Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Putri Lailan Hamil


__ADS_3

GU YIHAO SEPERTINYA melihat sesuatu yang tersembunyi dalam masalah An Daiyu dan dia langsung mengerutkan kening.


"Ada apa?" tanyanya tenang. Sebagai mantan penguasa benua Quentian di kehidupan masa lalu, dia lebih dewasa dari An Daiyu.


An Daiyu sepertinya enggan untuk berbicara dan melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang akan menguping.


"Aku ... Aku menghamilinya," bisik An Daiyu tidak berdaya.


"..." Gu Yihao sepertinya tidak terkejut sama sekali tapi ekspresinya masih menunjukkan sedikit perubahan.


Wajah Gu Yihao menjadi gelap setelah berpikir dua kali. "Hamil? Lailan hamil?"


"Ya. Sudah dua bulan," jawab An Daiyu.


"Apakah permaisuri tahu ini?"


"Tidak." Pria berpakaian serba merah itu menggelengkan kepala.


Jangan bercanda. Memberi tahu Permaisuri Xue bahwa putri kesayangannya hamil sebelum menikah, bukankah itu aib? Dia mungkin akan dihukum mati.


An Daiyu percaya diri dengan kehidupannya yang bersih, status yang mendukung serta jaminan tidak akan membawa pulang selir. Tapi dia khawatir Permaisuri Xue akan berpikir dirinya terlalu sembrono dan tidak serius dengan Putri Lailan.


"Apapun yang terjadi, permaisuri harus tahu tentang ini. Atau semuanya akan terlambat dan anak itu lahir tanpa hubungan yang jelas," kata Gu Yihao memberinya saran.


"Tapi bagaimana aku harus memberi tahu permaisuri tentang ini? Aku khawatir, permaisuri akan memisahkan ku dengan Lailan di masa depan."


"Apakah kamu yakin?"


"Apa maksudmu?" An Daiyu mengerutkan kening.


"Apakah kamu yakin permaisuri Xue akan melakukan hal itu?"


"Tidak?" An Daiyu tetap berpikiran buruk. "Lagi pula, Lailan berkata jika permaisuri Xue sangat mementingkan wajah kekaisaran," jelasnya.


"Aku akan bicara dengannya."


An Daiyu segera mengubah ekspresinya menjadi sedikit lebih pucat. "Tidak! Tidak! Apakah kamu gila? Hao Hao, kamu ingin membunuh sahabatmu sendiri 'kan?" ratapnya.


"Permaisuri Xue tidak akan marah," kata Gu Yihao. Sudut mulutnya berkedut kecil.

__ADS_1


"Bagaimana kamu tahu dia tidak akan marah?"


"Ada Mao'er, jangan khawatir."


"..." Bukankah kamu ingin mengandalkan wajah istrimu yang belum resmi masuk pintu? Batin An Daiyu bercanda.


Sementara saat ini ....


Festival musim gugur di halaman istana kekaisaran begitu meriah. Orang-orang bangsawan bisa memasuki halaman. Sementara para rakyat dengan kasta rendah hanya bisa menikmati kemeriahan festival di sepanjang jalan yang telah dihias rapi oleh berbagai lampion dan bunga-bunga.


Sungai ibu kota yang tenang dipenuhi oleh ikan koi, perahu naga khusus serta pertunjukan musik dan tarian.


Qing Mao dan Putri Lailan memegang lampion berbentuk karakter kepala hewan lucu. Mereka akan menyalakannya ketika malam tiba.


Ketika malam tiba, suasana menjadi lebih meriah. Beberapa pria bangsawan memakai topeng karakter hewan. Qing Mao dan Putri Lailan makan malam di istana. Jamuan telah disiapkan oleh istana kekaisaran.


Sebentar lagi, musim dingin akan tiba dan hasil panen selama beberapa bulan terakhir ini membuat rakyat lebih makmur.


"Apakah kamu ingin istirahat?" tanya Qing Mao pada Putri Lailan.


Sang putri tampaknya terlihat lelah dan tidak nafsu makan. Bahkan menghindari makanan yang cukup menyengat—seperti olahan makanan laut. Qing Mao suka makanan laut meski jarang untuk menikmatinya di rumah.


Gu Yihao dan An Daiyu duduk di seberang mereka. Tampaknya tidak terlalu bersemangat dengan festival musim gugur tersebut.


Putri Lailan setuju dan pergi dengan An Daiyu untuk kembali ke istana. Kini tinggal Gu Yihao dan Qing Mao.


"Apakah kamu bersenang-senang hari ini?" tanya pria itu sedikit kurang senang.


"Tentu saja ..." Qing Mao mengangguk. "Ah! Aku lupa ... Lailan berencana menyalakan lampion denganku malam ini. Sayang sekali tidak jadi," jelasnya.


"Kenapa tidak jadi? Aku bisa menemanimu," kata Gu Yihao. "Mao'er, kamu mengabaikanku hari ini."


"Bukankah kamu bersama An Daiyu?" cibir gadis itu saat melihat ekspresi pura-pura sedihnya.


"Apa yang bisa dilakukan sebagai sesama pria? Kami tidak mungkin membicarakan cinta sejenis."


"Kalian bisa mengobrol tentang pekerjaan dan situasi kehidupan pribadi." Qing Mao memberinya ide.


"Itu berbeda. Kami cenderung lebih membosankan saat bicara."

__ADS_1


"..." Benarkah? Qing Mao tidak yakin.


"Omong-omong, kenapa aku tidak melihat Han Baimo hari ini?" tanya Qing Mao saat teringat tentang beberapa pangeran dan tamu istana kekaisaran yang hadir. Namun tidak ada Han Baimo di antara mereka.


"Dia kembali ke negara Baicheng untuk menghadiri urusan istana. Kemungkinan besar akan kembali bulan depan," jawab Gu Yihao seraya mengerutkan kening.


Setelah makan malam, Gu Yihao menemani gadis itu menyalakan lampion di dekat sungai ibu kota. Sungai ibu kota terletak tak jauh dari istana kekaisaran. Di sisi kiri dan kanan merupakan jalan yang cukup lebar tapi kereta tak bisa masuk.


Orang-orang bisa datang untuk melihat ikan-ikan koi yang berenang bebas. Terkadang saat ada acara khusus istana kekaisaran, perahu naga akan lewat.


Perahu besar berbentuk naga khusus dibuat untuk para pangeran, putri serta keturunan kekaisaran.


Ketika festival musim gugur berakhir, setidaknya waktu sudah tengah malam.


Qing Mao dan Gu Yihao pulang sambil membawa udang bakar untuk Hyou. Sayangnya, Gu Yihao tidak berniat untuk pergi dari rumah gadis itu dan berbaring nyaman di ranjangnya.


"Kenapa kamu tidak pergi?" Qing Mao yang melihatnya mulai berpikir menguasai tempat tidur pun langsung kesal.


Gu Yihao menopang kepala dan tersenyum ke arah gadis itu. "Mao'er, bukankah kita sering tidur seranjang?"


Mendengar pertanyaan itu, Qing Mao memutar bola matanya. Apakah Gu Yihao sedang membicarakan cinta di kehidupan sebelumnya?


"Kemarilah dan berbaring di sampingku. Ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu," kata Gu Yihao seraya melambai padanya.


Mau tidak mau, Qing Mao berbaring di samping pria itu. "Ada apa?"


"Tahukah kamu bahwa Lailan hamil?"


Qing Mao mengerucutkan bibirnya dan tidak bicara dalam waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya dia menghela napas panjang.


"Aku menebaknya. Aku tidak sengaja menyentuh denyut nadinya saat menikmati acara festival. Usia kandungan seharusnya dua bulan?"


"Ya." Gu Yihao membenarkan. "Karena masalah ini, An Daiyu tidak bisa mengaku pada permaisuri Xue karena khawatir akan membuatnya marah besar."


"Tapi jika tidak memberi tahu permaisuri, masalah ini akan semakin besar."


"Ya. Karena itu Raja butuh bantuanmu," kata Gu Yihao.


"Tidak heran Lailan sepertinya kurang senang hari ini. Kupikir dia bermasalah dengan An Daiyu. Bantuan apa? Kenapa ini ada hubungannya denganku?" Qing Mao menatapnya curiga. "Jangan bilang kamu menjual namaku?"

__ADS_1


"Kamu pintar!" Gu Yihao terkekeh dan mencium pelipis gadis itu. "Nah, Raja ini membutuhkan namamu."


"..." Bisakah aku menolak? Pikir Qing Mao. Dia langsung mendengus kesal.


__ADS_2