terima kasih dan meninggalkan ruangan, Qing Mao tiba-tiba saja meraih lengan baju Gu Yihao dan hendak mengucapkan sesuatu, namun tidak sempat. Tubuhnya sudah kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan.


"Nona Qing!" Nyonya Pei terkejut dan hendak maju untuk menahan tubuh gadis itu, tapi Gu Yihao sudah melakukan tindakan cepat.


Gadis itu tiba-tiba saja pingsan, membuat Gu Yihao merasa tidak nyaman. "Mao'er?" Dia mencoba untuk menyadarkan gadis itu, namun tidka berhasil. Qing Mao seperti tertidur biasa.


"Ini ... Raja Yi—"


"Aku akan membawanya kembali. Terima kasih atas waktunya," sela Gu Yihao tidak mau berlama-lama di sini lagi. Dia membopong gadis itu meninggalkan halaman.

__ADS_1


Nyonya Pei mengantarnya menuju halaman depan hingga kereta kuda Raja Yi menjauh dari sekitar rumahnya. Dia menghela napas dan kemungkinan besar Qing Mao mengalami sedikit kejutan hingga pingsan?


Setidaknya itulah yang bisa menjadi alasannya saat ini. Selebihnya lagi dia kurang tahu apa yang terjadi dengan gadis itu. Tapi, mengingat jika Gu Yihao berkata akan segera menikah ... Nyonya Pei merasa samar-samar jika keduanya adalah jodoh yang ditakdirkan.


"Aku berharap semuanya akan baik-baik saja," gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gu Yihao membawa Qing Mao yang pingsan ke rumahnya. Tubuh gadis itu sedikit dingin dan dia sangat khawatir terjadi sesuatu padanya. Jadi ketika dia kembali, Hyou sudah menunggunya dengan kebingungan.


Laki-laki berpakaian putih itu juga tidak tahu apa yang menimpa Qing Mao hingga membuatnya pingsan seperti ini. Namun yang pasti, Hyou tidak tenang. Apalagi Gu Yihao.


Gadis itu dibaringkan di atas kasur dengan hati-hati. Gu Yihao memperhatikannya dengan lembut dan menoleh pada Hyou yang menyipitkan matanya tanpa bicara.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Gu Yihao.


Hyou ingin mengatakan sesuatu, tapi kebingungan. Dia akhirnya hanya berkata, "Mungkin karena efek perpindahannya ke dunia ini," katanya hampir bergumam.


"Apa maksudmu?" tanya pria itu dengan wajah menggelap. Apakah ada hal lain yang disembunyikannya?


Bukankah Qing Mao ada di dunia ini sejak lahir? Kenapa itu pindah pada akhirnya?


Hyou tidak mengatakan apa-apa pada akhirnya dan menggelengkan kepala. Namun melihat sorot mata Gu Yihao yang membuat tubuhnya kaku, dia hanya mengucapkan beberapa patah kata.


"Lupakan saja. Ini tidak lagi penting sekarang." Hyou berbalik dan hendak keluarga kamar untuk merenungkan sesuatu, namun langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti.


Kedua kakinya tiba-tiba menjadi sulit digerakkan seolah-olah dia telah ditanam ditempat. Hyou merasakan sedikit ancaman dari belakang dan mau tidak mau menoleh dengan enggan. Dia bisa merasakan samar-samar jika cahaya merah keluar dari cincin batu giok merah yang dipakai pria itu.

__ADS_1


Hyou terkejut. Dia tidak tahu jika Gu Yihao masih mampu mengendalikan kekuatan dari cincin tersebut. Para pemilik cincin artefak sebenarnya memiliki kekuatan masing-masing. Yang paling menyusahkan adalah cincin batu giok merah. Tapi yang paling tidak enak dipandang masih cincin batu giok hitam yang kini berada di tangan Gu Wei.


"Kamu ..." Hyou sedikit membelalakkan matanya. Bagaimana ini mungkin? Hanya Qing Mao yang bisa mengendalikan cincin batu giok hijau itu sendiri tapi Gu Yihao ini ....


"Katakan sesuatu," katanya.


"Apa?" Hyou masih tidak ingin mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Tentang Qing Mao selama tiga tahun terakhir," jawab Gu Yihao dingin.


"Bukan apa-apa," kata Hyou dengan wajah menggelap. Bagaimana pun juga dia tak bisa menceritakan masalah ini pada Gu Yihao karena ... ini belum waktunya.


Namun menghadapi tekanan luar bisa dari pria itu, dia kewalahan. Benar-benar layak menjadi penguasa benua Quentian di masa lalu. Melihat tatapannya yang setajam elang, Hyou merasa keringat dingin mulai muncul di kedua telapak tangannya.


"Hyou, sepertinya kamu lebih baik dariku dalam segala hal. Bahkan jika kamu adalah penjaga cincin batu giok hijau, kamu masih belum mampu untuk menandingiku. Baik di zaman ini maupun di masa lalu," jelas Gu Yihao memperingatkan jika dirinya lebih mampu daripada Hyou.


Jika di masa lalu dia kalah dari Gu Wei, maka kali ini dia tak akan mengalaminya lagi. Dia sama sekali tidak ingin kalah lagi. Namun di sisi lain, Gu Yihao ingin tahu segalanya lebih dulu agar mudah membuat rencana jangka panjang di masa depan.


Keduanya bertengkar di tempat namun Qing Mao yang masih pingsan sama sekali tidak mengetahui apapun.


Gadis itu sepertinya sedang bermimpi panjang, dibawa ke tempat yang begitu jauh dan kuno. Ada banyak binatang buas spiritual, orang-orang dengan kemampuan luar biasa. Dia tahu itu merupakan kemampuan para kultivator.


Dalam mimpi panjang itu, Qing Mao melihat seseorang wanita yang mirip dirinya sendiri, lalu ada juga Gu Yihao. Keduanya memiliki nama yang sama tapi sifatnya agak berbeda. Gu Yihao dalam dunia mimpinya ini terlihat agung dan luar biasa. Pakaiannya tidak berlebihan tapi jelas kain pakaian itu sangat mahal. Belum jahitan sutera emas yang mewah.


Ketika Qing Mao ingin pergi ke satu sisi, tubuhnya jelas tidak bisa dikendalikan. Dia mungkin hanya jiwa dalam mimpi ini atau hanya fragmen yang lambat laun akan segera menghilang.


Namun satu hal yang pasti, Qing Mao merasa semua ini seolah-olah pernah dialaminya. Berkali-kali hingga akhirnya tragis semua. Dia dan Gu Yihao pada akhirnya mati lagi dan lagi. Semua itu disebabkan oleh Gu Wei yang selalu ingin memisahkan hubungan keduanya.

__ADS_1


Mungkinkah dia sebenarnya adalah Qing Mao yang hidup pada zaman kultivator masih berjaya? Dia adalah Qing Mao? Apakah ini benar?


__ADS_2