Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Selalu Terlihat Familiar


__ADS_3

"DIA SEDANG membersihkan diri. Kamu minum obatmu dulu. Dia sangat khawatir saat tahu kamu demam. Ayo, bangun dulu," kata Gu Yihao seraya membantunya untuk bersandar di kepala ranjang.


Qing Mao bangun perlahan dan bersandar pada tumpukan bantal yang disusun Gu Yihao di kepala ranjang. Lalu memberinya air minum lebih dulu sebelum akhirnya memberikan semangkuk obat cair yang baunya agak tajam, rasanya pasti pahit.


Wajah gadis itu segera menunjukkan ekspresi penolakan. Dia tidak suka obat cair meski di zaman modern, ia juga tahu sedikit tentang obat-obatan tradisional. Tapi di resimen bayaran kuno, ia tak pernah mengonsumsi hal-hal seperti ini.


"Jangan bercanda denganku," ujarnya.


"Hyou memintamu untuk meminumnya. Ini obat herbal dari berbagai tumbuhan obat yang cukup langka. Jangan menyia-nyiakan obat. Ayo, minum. Kamu bisa makan manisan setelah ini. Lihatlah itu," kata Gu Yihao seraya menunjuk sepiring manisan.


Melihat manisan buah yang ada di mangkuk, dia tiba-tiba saja sedikit tergoda. Sial! Apakah Hyou sengaja membuatnya untuk bisa dibujuk agar minum obat pahit tersebut? Dia menggertakkan giginya dan bertaruh dengan nasib.


“Apakah tidak ada obat alternatif lainnya? Haruskah minum ini?” tanyanya ragu.


“Tentu saja aku tahu kamu tidak mau minum. Tapi obat seperti ini lebih aman untuk tubuhmu. Minum dengan cepat agar obatnya tidak cepat dingin, lalu makan manisan.”


Membujuk seorang gadis yang baru saja berkembang di tahap remaja itu sulit. Qing Mao tak berbeda jauh. Namun Gu Yihao tidak tahu jika bukan itu alasan kenapa Qing Mao enggan mau minum obat tradisional.


Qing Mao menatap mangkuk obat berisi obat cair tersebut dan memiliki pikiran yang tidak menyenangkan. Meski begitu, dia masih memegang mangkik obat dan mengembuskan napas panjang. Menatap Gu Yihao sejenak, pria itu hanya bisa membujuknya untuk minum obat. Qing Mao langsung meneguknya dengan cepat, keningnya berkerut tidak suka dan langsung menunjukkan ekspresi pahit.


Gu Yihao langsung memberikan air minum padanya serta menyodorkan manisan buah. Akhirnya ia bisa lebih tenang karena menurut Hyou, obatnya akan bekerja setelah beberapa jam ke depan.


"Istirahatlah kembali sampai benar-benar pulih," ujarnya.


"Apakah kamu tahu apa yang terjadi padaku sebelumnya?" Gadis itu bertanya.


"Tidak banyak. Tapi Hyou mungkin tahu. Dia bahkan tidak memberi tahuku," jawab Gu Yihao.

__ADS_1


Qing Mao terlihat berpikir cukup lama. Terutama tentang mimpi-mimpi itu, selalu berulang dan tak beraturan. Kadang dirinya benar-benar merasa sedih, kecewa bahkan marah tanpa alasan. Ia selalu ingin tahu apa arti dari semua mimpi-mimpinya itu.


"Apa yang kamu pikirkan?" Pria itu tiba-tiba djsa bertanya saat melihatnya agak linglung.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa ini terlalu manis," jawabnya seraya meletakkan mangkuk berisi manisan itu di meja nakas. "Kamu telah menjagaku selama beberapa hari terakhir. Sebaiknya pulang dan istirahat. Hyou sudah kembali, aku merasa lebih baik."


Gadis itu segera mengambil posisi berbaring memunggunginya. Baru saja minum obat sehingga dia harus kembali beristirahat. Mungkin nanti akan mengeluarkan keringat.


"Kamu mengusirku begitu cepat," gumam Gu Yihao tidak berdaya. Dia bangkit dan berniat untuk meninggalkan ruangan, tapi tiba-tiba saja jantungnya terasa diremas sesuatu.


Gu Yihao tidak mengatakan apapun. Dia hanya terkejut hingga tidak bisa melangkah lebih jauh dan hanya memuntahkan darah segar. Qing Mao merasa ada yang salah dengan suara pria itu dan segera berbalik. Ia hampir saja berseru ketika melihat Gu Yihao sudah pucat pasi dan terhuyung ke belakang.


"Gu Yihao, apa yang terjadi denganmu?" tanya gadis itu segera bangkit meski tubuhnya masih agak lemah. Ia membantu pria itu untuk mengambil duduk kembali dan memperhatikan apa yang salah. "Apakah kamu mengeluarkan tenaga dalam terlalu banyak hari ini?"


Pria itu menggeleng, masih menyentuh sekitar dada kirinya yang sakit. Tapi kali ini tidak terlalu ekstrem seperti sebelumnya. Entah apa yang terjadi, saat Qing Mao menyentuhnya saja, rasa sejuk segera mengalir di tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata. Apakah ada sesuatu di tubuh gadis itu yang membuat rasa sakitnya mereda? Pikirnya.


Cincin batu giok merah yang dipakai Gu Yihao mengeluarkan cahaya merah samar. Namun Qing Mao tidak menyadari semua itu dan hanya memperhatikan apa yang salah dengan Gu Yihao.


"Sebaiknya kamu istirahat di kamar sebelah," kata Qing Mao hanya bisa memberinya sedikit kelonggaran. Mengusirnya terlalu cepat mungkin tidak sopan.


Alih-alih pergi, Gu Yihao justru menatap Qing Mao cukup lama. Gadis itu merasa canggung saat diperhatikan olehnya. Ia hanya bisa menunduk dan berniat kembali untuk berbaring.


"Qing Mao," ujar pria itu.


Gadis itu menoleh seraya menunjukkan ekspresi datar. "Ya?"


"Kenapa kamu begitu familiar bagiku? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Di kehidupan sebelumnya?" tanya Gu Yihao tanpa menyadarinya. Cincin batu giok merah di jari manis tangan kirinya masih mengeluarkan cahaya merah samar.

__ADS_1


"..." Apa yang pria itu maksud? Qing Mao merasa bahwa pertanyaan Gu Yihao sangatlah aneh.


Jelas tidak mungkin. Qing Mao berasal dari zaman modern dan Gu Yihao ada di zaman kuno. Ia tidak pernah melihat pria itu di zamannya. Atau berpapasan saja tidak pernah. Ia juga tidak pernah mendapatkan misi untuk membunuh pria yang mirip dengannya. Bukankah aneh jika tiba-tiba bertanya demikian?


Ia menggelengkan kepalanya, terlihat polos dan tak tahu apa-apa. Sungguh tidak mungkin, pikirnya.


Qing Mao sendiri selalu merasa jika gadis yang mirip dengannya di zaman ini mungkin sudah meninggal. Lalu dia menggantikannya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Gu Yihao?


Suasana mendadak sunyi dan canggung sebelum akhirnya Hyou kembali dan mendengar sedikit apa yang mereka bicarakan. Laki-laki itu agak pucat lalu segera membuka pintu dengan bunyi yang cukup keras agar percakapan di dalam tidak berlangsung lagi.


"Tuan, apakah kamu sudah meminum obatnya?" tanya Hyou tiba-tiba.


"Oh ..." Qing Mao agak linglung dan mengangguk. Ia melirik Gu Yihao sebentar sebelum akhirnya hanya bersandar di kepala ranjang seraya menaikkan selimut hingga sepinggang. "Aku sudah meminumnya. Ke mana kamu pergi selama beberapa hari terakhir? Kenapa begitu lama? Apakah ini terkait dengan rasa sakit di tubuhku yang datang tiba-tiba?" tanyanya.


"..." Hyou menghela napas dan mengangguk sedikit. Sayangnya dia belum bisa memberitahukan segalanya.


"Gu Yihao baru saja mengalami hal serupa denganku. Kamu periksa dia," kata Qing Mao merasa tidak tegaan.


"Apa?? Dia juga?" Hyou langsung berwajah gelap.


Gu Yihao segera mengelaknya. "Tidak apa-apa. Ini bukan masalah serius. Hanya—"


"Ikut denganku sekarang. Jangan menyepelekannya. Aku akan memeriksamu lebih dulu sebelum memastikannya!" Hyou menatap Gu Yihao dengan tatapan serius sebelum akhirnya pergi ke kamar tamu.


Gu Yihao segera mengikuti langkahnya dan menutup pintu kamar dengan hati-hati. Keduanya berada di kamar tamu yang tak terlalu jauh dari keberadaan kamar Qing Mao. Hyou memintanya duduk. Laki-laki itu segera menyentuh dahi Gu Yihao dengan dua jari tangan kirinya.


"Apakah ada sesuatu yang kamu rasakan atau gambaran ketika rasa sakit di dadamu muncul?" tanya Hyou sedikit menebak.

__ADS_1


__ADS_2