
GU YIHAO tidak langsung menjawab. Dia hanya memperhatikan sekitar dan rasanya tidak pantas untuk bicara di depan para menteri yang bertugas saat ini. Sehingga dia ingin bicara empat mata dengan Kaisar Gu. Ham tersebut segera disetujui oleh kaisar sendiri dan keduanya pergi menuju ruang belajar.
Di dalamnya, Kaisar Gu dan Gu Yihao duduk berseberangan dengan dua cangkir teh yang telah disajikan oleh pelayan. Setelah suasana di ruang belajar sunyi dan aman, Gu Yihao mulai membicarakan apa yang ingin dibahasnya dengan kaisar.
"Aku ingin tahu banyak tentang Gu Wei," katanya.
Kaisar Gu menyesap tehnya dengan tenang dan mengangguk pelan. Tapi setelah otaknya bekerja dengan baik mencerna nama 'Gu Wei' yang terlontar dari mulut putra kesebelasnya, tentu saja Kaisar Gu segera tersedak teh. Gu Yihao tidak terlalu menanggapi apa yang terjadi padanya saat ini dan dengan tenang menyesap tehnya juga.
Setelah Kaisar Gu menenangkan diri dan mengambil sapu tangan untuk mengelap mulutnya, dia menatap Gu Yihao dengan keheranan.
"Kenapa tiba-tiba ingin tahu tentang Gu Wei? Makhluk jahat itu, seharusnya tidak kamu sebut-sebut lagi. Bagaimana jika—"
"Dia sudah kembali," tukas Gu Yihao datar.
"Oh ..." Kaisar tidak terlalu jelas. Lalu segera membelalakkan matanya dan menatap pria itu. "Apa katamu? Gu Wei kembali?!" Suaranya tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat penjaga gelap di luar mendengarnya sedikit.
Kaisar Gu segera menutup mulutnya dengan ekspresi agak lucu dan mengerutkan kening. Dia tidak percaya jika makhluk jahat yang pernah dikalahkan oleh ayahnya atau pensiunan kaisar itu akan kembali lagi. Bukankah sudah mati?
"Dari mana kamu tahu jika Gu Wei kembali dan masih hidup?" Suara Kaisar Gu akhirnya diperkecil, seperti berhati-hati agar tidak terdengar oleh orang lain. "Kakekmu telah melenyapkannya. Jadi tidak mungkin ..." Dia merasa kurang percaya saja.
Tiba-tiba Gu Yihao datang dan ingin bertemu dengannya secara empat mata. Tanpa diduga akan mengambil topik yang cukup tabu bagi Negara Quentian ini.
“Dia kembali.” Gu Yihao meyakinkannya.
__ADS_1
“Bagaimana kamu tahu dia kembali?” Kaisar Gu masih curiga. Putranya ini tidak sedang membuat lelucon dengannya karena membalas dendam bukan?
Gu Yihao tidak mungkin berkata bahwa dia adalah penguasa benua Quentian. Di kehidupan kali ini, dirinya adalah anak Kaisar Gu, putra kesebelas. Lagi pula sejarah sudah banyak berubah. Ini mungkin seribu tahun lebih kehidupan. Kultivator sudah tidak lagi berjaya dan dinasti telah berubah. Gu Yihao hanya tidak menyangka jika dirinya akan terlahir sebagai anak kaisar saat ini.
Mengingat masa lalunya dengan Qing Mao dan menjalani hari-hari yang bahagia, dia merindukannya. Oleh karena itu, kali ini Gu Yihao ingin membunuh Gu Wei sepenuhnya dan mengakhiri bencana di masa depan. Meski telah hidup dari masa ke masa, Gu Yihao masih belum mengerti banyak tentang Gu Wei. Lalu Hyou juga tidak berdaya dan tak mungkin membocorkan rahasia langit sehingga mau tidak mau, Gu Yihao hanya bisa mencari tahu sendiri.
Kaisar Gu yang tidak mendapatkan jawaban dari putranya itu pun tidak memaksanya. Tapi jika benar Gu Wei masih hidup, maka dia juga tertekan. “Ketika kakekmu bertarung dengan Gu Wei, aku masih menjadi seorang pangeran. Aku tidak tahu banyak seperti apa pertarungan mereka karena kakekmu tidak bercerita dan semua orang telah dievakuasi ke tempat yang aman. Namun satu-satunya bukti pertarungan kakekmu dengannya adalah reruntuhan aula yang dulu digunakan untuk suatu acara penting …”
Memikirkan ini, Kaisar Gu tertekan dan teringat dengan perkataan pensiunan kaisar waktu itu hingga dia pun memandang Gu Yihao lagi. “Kakekmu memberiku pesan sebelum kematiannya waktu itu. Ini ditunjukan untukmu.”
Gu Yihao sedikit tertegun. “Apa itu?” Entah kenapa Gu Yihao merasa jika ini ada kaitannya dengan identitas sejati Gu Yihao di zaman kultivator.
“Dia berkata, kamu jangan pernah datang ke reruntuhan itu apapun yang terjadi.”
Hanya itu saja yang dikatakan pensiunan kaisar pada Kaisar Gu sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Meski tidak tahu apa arti dari itu, Kaisar Gu tidak berani melanggar. Sejak saat itu, dia akan menutup rapat tentang reruntuhan dan tidak membiarkan siapapun memasukinya. Ini untuk mencegah rasa ingin tahu semua orang, termasuk Gu Yihao.
Tapi jika begitu, bukankah Qing Mao masih akan mati juga?
Kaisar Gu bangkit dan pergi menuju salah satu rak lalu mengambil buku tua usang yang agak kaku. Dia kembali lagi dan meletakkan buku tersebut di meja.
“Apa ini?” tanya Gu Yihao.
“Ini adalah buku lama yang telah ada sejak nenek moyang kita, tentang Gu Wei.” Kaisar Gu hanya bisa memberikan ini dan berharap jika semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Gu Yihao membuka buku tersebut dan melihat jika tulisan di dalamnya menggunakan bahasa kuno yang sama seperti di buku yang diberikan Nyonya Pei pada Qing Mao. Dia bisa memahami ini dan mengerutkan kening ketika Kaisar Gu berkata bahwa dirinya sama sekali tidak tahu apa arti dari semua tulisan tersebut.
“Apakah kamu memahaminya?” tanya Kaisar Gu curiga. Jika putranya yang satu ini memahaminya, dari mana semua itu dipelajari?
“Aku akan mencari tahu untuk memastikannya. Jangan beri tahu orang lain tentang ini.”
“Yakinlah, aku bukan orang bodoh. Tapi jika benar Gu Wei kembali, mungkin gadis Qing itu tidak akan terlalu aman?” Kaisar Gu mulai teringat sesuatu yang lain. Ini sudah terkubur dalam ingatannya sejak lama.
“Qing Mao? Apakah kakek juga mengatakan sesuatu tentang Qing Mao?”
“Tidak. Bukan begitu. Dulu saat gadis itu masih kecil, kakekmu selalu memperhatikannya bahkan membawanya ke istana. Yang selalu ditanyakan kakekmu pasti ‘Apakah Qing’er bermimpi aneh malam tadi?’”
“Kakek selalu bertanya seperti itu?” tanyanya.
“Ya, kalimatnya tidak pernah berubah. Aku ingat jika suatu hari, Qing Mao kecil pernah bercerita pada kakekmu bahwa dia bermimpi tentang cincin hitam, seorang pria tampan yang memakai cincin hitam lalu membunuhnya. Setelah kakekmu mengetahuinya, dia membawa Qing Mao ke kuil dan meminta bantuan pada salah satu biksu yang memiliki keyakinan taoisme,” jelas Kaisar Gu dengan kening berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang lain.
“Lalu apa yang terjadi setelah mereka kembali?”
“Gadis itu akan tertidur saat kembali dan diantar kembali ke rumah Qing oleh kakekmu.”
“Apakah Ayah masih ingat tentang biksu itu?”
“Ya … seharusnya dia masih hidup dan berada di kuil dekat bukit perbatasan kota saat ini. Tapi sulit untuk bertemu dengannya. Bahkan saat pengunjung yang datang ke kuil untuk membantunya memberikan berkat, biksu tao itu tidak ingin muncul lagi sejak kakekmu meninggal.”
__ADS_1
Setelah mendengarkan informasi dari Kaisar Gu, Gu Yihao segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
“...” Kaisar Gu yang terabaikan merasa jika dirinya kini dibuang setelah digunakan. Ini sungguh menyedihkan, pikirnya.