
HYOU TERBANGUN saat merasa jika aura Qing Mao kacau, diselimuti kesedihan dan rasa sakit yang dalam. Seperti yang pernah terjadi pada empat tahun lalu. Walaupun ia hanya menunjukkan ekspresi senyum datar yang polos, tapi pikiran dan hatinya tahu jika cepat atau lambat mungkin Qing Mao mampu mengetahuinya.
Laki-laki itu masih menggunakan piyama tidur dan menguap. "Kamu terlihat bermimpi buruk, jadi aku datang untuk melihatnya. Bangunlah, ini sudah pagi."
"Pagi?" Qing Mao menunduk dan mencoba mengingat mimpi buruk itu. Tapi hanya samar-samar saja. Ketika Hyou bangkit dan membuka gorden serta jendela, ia menyipitkan mata.
Sinar matahari pagi memasuki kamarnya. Ternyata benar, ini sudah pagi. Waktu cepat sekali berlalu. Atau mungkin dia terlalu fokus pada mimpinya?
Laki-laki itu meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan pelan. Qing Mao masih linglung di tempat tidur. Ia menyentuh kepalanya yang agak pusing. Siapa gadis yang mirip dengannya dalam mimpi itu?
Walaupun Qing Mao ingin mengetahui lebih banyak, rasa lapar mengalahkan pikirannya. Dia bangkit dan segera membersihkan diri sebelum akhirnya pergi ke ruang makan. Hyou sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Hari ini ada festival topeng yang diadakan kekaisaran untuk merayakan acara perburuan musim semi kemarin. Jalanan ibu kota dan sekitarnya pasti ramai. Apakah Tuan akan pergi?" tanya Hyou seraya menyediakan piring dan nasi untuknya.
"Tidak penting juga." Qing Mao tidak menginginkan apapun. Dia memiliki hal penting yang harus dilakukannya selain festival topeng.
Tapi ... apa itu festival topeng? Pikirnya.
"Tapi Tuan ... Fan Chen dan Dong Mei sudah pergi untuk minat festival topeng. Hari ini juga tidak ada yang harus dilakukan. Tuan, kamu menganggur. Jika kamu menganggur, hidup akan membosankan." Hyou terkekeh dan melenggang ke dapur.
"..." Qing Mao memiliki tiga garis hitam di kepalanya. Jika menganggur itu kebosanan, lalu apa gunanya kamu menjadi pelayan yang santai? Pikirnya.
Qing Mao hanya sarapan dengan tenang, lalu kembali ke kamar. Dia memperhatikan banyak warna-warna cerah dipasang pada setiap bangunan dan di atas jalananan. Tampaknya hari ini benar-benar akan ramai. Ia segera mencari informasi tentang festival topeng yang ada di zaman ini.
Ternyata festival topeng sangat sederhana. Orang-orang memakai topeng berbentuk wajah hewan-hewan tertentu atau bentuk lainnya. Lalu berlalu lalang di jalanan, membeli sesuatu atau mengikuti permainan. Banyak juga yang mendapatkan kencan buta, pertemuan tak terduga atau hanya sekadar mencari hiburan.
Sebenarnya zaman ini hampir mendekati era modernisasi. Setidaknya, DPRK sudah dibuat serta beberapa gedung sederhana yang menjadi penginapan atau restoran, juga ada.
"Mao Mao!" teriak seseorang dari halaman depan.
__ADS_1
Qing Mao menoleh ke bawah dan melihat seorang gadis bertopeng kelinci melambaikan tangannya. Putri Lailan? Pikirnya. Gadis itu pasti akan memintanya ikut ke festival.
"Ayo pergi ke festival topeng. Di sana pasti seru." Putri Lailan berteriak lagi karena khawatir Qing Mao tidak mendengarnya.
"Ini masih terlalu pagi."
"Aku belum sarapan." Putri Lailan berkata jujur.
"Makanlah di rumahku saja," katanya.
"Tidak, terima kasih tawarannya. Tapi An Daiyu menawariku untuk makan di pelelangan. Dia memiliki sup iga sapi yang enak. Aku ingin mencicipinya. Kudengar sup iga sapi di sana bisa menghangatkan tubuh. Mao Mao, ayo pergi denganku."
Sup iga sapi?
Zaman ini sungguh tahu apa itu sul iga sapi?
Saat dia turun dan menghampiri Putri Lailan, sebuah topeng berbentuk kepala kucing diberikan padanya. Ada dua telinga khas kucing, ekspresi yang dilukis juga lucu. Sebenarnya, Putri Lailan mendapatkan topeng ini dari Gu Yihao. Pria itu memintanya untuk mengajak Qing Mao ke festival topeng.
Acara yang selalu diadakan setiap selesai perhitungan musim ini selalu menarik pengunjung. Banyak anak-anak juga para remaja yang datang untuk mencari kesenangan. Hanya saja dalam festival ini, para orang tua jarang menikmatinya.
Qing Mao menaiki kereta kuda milik Putri Lailan. Lalu meninggal halaman menuju jalanan yang ramai. Kereta kuda melaju menuju sebuah gedung besar yang cukup megah. Saat tiba, Qing Mao tahu jika keduanya berada di halaman Pelelangan Bunga Persik.
Banyak anak-anak dan para pemuda-pemudi yang berlalu-lalang. Mereka memakai topeng dan memegang makanan ringan yang mirip manisan. Ada juga penjual kue-kue serta pernak-pernik lainnya. Para pedagang bekerja dengan semangat dan penuh kejujuran.
Putri Lailan akhirnya mengajak Qing Mao masuk. Pelayan sudah tahu jika An Daiyu menunggu keduanya datang sehingga mengarahkan mereka ke lantai tiga. Di sanalah An Daiyu selalu beristirahat atau bisa diangkat sebagai ruang pribadinya. Di lantai dua sebenarnya juga dipakai untuk para pelanggan. Namun biasanya dibuat dalam bentuk kotak (ruang sekat).
Pelayan yang mengantarnya pun mengetuk pintu lebih dulu. "Tuan An, Putri Lailan dan Nona Qing sudah tiba."
"Biarkan mereka masuk." Suara manja dari dalam terdengar. Hanya saja itu membuat Qing Mao agak mual.
__ADS_1
Terlalu banci! Pikir gadis itu.
Pelayan itu membuka pintu dan membiarkan kedua gadis itu datang. Lalu menutup pintu lagi dengan hati-hati sebelum akhirnya kembali mengurus pekerjaannya.
Putri Lailan dan Qing Mao melihat An Daiyu yang kini berpakaian putih pun duduk di kursi yang berseberangan dengan Gu Yihao. Saat melihatnya lagi, Qing Mao agak canggung. Dia tidak tahu kenapa, semakin hari tinggal di zaman ini, ia memiliki perasaan yang sangat akrab.
"Saudara Kesebelas juga di sini." Putri Lailan segera menyapanya.
"Ya." Gu Yihao tidak terlalu antusias. Ia melirik Qing Mao sekilas yang kini memegang topeg berbentuk kepala kucing. "Apa kabar, Nona Qing."
Meskipun Qing Mao enggan untuk membalas sapa, dia masih menganggukkan kepala. "Baik."
An Daiyu yang melihat ada kecanggungan di udara pun segera meminta keduanya duduk. Lu meminta pelayan untuk mengambilkan sup iga sapi yang diinginkan Putri Lailan. Walaupun ini rumah pelelangan, tapi beberapa pelanggan tetapnya bisa mencicipi hidangan yang dibuat oleh koki terbaik.
Segera, aroma sup menguar di udara, membuat Qing Mao mengerutkan kening. Ini aroma sup yang menyegarkan dan tidak membuat sarapan di pagi hari menjadi buruk. Sepertinya An Daiyu ini pandai mengolah sesuatu dengan baik.
"Nona Qing, cobalah hidangan di pelelanganku. Ini pasti akan membuat hatimu menjadi bahagia," kata An Daiyu segera tersenyum menggoda. Lalu dia menyiapkan semangkuk sup iga sapi itu untuk Qing Mao. Dia tidak peduli bahkan jika mendapatkan pelototan dari Gu Yihao.
"Hanya dengan melihatmu saja, hatiku sudah buruk!" Qing Mao mencibir.
"..." Apa salahku? Aku tampan dan baik hati, semua wanita suka denganku, pikir An Daiyu langsung merasakan panah tak berwujud menusuk jantungnya.
Putri Lailan tahu jika Qing Mao tidak menyukai An Daiyu dari luar dan dalam sehingga hanya bisa tersenyum tidak berdaya. Ia pun mencoba sup iga sapi dan langsung berkata "Wow" dengan penuh kekaguman. Rasa sukanya sangat segar dan sama sekali tidak memiliki banyak minyak.
Ada sedikit rasa asam dan pedas yang pas. Belum lagi perasa hangat di tenggorokan karena mengandung merica.
"Mao Mao, cobalah ... Ini sangat enak. Kamu pasti akan menyukainya." Putri Lailan makan dengan lahap.
"Apakah ada jamur di dalamnya?" tanya Qing Mao agak malu.
__ADS_1