
"MARI KITA menikah dan tinggal di sini setelah membunuh Gu Wei," bisik pria itu.
Qing Mao menatapnya cukup lama. Keduanya saling menatap, meluapkan emosi masing-masing. Sampai akhirnya, Gu Yihao tidak sabar dan mencium bibir gadis itu, sangat bergairah.
Gadis ini adalah hidupnya. Di setiap kehidupan, Qing Mao adalah miliknya. Bahkan jika dunia ini hancur dan kembali bereinkarnasi di dunia lain, Qing Mao tetap menjadi takdirnya.
Gu Yihao akui jika pikirannya terlalu kuno. Tapi dia sudah cinta mati dengan gadis ini.
Setelah berciuman, keduanya duduk sambil memikirkan rencana selanjutnya untuk mengurus masalah Gu Wei yang merasuki tubuh Gu Wenlian.
"Apakah sudah ada tanda-tanda?" tanya gadis itu.
"Belum. Tapi menurut Baimo, Gu Wei akan memulai aksinya saat gerhana matahari muncul," jawab Gu Yihao lembut. "Pada saat itu, dia benar-benar akan mencoba untuk menguasai dunia. Tentu saja kita berdua tidak akan lolos dari bencana." Dia memeluk gadis itu.
"Hao Hao ...."
"Mao'er, apapun yang terjadi, kita akan hidup dan mati bersama. Entah itu di zaman modern atau di zaman kuno, kita ditakdirkan untuk menjadi pasangan selamanya."
Mendengarkan apa yang dikatakan Gu Yihao, gadis itu merasa hatinya bergetar. Kali ini, dia dan Gu Yihao harus bisa hidup dengan baik. Setelah melenyapkan Gu Wei, kehidupan mereka akan kembali tenang.
Tidak perlu bereinkarnasi lagi dan lagi untuk memulai kehidupan, Qing Mao hanya ingin dia dan Gu Yihao memiliki kehidupan layaknya pasangan lain. Memiliki anak, menjadi tua dan kematian karena usia.
Kehidupan seperti ini ... merupakan idaman banyak pasangan.
"Kapan gerhana matahari muncul?"
"Menurut ramalan Baimo, setidaknya bulan depan. Pada saat itu, Gu Wei kemungkinan besar akan muncul dengan sejumlah pasukan mayat hidup. Negara Quentian tidak akan damai kali ini. Ayah kaisar sudah menyiapkan pasukan khusus untuk menyambut masalah ini."
"Kaisar tahu?"
__ADS_1
Gu Yihao mengangguk. "Bagaimana pun juga, kakek dulu memiliki banyak rahasia tentang kelahiran kita berdua. Lalu diamanatkan pada ayah kaisar. Setelah itu, tergantung pada kita di masa depan," jelasnya. "Yang pasti, raja ini pasti tidak akan membiarkan Gu Wei berhasil."
Setelah berkultivasi selama setengah tahun, Gu Yihao setidaknya mengembalikan setengah dari kekuatan spiritual. Meski tidak sekuat saat berada di zaman kultivator, setidaknya cukup untuk menghabisi Gu Wei.
Adapun Qing Mao, dulunya merupakan seorang kultivator berbakat. Tapi Gu Yihao tidak membiarkannya berlatih terlalu keras. Dia khawatir akan memengaruhi tubuhnya di kemudian hari.
* * *
Keesokan paginya, Gu Yihao yang menginap di rumah Qing Mao pun bangun lebih awal. Dia pergi ke dapur dan membuat sarapan yang pernah disukai gadis itu di masa lalu. Setidaknya, dia ingin mengenang masa indah kehidupan pertama mereka.
Kali ini, Qing Mao bangun sedikit telat dari biasanya. Setelah membersihkan diri, gadis itu mencium aroma makanan yang harum di ruang makan. Ketika mengeceknya, sosok jangkung Gu Yihao terlihat meletakkan piring berisi tumis sayur hijau kesukaannya.
“Kamu memasak?” tanyanya heran.
“Tidak bisakah raja ini memasak?”
“... Bukan tidak boleh, hanya saja, kamu sangat jarang memasuki dapur di masa lalu. Kamu pasti akan bilang, ‘jubahku akan kotor.’” Qing Mao memutar bola matanya dan teringat di kehidupan masa lalu. Gu Yihao mencintai kebersihan pakaiannya.
Pria itu akhirnya terbatuk kecil dan sedikit malu saat kelakuan di masa lalunya terekspos. Tapi dai juga tidak mempermalukan Qing Mao.
“Baiklah, Mao’er selalu memiliki ingatan yang baik.” Gu Yihao memilih untuk berpura-pura kalah dalam argumen pagi ini.
Setelah sarapan, Gu Yihao pergi ke istana kekaisaran untuk melakukan pertemuan pengadilan. Semenjak Gu Wenlian menghilang, istana tidak terlalu damai tapi juga tidak terlalu terang-terangan.
Adapun Qing Mao, dia mendapatkan pesan dari Putri Lailan juga permaisuri sudah mengetahui tentang kehamilannya dan memanggil An Daiyu ke istana. Pagi ini Putri Lailan panik karena khawatir ibunya akan menyalahkan An Daiyu.
Kaisar Gu juga mengetahuinya diam-diam. An Daiyu adalah seorang pebisnis dan memiliki banyak koneksi untuk pelelangan. Tentu saja saat tahu Putri Lailan telah hamil lebih dulu, Kaisar Gu terkejut untuk waktu yang cukup lama. Namun pada akhirnya dia juga segera memanggil An Daiyu ke istana untuk mendiskusikan pernikahan.
Dengan adanya An Daiyu sebagai menantu, perekonomian negara pasti akan lebih terbantu. Otak cerdas An Daiyu sebagai pemilik gedung pelelangan bunga persik pun sangat penting bagi kaisar.
__ADS_1
Jika An Daiyu tahu apa yang sedang dipikirkan kaisar, mungkin akan muntah darah di tempat. Ketakutannya pada kemarahan Kaisar Gu dan Permaisuri Xue ternyata sia-sia.
Ketika An Daiyu mendapatkan dua pelayan yang berbeda dari istana kekaisaran datang ke pintu rumahnya, hatinya panik. Permaisuri Xue dan Kaisar Gu mengundangnya secara bersamaan tapi tempatnya berbeda. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Pada akhirnya, An Daiyu akan menemui Kaisar Gu lebih dulu lalu berencana memenuhi panggilan permaisuri.
Tapi sebelum itu ….
An Daiyu langsung pergi ke kediaman Qing Mao untuk meminta bantuannya.
Ketika Qing Mao yang berniat untuk memasuki ruang artefak cincin batu giok hijau melihat An Daiyu datang ke pintu, suasana hatinya sedikit tidak baik. Pria besar yang tampan ini terlihat bagus dalam penampilan. Seperti aktor zaman modern yang digilai banyak wanita. Sayangnya, keberaniannya tidak terlalu besar dalam menghadapi masa depan cinta.
“Kakak Ipar, aku mohon tolong temani aku ke istana sekarang. Jadilah perantara di antara kami. Bagaimana jika kaisar dan permaisuri memenjarankanku atau mengurung Lailan setelah mengetahui kebodohanku yang telah menghamilinya.” An Daiyu telah berada di ambang pintu dengan ekspresi menyedihkan.
“...” Qing Mao cemberut dan ingin menutup pintu, namun ratapan An Daiyu semakin menyedihkan dan tidak rela.
“Kakak Ipar, kamu harus membantuku. Sungguh! Kaisar dan permaisuri mengirim panggilan secara bersamaan. Aku benar-benar tidak tahu harus menghadapinya bagaimana,” kata An Daiyu lagi.
“Kamu laki-laki dan kamu harusnya lebih berani. Kenapa membutuhkan bantuanku. Yakinlah, mereka tidak akan marah.” Qing Mao menghela napas dan ingin menendangnya. Sepertinya Gu Yihao tidak mengatakan apapun padanya tentang kejadian kemarin.
“Bagaimana kamu tahu?”
“Aku sudah bicara dengan keduanya kemarin.” Qing Mao menjawabnya dengan polos.
“...” An Daiyu terdiam cukup lama hingga tidak menyadari jika Qing Mao sudah menutup pintu dan menguncinya.
Pada saat itulah An Daiyu tahu jika dirinya melamun.
“Kakak Ipar, kamu tidak bisa melakukan ini padaku!” An Daiyu berteriak sambil menggedor pintu berdaun dua itu. Tapi Qing Mao tidak merespon sama sekali.
__ADS_1
Akhirnya, An Daiyu pergi ke istana seorang diri ….