
ORANG-ORANG saling memandang dan kebingungan, termasuk ibu dari anak laki-laki berusia lima tahun itu. Bahkan pria paruh baya di lantai tiga juga tertegun. Dia tidak memperkirakan jika anak itu akan jatuh lebih cepat daripada perkiraannya sehingga bingung harus bagaimana.
Belum lagi, masalah ini tampak tidak akan berakhir begitu saja. Festival topeng sangat penting bagi orang-orang. Jika dia membuat masalah di acara ini, orang-orang kekaisaran mungkin tidak akan senang. Hanya saja, keluarga wakil jenderal Pei memiliki utang padanya sehingga masalah ini tidak bisa ditunda.
Tentu saja, gadis yang menyelamatkan anak laki-laki berusia lima tahun itu tak lain adalah Qing Mao. Dia langsung sigap datang dan menolongnya agar tidak ada adegan berdarah di acara ini. Putri Lailan kini merasa bersemangat. Mao Mao nya benar-benar sangat cantik!
Tidak tahu kapan Gu Yihao ada di sampingnya. Bahkan An Daiyu juga datang dan berada di sampingnya juga. Sehingga saat ini, Putri Lailan di kawal dua pria jangkung yang memiliki aura misterius.
"Gadis itu ternyata benar-benar memiliki seni bela diri. Aku merasa tidak menyangka dia tumbuh dengan baik selama empat tahun ini," kata An Daiyu seraya membuka kipas lipatnya dan mengipasi tubuhnya yang agak panas. Hari sudah mulai siang.
"Dia menjalani hari-hari yang sulit," kata Gu Yihao.
"Ya, kamu benar." An Daiyu mengangguk kecil.
Mereka semua menyaksikannya dengan pandangan kagum. Qing Mao yang memakai topeng kelinci itu tidak memedulikan orang sekitar saat menyelamatkan anak itu. Dia hanya memiliki keinginan untuk membantu masalah yang akan timbul lebih parah di kemudian hari.
Ketika dia turun dan membiarkan anak itu turun, Nyonya Pei segera menghampiri putranya. Ia memeluknya dengan erat dan tubuh gemetar.
"Putraku ... Syukurlah putraku baik-baik saja," gumamnya seraya berderai air mata. Ia pun menatap Qing Mao dengan tatapan terima kasih.
Qing Mao tidak mengatakan apapun. Tapi pria paruh baya yang ada di lantai tiga itu jelas merasa terkejut. Kemampuan pihak lain tidak kecil, namun ia tidak bisa kehilangan wajah di tempat umum seperti ini sehingga segera menuduh Qing Mao sebagai penjaga dari Nyonya Pei.
Segala jenis tuduhan diberikan hingga membuat Qing Mao memiliki tiga garis hitam di kepalanya. Apakah wajah pria paruh baya itu begitu besar hingga berani menuduhnya dengan banyak hal?
__ADS_1
Qing Mao hanya mengeluarkan panah dart dan melemparkan ke arah pria paruh baya yang sombong itu. Walaupun panah tidak mengenainya dengan sempurna, tapi sengaja menggores pipi dan telinganya.
"Ah, Tuan!" Salah satu selir pria paruh baya itu terkejut dan menghindar dengan cepat. Wajahnya pucat.
Sebuah panah dart segera menancapkan di dinding yang terletak di belakang pria paruh baya itu.
"Kamu berani membunuhku? Apakah kamu tidak tahu siapa aku?" Pria paruh baya itu berteriak marah dan menatap gadis bertopeng kelinci dengan nanar.
Nyonya Pei segera menggelengkan kepala dan memberi tahu gadis itu bahwa pria paruh baya tersebut masih berasal dari kerabat keluarga perdana menteri keuangan Nu. Sehingga tidak bisa memprovokasi begitu saja.
Mendengar Nyonya Pei berbicara, pria paruh baya di lantai tiga restoran tersebut seketika menjadi sombong dan tersenyum dengan cemoohan. Qing Mao hanya menaikkan sebelah alisnya. Kerabat keluarga perdana menteri keuangan Nu? Bukankah itu keluarga yang dia benci saat ini? Terutama tentang Nu Qingge.
"Hanya kerabat keluarga perdana menteri keuangan Nu, kamu begitu sombong?" tanya Qing Mao jelas tidak memiliki nada kehangatan.
"Heh, lucu sekali," kata Qing Mao segera terkekeh.
Dia langsung melompat dan berdiri di pagar pembatas lantai tiga restoran tersebut. Pria baruh baya itu jelas terkejut saat tahu pihak lain begitu cepat untuk berada di depannya. Entah kenapa, pria paruh baya itu merasa jika kesialan akan menimpa dirinya.
"Masalah menjadi rumit ya? Aku ingin tahu apa yang bisa dilakukan keluagamu untuk ini," kata Qing Mao tegas.
Dia segera meraih pria paruh baya tersebut dan melemparkan ke bawah dengan enteng. Tak lupa juga menggantungkan tali agar pria paruh baya itu bisa dimainkan sedikit lebih lama. Semua orang terkejut dengan aksi beraninya hingga dua selir pria paruh baya itu tidak berani mendekat.
Akhirnya dengan penuh ketakutan, pria paruh baya itu berteriak memanggil penjaganya untuk membantu dia turun. Sayangnya, sebelum itu terjadi, Qing Mao melepaskan tali dan membuat pria itu jatuh bebas lebih cepat.
__ADS_1
"Ahh! Tidak!" Pria paruh baya itu langsung menghantam halaman restoran dan menimbulkan bunyi benda jatuh cukup keras.
Semua orang segera berkeringat dingin. Gadis itu sangat berani. Mungkin identitasnya lebih tinggi daripada pria paruh baya itu. Saat ini, pria yang diharuskan Qing Mao langsung meringis dan kesakitan. Dia menatap gadis bertopeng kelinci tersebut dengan ekspresi yang tidak pasti. Dari mana kekuatannya berasal? Kenapa bisa mengangkatnya seperti tidak memiliki beban apapun?
Para penjaga yang mengetahui jika tuannya telah dijatuhkan pun segera naik untuk menangkap Qing Mao. Namun gadis itu sudah turun dan menendang pria paruh baya itu hingga menghantam salah satu pilar bangunan. Semua orang hanya bisa menyaksikan dengan ekspresi yang tidak pasti. Siapa gadis itu sebenarnya?
Nyonya Pei segera menghentikan Qing Mao. "Nona ini ... Tolong jangan mencari masalah dengannya. Dia masih kerabat dari keluarga Nu," katanya.
"Oh, bahkan jika keluarga Nu sendiri datang untuk mencari keadilan, lebih baik kubunuh saja dia terlebih dahulu." Qing Mao mencibir di balik topengnya.
"..." Kamu tidak seharusnya membunuh orang tanpa pandang bulu, pikir Nyonya Pei agak ragu.
Pria paruh baya itu akhirnya bangkit dengan menahan rasa sakit di tubuhnya. Ia menatap gadis bertopeng kelinci itu dengan penuh kengerian dan juga marah.
Tak berapa lama, sebuah kereta kuda dari salah satu istana menghampiri lokasi kejadian dan berhenti tak jauh dari sana. Semua yang hadir segera melihat logo istana mana yang datang. Ternyata ada simbol Istana Putra Mahkota. Ketika seorang pria berjubah kuning keemasan keluar kereta, semua warga segera berlutut.
"Menyambut Yang Mulia Pangeran Kesembilan," ujar semua orang dengan nada yang penuh hormat. Karena identitas Gu Wenlian telah ditahan dari status putra mahkota, maka orang-orang tidak berani untuk memanggilnya lagi.
Meskipun Gu Wenlian merasa tidak terima, dia tahu di mana identitasnya saat ini. Status putra mahkota yang ditahan kaisar akibat kesalahan satu bulan yang lalu. Bahkan jika keretanya masih merupakan lambang putra mahkota, tapi dia tidak lagi memegangnya.
Ketika semua orang berlutut, hanya Qing Mao saja yang berdiri dengan tenang. Dia menatap putra mahkota dengan cibiran. Kebetulan sekali, orang kekaisaran yang dibenci juga hadir di sini.
Tampaknya putra mahkota masih memiliki beberapa ketenangan di permukaan. Lalu selir kesayangan putra mahkota juga keluar kereta. Dia segera menunjukkan senyum ramah pada gadis bertopeng kelinci itu.
__ADS_1
"Nona ... Kenapa tidak berlutut untuk Yang Mulia?" tanyanya.