Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Akhirnya Menikah


__ADS_3

GU YIHAO datang memberikan hadiah pertunangan, sepertinya tidak ada dalam adegan kehidupan sebelumnya.


"Pada saat Mao'er datang dan raja berkata akan menikahi Nu Qingge saat itu, Mao'er melarikan diri sambil menangis. Raja melontarkan banyak kata-kata yang menyakitkan sebelumnya, sungguh tidak bersungguh-sungguh," jelasnya.


Akhirnya Qing Mao ingat. Ternyata dia kembali ke masa di mana Gu Yihao mempermalukannya di depan umum dan berkata akan menikahi Nu Qingge.


Dia kembali ke rumah dan mengurung diri setelahnya.


Tapi ketika bangun tidur, adegannya berubah. Gu Yihao tidak duduk di kursi roda lagi, An Daiyu belum menikah, Dong Mei dan Fan Chen justru menjadi pelayannya.


Tidak ada cibiran atau omongan yang mempermalukannya. Semuanya tampak nyaman dan damai.


Apakah ini adegan yang diinginkan Hyou untuk membuatnya tetap bahagia selama sisa hidupnya?


Tiba-tiba saja Qing Mao memiliki mata merah hingga Gu Yihao berpikir jika gadis itu akan menangis lagi. Pria itu berjalan mendekat dan menepuk kepalanya.


"Jangan menangis. Sebelum musim dingin tiba, kita akan menikah, ya?" Gu Yihao menenangkannya.


"Hao ... Hao Hao," panggil Qing Mao sedikit tercekat.


"Ada apa?"


"Apakah kamu lupa semuanya?" tanya gadis itu.


Yang dia maksud tentu saja tentang saat terakhir di mana Gu Wei dikalahkan, lalu keduanya hanya berada di dalam cahaya putih yang tidak tahu kapan akan melihat dunia luar.


Gu Yihao tersenyum dan memeluknya. "Tentu saja raja ini ingat, bagaimana mungkin raja melupakan segalanya tentang Mao'er yang pernah hidup di zaman modern," bisiknya.


Mendengar hal ini, Qing Mao memeluknya dan tersenyum senang. Ternyata bukan dirinya saja yang memiliki ingatan sebelumnya, tapi Gu Yihao juga.


Adapun Gu Yihao, dia tidak banyak bicara. Meski tidak tahu bagaimana bisa kembali ke adegan di mana dirinya menolak Qing Mao dan berjanji pada Nu Qingge, hanya ada satu hal yang harus diperbaiki. Dia harus mengubah jalan di depannya agar tidak kehilangan gadis itu lagi.


"Mao'er, raja ini meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya. Raja ini berjanji tidak akan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatimu lagi," bisik Gu Yihao.

__ADS_1


"Hmm." Qing Mao hanya meredam suaranya di pelukan pria itu. Tiba-tiba saja dia langsung mendongak, "lalu bagaimana dengan Han Baimo?"


"Dia?" Gu Yihao menaikkan sebelah alisnya kemudian mendengkus. "Tidak tahu apa yang terjadi, dia tiba-tiba saja menjadi penasihat kekaisaran dan kini sedang bermain catur dengan ayah kaisar."


"Dia menjadi warga kenegaraan Quentian?"


"Ya."


"Lalu kakimu ...."


"Tidak apa-apa. Sudah bisa berdiri sejak raja ini terbangun. Ada banyak hal yang berubah saat ini ...."


Gu Yihao menceritakan apa saja yang terjadi di istana setelah dia bangun dan mendapatkan informasi. Untung saja An Daiyu sudah pergi dengan Fan Chen untuk minum teh jadi Gu Yihao tidak memiliki keraguan untuk memberi tahu Qing Mao secara singkat.


Ternyata, tidak ada Selir Kehormatan Yi di istana. Kaisar Gu berkata tidak pernah memiliki selir atas nama tersebut. Dengan kata lain, maka Putri Yu Yang dan Gu Wenlian juga tidak pernah dilahirkan.


Meski agak membingungkan, tampaknya dunia telah banyak mengalami perubahan.


Keluarga Nu dipastikan akan hancur di masa depan.


"Ternyata banyak sekali yang berubah," gumam gadis itu.


"Benar. Jadi Mao'er, mari menjalani hidup yang bahagia di masa depan."


"Oke!" Qing Mao juga senang. Tapi dia merindukan Hyou saat ini.


Gu Yihao tahu kesedihannya yang lain. Tapi semuanya sudah ditakdirkan. Tidak ada lagi cincin batu giok hijau atau batu giok merah. An Daiyu juga tidak memiliki cincin batu giok putih.


Keduanya pun tertawa dan saling bercanda satu sama lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari sebelum musim dingin tiba, pernikahan besar digelar di kediaman keluarga Qing. Karena Qing Mao tidak memiliki wali, maka Kaisar Gu mengatur segalanya. Lagi pula, ini adalah pernikahan putra kesayangannya—Gu Yihao.

__ADS_1


Semuanya begitu semarak, menjadi perbincangan hangat di kalangan rakyat dari segala golongan.


Ketika Qing Mao tiba di Istana Raja Yi, Gu Yihao menyambutnya dengan tenang. Semua tamu undangan juga menjadi saksi atas kedatangan Qing Mao ke Istana Raja Yi. Kini, statusnya akan menjadi Putri Yi.


Setelah melakukan proses pernikahan yang panjang, Qing Mao dikirim ke kamar pengantin. Gu Yihao harus menemani para tamu terlebih dahulu saat ini.


Pada saat malam tiba, Gu Yihao kembali dengan wajah sedikit memerah. Anggur sedikit tercium di tubuhnya. Dia mungkin minum cukup banyak.


"Mao'er," panggilnya.


Qing Mao yang kini sedang makan buah-buahan untuk mengganjal rasa laparnya, tiba-tiba saja melihat ke arah pintu.


"Apakah kamu mabuk?"


"Hanya minum beberapa cangkir," jawab pria itu seraya mendekat ke arahnya.


Karena Qing Mao berjalan mendekat untuk memastikan pria itu baik-baik saja, Gu Yihao justru menariknya.


Qing Mao merasa pusing untuk sesaat hingga akhirnya dia menyadari jika saat ini Gu Yihao menekannya di tempat tidur.


"Hao Hao?" Dia terkejut.


"Mao'er, ini malam pernikahan kita," bisik Gu Yihao, mengembuskan napas panas di leher gadis itu.


Gadis itu memerah lagi. Meski jiwanya telah menjadi seorang wanita di zaman modern dengan segala jenis rayuan, tapi dia tahu bahwa godaan fatalnya saat ini adalah Gu Yihao.


"Aku tahu, rajaku," katanya sambil melingkarkan kedua tangan di leher pria itu.


Pada saat itulah, Gu Yihao tidak ragu lagi untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya malam ini.


Tanpa sadar, Dong Mei, Fan Chen, Xu Ran dan Xu Ren sedikit mendengarkan apa yang terjadi di ruangan tersebut. Mereka diam-diam malu dan memerah, terutama Dong Mei.


Ya Tuhan, ternyata raja cukup tidak sabaran hingga putri kami menangis dan memohon untuk lebih lembut, batin Dong Mei.

__ADS_1


__ADS_2