
KEESOKAN harinya, Qing Mao dan Gu Yihao mengunjungi Istana Kekaisaran untuk menyapa Kaisar Gu serta Permaisuri Xue. Keduanya datang pada siang hari yang membuat Qing Mao sedikit malu. Bahkan pangeran pertama, Gu Zhaoxin juga hadir untuk menggoda saudara kesebelasnya, Gu Yihao.
Tapi siapa yang harus disalahkan tentang ini jika bukan Gu Yihao? Pria itu membuatnya sakit di seluruh badan hari ini dan baru saja lebih baik saat siang hari.
Gu Yihao tidak pernah terlalu memikirkan aturan istana. Jika dia ingin datang siang, maka datang saja siang. Kaisar Gu juga tidak akan menegurnya.
Permaisuri Xue memiliki senyum penuh arti di wajahnya. Dia sangat menyukai Qing Mao sejak awal sehingga kesannya juga baik hari ini.
"Di masa depan, Putri Yi tidak perlu sungkan untuk datang dan menemui istana ini (permaisuri). Datanglah dan bermain. Lailan juga sudah lama ingin bertemu denganmu," ujar Permaisuri Xue pada Qing Mao.
Qing Mao mengucapkan terima kasih padanya dan juga Kaisar Gu. Tanpa sadar, dia melirik Han Baimo yang memakai jubah brokat putih. Dia masih memiliki rambut putih serta ekspresi lembut yang sama.
Saat melihat Qing Mao, Han Baimo mengangguk padanya. Seolah-olah tahu segalanya. Tiba-tiba saja Gu Yihao di samping Qing Mao berdeham agak tinggi. Hal ini membuat Qing Mao menarik pandangannya kembali.
Gu Yihao ternyata cemburu. Meski tidak mungkin ada hubungan lain, tapi dia tidak suka Qing Mao menatap pria lain begitu lama.
Han Baimo terkekeh. Dia tidak canggung atau ragu-ragu di depan Kaisar Gu.
"Kalian pasangan muda yang baik. Cepatlah melahirkan anak dan penuhi rumah dengan tangisan mereka," godanya.
Qing Mao agak malu. "Aku masih terlalu muda untuk punya anak," katanya.
"Oh, baiklah. Lagi pula kalian baru saja menikah, tidak perlu terburu-buru." Han Baimo segera memperbaiki kata-kata nya lagi.
__ADS_1
Pada saat ini, Han Baimo memegang sebuah kotak cendana merah kecil yang tidak terlalu tua tapi sudah bisa dipastikan kotak tersebut dibuat sejak ratusan tahun lalu.
Kotak kecil cendana merah tersebut diberikan pada Qing Mao sebagai hadiah pernikahan. Pada hari pernikahan, dia tidak sempat untuk memberikan kotak tersebut karena Gu Yihao melarangnya untuk bertemu Qing Mao.
"Apa ini?" tanya Qing Mao penasaran.
"Buka saja." Han Baimo tersenyum misterius.
Saat kotaknya dibuka, Qing Mao terkejut. Tiba-tiba saja hatinya bergetar saat melihat cincin batu giok merah dan cincin batu giok hijau yang sama persis seperti di kehidupan sebelumnya.
Bagaimana bisa cincin ini ada lagi? Pikirannya.
Han Baimo sepertinya tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
Namun Han Baimo berpikir lagi, sejak kapan cincin tersebut menjadi milik leluhurnya?
Qing Mao akhirnya mengambil cincin batu giok hijau dan mengelus permukaannya yang halus. Tidak tahu apakah cincin ini masih memiliki efek magis yang sama atau tidak. Bahkan jika tidak, dia masih senang karena cincin ini kembali.
"Pakailah, seharusnya pas di jari manismu," kata Gu Yihao.
Ketika cincin batu giok hijau dipakai di jari manis tangan kiri gadis itu, ada cahaya hijau samar yang cepat menghilang. Qing Mao tidak menyadarinya namun Han Baimo tahu.
Gu Yihao juga memakai cincin batu giok merah. Keduanya tampaknya serasi dengan cincin tersebut.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Qing Mao. "Aku menyukai hadiahnya."
"Sama-sama, sudah seharusnya." Han Baimo mengangguk.
Setelah berbincang-bincang di Istana Kekaisaran, Qing Mao dan Gu Yihao kembali ke Istana Raja Yi. Pada saat ini, Qing Mao tidak henti-hentinya memandangi cincin tersebut.
Saat makan malam, Gu Yihao merasa tidak berdaya saat melihat gadis itu terus menatap cincin batu giok hijau.
"Mao'er, makanlah dulu."
"Tapi aku tidak berselera malam ini. Aku ingin tahu apakah cincin ini masih sama."
Sayangnya Qing Mao tidak merasakan ikatan batin apapun lagi dengan cincin tersebut. Seolah-olah itu hanyalah cincin biasa.
Gu Yihao menghela napas tidak berdaya. Namun dia hanya tersenyum. Pada akhirnya, Qing Mao memilih untuk makan malam lebih dulu sebelum akhirnya kembali ke kamar.
Gu Yihao tidak mengikutinya. Dia hanya pergi ke ruang belajar untuk mengurus beberapa pekerjaannya yang belum selesai. Sebagai pria yang dijuluki dewa perang di medan perang, dia ditakuti oleh musuh. Untuk menjaga perdamaian dunia, Gu Yihao harus tetao mengabdi kan dirinya pada negara.
Cincin batu giok merah yang tersemat di jari manis tangan kirinya tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya samar. "Kenapa kamu tidak berkata padanya bahwa Hyou baik-baik saja?"
"Tidak perlu," jawab Gu Yihao.
"Oh, kamu berpura-pura menjadi misterius."
__ADS_1
Suara seorang laki-laki remaja terdengar dari cincin batu giok merah, tidak membuat Gu Yihao terkejut apa lagi takut. Pada saat yang bersamaan, seorang laki-laki berjubah merah muncul begitu saja di depan meja Gu Yihao sambil memegang kipas lipatnya.