Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Masalah Di Festival Topeng


__ADS_3

JAMUR? An Daiyu mengerutkan kening dan menatap mangkuk berisi sup iga sapi. Lalu dia menggelengkan kepala. Tidak ada jamur di dalamnya sehingga gadis itu bisa memakannya dengan tenang.


Putri Lailan tidak tahu kenapa Qing Mao menanyakan tentang jamur. Ternyata saat gadis itu cerita, ada alergi jamur. Qing Mao menjadi mual dan pusing ketika mengonsumsi jamur. Lalu diiringi dengan gatal-gatal di tubuh hingga kemerahan pada wajah.


Semua ini terjadi saat Qing Mao mengonsumsi jamur. Hyou berkata jika dia alergi jamur. Oleh sebab itu, segala hal tentang jamur dia hindari.


Sayangnya ada bumbu jamur dalam sup iga sapi. An Daiyu menggunakannya untuk menambah cita rasa pada makanan tersebut. Tapi sangat disayangkan jika Qing Mao tidak bisa memakannya. Meski begitu, An Daiyu meminta pelayan untuk membuatkan sup iga sapi tanpa tambahan penyedap rasa jamur atau segala hal yang berurusan dengan jamur.


Meskipun Qing Mao tidak terlalu menginginkan sup iga sapi, tapi sebenarnya dia penasaran dengan rasanya sehingga hanya mengangguk kecil.


“Apa yang akan dilakukan dalam festival topeng ini?” tanya Qing Mao.


“Sebenarnya ini hanya untuk bersenang-senang setelah perburuan musim semi. Kamu bisa melakukan apapun di festival tersebut, termasuk beradu kekuatan di atas ring.” An Daiyu tahu banyak karena selalu memperhatikannya sepanjang tahun. Oleh karena itu, dia segera bercerita dengan antuisias.


Dalam festival ini, semua orang tidak akan tahu identitas orang laim. Selain itu juga, semua orang diwajibkan memakai pakaian yang berbeda daripada hari biasanya untuk menghindari dikenal oleh pihak lain. Tak heran jika Qing Mao melihat Putri Lailan memakai baju biasa hari ini. Ternyata untuk menghindari kecurigaan. Belum lagi kereta jugatidak terlalu mencolok.


Namun An Daiyu dan Gu Yihao tidak pernah mngikuti acara festival seperti itu sepanjang tahun. Karenanya, hari ini kedua pria itu begitu santai. Namun An Daiyu bilang jika kali ini mereka akan pergi untuk melihat kesenangan. Menyarankan pada Qing Mao untuk pergi bersama.


Tapi Qing mao tidak mau dan dia akan pergi sendiri kali ini. Putrri Lailan tidak mau membujuknya sehingga hanya mengikuti keinginan gadis itu. Karena butuh wkatu yang cukup lama untuk membuat sup iga sapi, Qing Mao dan Putri Lailan memakai topeng lagi.


“Kalau begitu kami pergi dulu. Nah, sampai jumpa di luar sana.” Putri Lailan segera menyusul Qing mao yang pergi begitu saja tanpa mengucapakan sepatah kata pun.


An Daiyu menghela napas tidak berdaya dan menatap Gu Yihao dengan sedikit rasa kasihan. Sulit untuk mengejar seorang gadis. Apa lagi jika gadis itu pernah disakiti sebelumnya. Meski begitu, Gu Yihao tidak mau peduli dengan rasa simpati An Daiyu dan segera bangkit untuk meninggalkan tempat tersebut.


“Hao Hao, kamu mau ke mana?” tanya An Daiyu setelah menampar mulutnya lagi karena mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.


“Pergi mengejarnya.”

__ADS_1


“Bukankah kamu bilang tadi mau makan sup iga sapi?”


“Dia tidak makan, jadi aku tidak akan makan juga.”Gu Yihao segera memakai topeng berbentuk kucing lalu melompat dari jendela tanpa ada rasa takut ketinggian.


“...” An Daiyu ingin menghentikannya, namun terlambat. Dia sendiri bahkan ditinggal olehnya.


Jika gadis itu minum darah, apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama? Pikirnya agak mengerikan


Sementara itu di sisi lain ….


Qing Mao dan Putri Lailan mengunjungi beberapa kedai yang telah diberi dekorasi festival. Dia berkata jika ada lokasi yang dipasang dekorasi festival topeng maka tempat tersebut ikut berpartisipasi dalam kemeriahan. Semua orang bisa memesan apapun yang dijual dengan potongan harga yang tinggi.


Karena itu, Putri Lailan mengajak Qing Mao ke beberapa toko dan kedai untuk mencoba semuanya. Saat keluar dari toko, tangan keduanya penuh dengan barang. Putri Lailan segera memberikannya pada penjaga untuk menyimpan semua barang di kereta. Begitu pula dengan Qing Mao.


"Tolong ...! Tolong! Siapapun tolong anakku!" Seorang wanita yang mengenakan topeng kelinci pun segera berteriak seraya menengadah, melihat anak berusia lima tahunan hampir jatuh dari pagar pembatas sebuah restoran lantai tiga.


"Ibu ... Ibu, aku takut." Anak laki-laki berusia lima tahunan itu akhirnya mengangis.


"Tidak, putraku!" Si wanita yang berteriak tadi adalah ibunya. Dia baru saja kembali untuk mengambil uang di rumah, menitipkan anaknya pada salah seorang pelayan.


Tapi tidak tahu apa yang terjadi, anaknya tiba-tiba menggantung di pagar pembatas lantai tiga restoran.


Lalu beberapa pria dan wanita berpakaian mewah di lantai tiga itu menghampiri pagar pembatas dan terkekeh. Salah satu pria berpakaian bangsawan mencibir tanpa ada niatan untuk membantu anak itu naik.


"Hah! Kamu akhirnya kembali. Ini sudah tenggat waktu tapi keluargamu belum membayar utang. Jangan karena kamu memakai topeng, kami tidak mengenalinya. Cepat bayar utangmu!" Pria berpakaian bangsawan itu sudah dikategorikan sebagai paruh baya, berjenggot tipis dan juga memiliki beberapa selir cantik di sisi kanan dan kirinya.


Ibu dari anak yang tadi berteriak pun segera menggelengkan kepala. "Tolong selamatkan dulu putraku. Aku membawa uangnya. Sungguh! Aku membawa uangnya. Suamiku baru pulang hari ini dan membawa uangnya. Tolong ... Tolong selamatkan dulu putraku."

__ADS_1


Ibu mana yang tega membiarkan anaknya dalam bahaya? Wanita bertopeng kelinci itu jelas sudah tidak memedulikan apapun lagi selain putranya yang masih kecil, tidak mengetahui masalahnya dan juga tidak berdosa. Anaknya tidak bersalah, tapi kini menjadi pelampiasan kemarahan pria paruh baya itu.


Namun bukannya menolong lebih dulu, pria paruh baya itu malah tertawa. Orang-orang yang hadir di sekitar juga tidak berdaya. Mereka hanya saling berbisik dan ingin tahu siapa wanita yang putranya kini dalam bahaya. Tapi salah satu dari pengunjung akhirnya mengenalinya setelah melihat wajah sang anak.


"Bukankah itu anak dari wakil jenderal Pei? Aku ingat, itu memang anak semata wayang anak jenderal Pei." Wanita lain yang memakai topeng juga berkata.


"Oh! Iya. Aku hampir lupa. Itu memang anak wakil jenderal Pei. Ya Tuhan ... Bukankah itu berarti jika wanita tadi adalah Nyonya Pei?"


"Benar. Sepertinya itu Nyonya Pei. Dia jarang bergaul dengan ibu-ibu yang lain. Mungkin ada masalah di rumahnya."


"Bisakah rumah wakil jenderal terlilit utang?"


"Aku tidak tahu. Tapi masalahnya ini mungkin tidak kecil."


"Sayang sekali."


Banyak para wanita yang juga merupakan istri dari para bangsawan pun saling berbisik. Bahkan jika mereka tidak saling tahu identitas masing-masing. Namun jika menyangkut satu topik, pasti sudah saling berkelanjutan.


Wanita bertopeng kelinci yang menangis itu merasa malu. Dia tidak mau membuat keluarga wakil jenderal memiliki citra yang buruk. Sayangnya, sekarang semua itu terungkap. Wanita bertopeng kelinci akhirnya hanya bisa membuka topengnya dan menghapus air mata. Ia masih berharap putranya bisa diselamatkan lebih dulu.


Tiba-tiba saja anak berusia lima tahun itu kehilangan pegangannya dan jatuh dari lantai tiga. Wanita tadi langsung berteriak histeris seraya memanggil putranya.


"Tidak!! Anakku!!" Dia berlari untuk menangkap tubuh putranya.


Namun tanpa diduga, sosok ramping segera muncul dan menangkap anak itu dengan cepat, lalu mengeluarkan grappling hook dan menembakkan ke pagar pembatas lantai tiga restoran. Semua orang melihat aksi cepat itu dan langsung menjadi kagum.


"Wah, siapa gadis itu? Dia tampaknya memiliki seni bela diri yang bagus," kata yang lain penuh kekaguman.

__ADS_1


__ADS_2