Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Akhir yang Tragis


__ADS_3

SEMENTARA di luar istana kekaisaran, Selir Kehormatan Yi berpakaian lebih sederhana. Tanpa hiasan kepala atau pun perhiasan mewah di tubuhnya. Wajahnya lebih kuyu dari biasanya tapi masih memperlihatkan sifat dan aura sombongnya sebagai selir favorit Kaisar Gu.


Hanya saja dia kini sedikit linglung setelah mendengar tentang keberadaan Gu Wenlian, putranya yang telah dicap sebagai pengkhianat oleh kaisar.


Dia tidak tahu apa yang terjadi. Pagi menjelang siang tiba-tiba saja menjadi gelap seperti di malam hari. Selir Kehormatan Yi dan Putri Yu Yang diam-diam menyelinap, memasuki kereta kuda dan meminta kusir untuk bergegas menuju kediaman rumah Yi yang letaknya agak jauh Istana Kekaisaran Gu.


"Bu, apakah tidak apa-apa jika kita pergi seperti ini? Bagaimana jika ayah kaisar marah dan menghukum kita?" Putri Yu Yang sedikit khawatir, duduk di samping ibunya dengan gelisah.


"Jangan khawatir, istana sedang sibuk saat ini. Ayah kaisar mu sama sekali tidak peduli terhadap kita. Mari kita kembali dulu dan menemukan kakak laki-lakimu," jawab Selir Kehormatan Yi menenangkannya.


Suasana di kereta kembali hening, hanya terdengar suara sepatu kuda yang kini sedang menarik kereta.


Tiba-tiba saja kereta sedikit tidak seimbang, kuda meringkik serta suara kusir yang berteriak membuat ibu dan anak itu tambah panik.


"Apa yang terjadi?" Selir Kehormatan Yi kesal.


"Ahh! Tolong! Tolong, ada hantu!" Kusir yang duduk di depan itu berwajah pucat.


Tidak banyak penerangan di jalan, semua sunyi. Jadi kusir memiliki lentera di sampingnya untuk memastikan jika jalanan baik-baik saja.


Selir Kehormatan Yi mendengar suara teriakan kusir, sedikit takut di hatinya. Mungkinkah ini mayat hidup? Tapi bagaimana mungkin ada mayat yang bangun lagi setelah mati. Ini tidak mungkin.

__ADS_1


"Bu! Yu Yang takut!" Putri Yu Yang segera merapat ke pelukan ibunya.


Saat kereta berhenti, ringkikan kuda masih terdengar. Tapi tak lama setelah itu, suasananya menjadi hening kembali.


Ibu dan anaknya itu berpikir jika semuanya sudah baik-baik saja.


"Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Kita akan segera kembali ke rumah," kata Selir Kehormatan Yi. "Cepat jalan!" Dia memerintahkan kusir untuk kembali menjalankan kereta.


Tapi setalah menunggu lama, tidak ada gerakan atau sahutan dari luar. Selir Kehormatan Yi mengerutkan kening. Mungkinkah pak kusir itu melarikan diri karena melihat hantu?


"Bu ..." Putri Yu Yang merasa tidak nyaman di hatinya. "Bu, mari kita kembali ke istana. Di sana lebih aman. Sepertinya ini bukan lelucon. Bu, lihatlah sekitar, ini gelap seperti di malam hari. Mereka bilang ini gerhana matahari dan mayat-mayat hidup itu berkeliaran," jelasnya.


Selir Kehormatan Yi cemberut dan tidak senang. "Anak bodoh! Jika kita kembali, ayah kaisar mu akan menjatuhi hukuman mati pada ibu karena telah melanggar aturan istana kekaisaran. Kamu juga akan terpengaruh. Jangan berpikir ke sana. Kita akan pulang ke rumah Yi dulu," katanya.


"Baiklah, tunggu di sini. Ibu Selir akan melihat apa yang tejadi di luar."


Selir Kehormatan Yi menyingkapkan tirai yang menjadi pintu kereta yang cukup besar itu. Namun saat hendak turun, dia dikejutkan dengan sosok tinggi berjubah hitam yang muncul di depannya.


Selir Kehormatan Yi segera melihat makhluk apa yang ada di depannya. Seketika itu, wajahnya menjadi pucat. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Bu, apa yang terjadi? Kenapa belum turun?" tanya Putri Yu Yang yang melihat ibunya sama sekali bergeming.

__ADS_1


Selir Kehormatan Yi tidak menjawab. Tapi pada saat itu, suara teriakan yang mengerikan terdengar hampir menggema di langit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, sekelompok prajurit yang dipimpin An Daiyu dan Gu Huiling berhenti tiba-tiba. Mereka mendengar suara teriakan minta tolong dari arah lain. Karena berlatih seni bela diri, indera pendengaran mereka tidak terlalu buruk.


Seketika, mereka segera memimpin semua prajurit ke arah suara teriakan itu berasal. Mereka khawatir ada warga yang masih tidak mengetahui bahayanya dunia luar saat ini.


"Kenapa orang-orang begitu sulit untuk mematuhinya peraturan? Kaisar sudah memperingati banyak orang tapi masih saja ada yang menutup telinga kanan dan kiri," protes An Daiyu sedikit kesal.


Gu Huiling menggelengkan kepala seraya memegang tali kuda. "Lupakan saja. Tidak semua orang akan mematuhi perintah."


Di perjalanan saja, An Daiyu dan rombongannya bertemu dengan sekelompok mayat hidup. Mereka hanya menggunakan api untuk menghalau dan membunuh mereka. Terutama para pemanah api yang selalu siap kapan saja. Dengan begitu, mereka bisa lancar menuju ke lokasi teriakan.


Ada sebuah kereta yang kini telah berguling. Tapi tak ada satu pun mayat hidup di sana. Hanya empat kuda yang telah tergeletak tak bernyawa dengan beberapa luka mengerikan di tubuhnya. Kuda-kuda itu jelas mati akibat serangan mayat hidup.


"Ini seorang wanita. Lihatlah siapa dia," kata Gu Huiling kepada para bawahnya.


Dia juga turun dari kuda untuk memastikan apakah ada orang lain di dalam kereta tersebut.


Namun baru saja hendak membuka gorden kereta, salah satu prajurit yang memeriksa wanita yang tergeletak tak jauh dari kereta kuda pun berteriak kaget.

__ADS_1


"Ada apa?" Gu Huiling mengerutkan kening.


An Daiyu juga penasaran.


__ADS_2