Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Saling Merindukan Satu Sama Lain


__ADS_3

QING MAO MELIHAT jika Gu Yihao mulai kehilangan kesabaran hingga urat di punggung tangannya terlihat. Dia menghela napas dan menepuk pundaknya dengan penuh rasa kasihan.


"Kita bicarakan perlahan nanti. Dia sudah tahu jika aku telah memulihkan ingatan," katanya.


Gu Yihao mengembuskan napas tak berdaya dan ketidakpuasannya belum hilang. Dia menatap Qing Mao, tatapannya masih panas.


"Bicarakan di tempat tidur. Tubuh lebih jujur dari pada kata-katamu." Gu Yihao mendengus.


"..." Pria mesum itu! Qing Mao berteriak di dalam hatinya.


"Apakah kamu belum makan malam sebelumnya?" tanyanya.


"Aku sudah makan malam tapi hanya sedikit. Hyou seharusnya membuat makan malam lagi kali ini agar aku tidak lapar di tengah malam nanti," jawab Qing Mao.


Sebelum pergi ke Istana Kekaisaran, dia sudah makan malam.


Keduanya keluar kamar dan pergi ke ruang makan. Gu Yihao masih memasang ekspresi tidak senang terutama saat melihat Hyou yang menyajikan hidangan di meja makan.


Hyou masih terlihat biasa saja, ekspresi datar dan puas hati. Dipastikan jika Gu Yihao kesal saat ini dan gadis itu tidak mau ambil pusing dengan pikirannya. Toh sekarang keduanya telah saling mengetahui identitas masing-masing.


Selama makan malam, tidak ada pembicaraan khusus. Qing Mao juga tidak terlalu suka mengambil topik serius saat makan karena akan memengaruhi mood-nya.


Setelah makan malam, Qing Mao dan Gu Yihao berbicara di kamar. Hyou juga berpartisipasi dalam pembicaraan kali ini karena objeknya masih tentang Gu Wei.


Qing Mao mengeluarkan sebuah buku usang dari ruang cincin batu giok hijau. "Kaisar memberikan ini padaku dan bercerita tentang Gu Wei."


Sebuah buku usang tentang pembuatan artefak cincin batu giok. Gu Yihao terkejut saat melihatnya karena selama hidup di zaman kultivator, dia belum pernah melihat si pembuat cincin.


Tanpa diduga, buku tentang empat cincin artefak itu ternyata ada.


"Kaisar sepertinya menyimpan banyak hal," kata Hyou juga serius.


"Faktanya, ayah kaisar tidak sesederhana di permukaan. Meskipun begitu, dia juga terpaksa mengambil beberapa jalan untuk memotong bencana di masa depan. Bahkan ... jika itu harus mengorbankan orang-orang kepercayaannya." Gu Yihao menjelaskan. Dia menatap Qing Mao.


Keluarga Qing juga merupakan salah satu kepercayaan istana kekaisaran sejak lama tapi terpaksa dituduh sebagai pemberontak oleh kaisar. Mau tidak mau semua keturunan akhirnya dieksekusi.

__ADS_1


Keluarga Qing hanya menyisakan Qing Mao saat ini. Bukankah itu ironis?


Qing Mao sepertinya tahu jika keduanya menatap dirinya saat ini dan langsung menggelengkan kepala.


"Aku adalah wanita kultivator dan tidak ada hubungannya dengan keluarga Qing saat ini. Sepertinya, mendiang pensiunan kaisar sudah tahu tentang aku."


"Memang, seharusnya begitu." Hyou juga mengangguk.


Gu Yihao membaca isi buku usang tersebut dan hanya bisa menghela napas. "Tampaknya tidak ada cara lain selain menghancurkan cincin batu giok hitam," katanya.


"Ini sama seperti yang dikatakan Han Baimo." Qing Mao juga setuju.


Gu Yihao menatap Qing Mao cukup lama dan akhirnya berkata, "Apakah Han Baimo tahu bahwa kamu mengembalikan ingatan?" tanyanya agak dalam.


"... Ya." Qing Mao mengangguk. Dia tidak berani menatap langsung padanya.


Tiba-tiba saja Gu Yihao terkekeh dan masih memiliki jejak kemarahan di hatinya. Qing Mao tidak tahu apa yang salah lagi pula Han Baimo tahu dengan sendirinya. Ini bukan salahnya.


Gu Yihao juga tahu ini tidak ada hubungannya dengan gadis ini. Han Baimo memang mampu mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain. Tapi kini bahkan menyembunyikan tentang ingatan Qing Mao yang pulih darinya.


Di sisi lain, Han Baimo mungkin bersin beberapa kali dan merasa merinding tiba-tiba.


Hyou hanya mengucapkan beberapa patah kata sebelum akhirnya meninggalkan ruang untuk keduanya. Kali ini Qing Mao dan Gu Yihao sama-sama sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya perlu mengurus sisanya.


Kepergian Hyou membuat Gu Yihao langsung menutup buku usang dan menyerahkannya pada gadis itu.


"Mao'er, masalah Gu Wei, serahkan padaku. Aku tidak ingin kamu mengalami kecelakaan seperti beberapa kehidupan sebelumnya," kata Gu Yihao lembut.


"Kali ini kita harus bekerja sama. Hao Hao, tolong jangan egois lagi. Jika kamu mati maka aku akan menyusulmu. Selama Gu Wei dilenyapkan dan bahkan jika harus mengorbankan nyawa, kita harus dilahirkan kembali untuk hidup bahagia selamanya," bisik Qing Mao menjadi lebih emosional.


Dia dan Gu Yihao adalah pasangan sejati seumur hidup dan harus menderita banyak keluhan selama beberapa kehidupan.


Pria itu segera memeluk dan menciumnya. Aroma tubuh gadis ini sangat familiar baginya. Tak pernah berubah.


"Mao'er, maafkan aku karena tidak menyadari semuanya sejak awal. Mungkin ... jika aku tahu sejak awal bahwa kita pernah lahir dan besar di beberapa kehidupan, Nu Qingge tidak akan terlibat dalam pertunanganku."

__ADS_1


Gu Yihao masih merasa bersalah atas cinta gadis ini tahun itu dan mencampakkan semua kasih sayang dan perhatiannya. Justru Nu Qingge yang dia jadikan tunangan malah berguling-guling dengan putra mahkota di tempat tidur.


Ditambah kakinya yang cacat waktu itu, Gu Yihao merasa menjadi orang tidak berdaya.


Hanya gadis ini yang datang terlepas dari segalanya. Akhirnya Gu Yihao menyadari semuanya sebelum terlambat dan mendapatkan ingatan di semua kehidupan pertamanya.


"Hao Hao ... Aku sangat merindukanmu." Qing Mao akhirnya menangis dan memeluk pria itu. Dia tidak lagi berpura-pura di depannya.


"Jangan menangis," bisik pria itu. "Kita akan selalu bersama kali ini. Tidak akan berpisah lagi," imbuhnya.


Gadis itu mengangguk. Ya, tidak akan berpisah. Keduanya mungkin sudah ditakdirkan untuk jatuh cinta di zaman ini. Meski Qing Mao telah hidup di zaman modern, dia akhirnya bisa menyadari jika asal-usul nya tetaplah dari zaman kuno.


Gu Yihao mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu dan mencium bibirnya dengan lembut.


Keduanya merasa seperti kembali ke masa pertama kehidupan, jatuh cinta dan saling merindukan.


Gu Yihao mampu membuat Qing Mao selalu nyaman di setiap kesempatan dan gadis itu akhirnya tidak menolak saat Gu Yihao mulai melepaskan gaunnya perlahan.


Ciuman itu akhirnya jatuh ke leher dan terus meluncur ke bawah hingga Qing Mao tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan erangan samar seperti kucing kecil.


Api di perut Gu Yihao semakin besar dan akhirnya pria itu menekan Qing Mao di tempat tidur. Hanya lampu tidur yang menyala saat ini dan gadis itu menceritakan sedikit tentang hidupnya di zaman modern.


Di mana pun Qing Mao hidup sebelumnya, Gu Yihao tidak peduli. Sekarang gadis itu ada di sisinya saja sudah merupakan kebahagiaan. Dia tidak menginginkan yang lain.


Kulit putih Qing Mao begitu lembut saat Gu Yihao menyentuhnya. Hatinya gatal dan dia tak ingin melewatkan malam ini.


Di bawah cahaya redup di tempat tidur, keduanya saling menempel tanpa pakaian dan Hyou tak akan mengganggu keduanya saat ini. Percayalah jika laki-laki itu datang menghancurkan perbuatan baik Gu Yihao, besok tidak akan ada hari yang baik.


"Mao'er," bisik pria itu.


"Ya." Qing Mao memerah di wajahnya dan dia berada di pelukan pria itu saat ini.


Dia menolak Gu Yihao dan untungnya pria itu bergerak lembut sepanjang malam, berlama-lama sambil mengenang masa lalu. Qing Mao tidak menahan suaranya yang mulai menjadi serak.


Bayangan di tempat tidur sangat ambigu ....

__ADS_1


__ADS_2