
GU YIHAO sedikit tertegun saat gadis itu bertanya. Tumben sekali gadis itu menjadi sedikit perhatian padanya. Walaupun Gu Yihao tidak tahu alasannya, ia hanya mengangguk.
Tak berapa lama, pelayan membawa sarapan ke kamar tamu dan meletakkannya di atas meja. Qing Mao sudah duduk lebih awal dan mengambil mangkuk nasi. Ia tidak mau melihat pria itu karena selalu merasa jika Gu Yihao memperhatikannya.
"Makanlah dulu dan lanjutkan pekerjaanmu nanti," katanya.
Gerakan tangan Gu Yihao yang memegang kuas tulis pun kaku. Ia melirik gadis itu yang mulai makan sarapannya sendiri. Senyumnya pun segera mengembang.
"Kenapa begitu perhatian? Bukankah kamu membenci Raja ini?" Meski dia senang, tapi tak lupa jika Qing Mao membencinya. Dia telah melukai hati gadis itu empat tahun lalu sehingga sulit untuk bergaul seperti di masa lalu.
"Apa salahnya jika aku memintamu untuk sarapan?!" Gadis itu mencibir dan tak mau mengakuinya. "Hanya ... terima kasih untuk semalam," gumamnya.
Gu Yihao mendengarnya meski pelan. Dia meletakkan kuas dan bangkit dari duduk, menghampiri meja kamar tamu. Setelah duduk di seberang gadis itu, Gu Yihao juga mengambil mangkuk nasi dan sumpitnya sendiri.
"Bukan masalah besar. Ini kewajiban Raja. Apakah kamu ingat apa yang dimimpikan semalam?"
Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku hanya tahu jika itu menyeramkan. Omong-omong, apakah kamu tahu tentang seseorang bernama Gu Wei?"
Tiba-tiba saja Gu Yihao sedikit tercekat. Gu Wei? Memikirkan nama ini, pria itu agak kaku untuk sementara waktu hingga Qing Mao berhasil menangkap keanehannya. Tampaknya Gu Yihao tahu sesuatu tentang Gu Wei? Lagi pula, marganya juga sama.
Setelah menyesuaikan suasana hati, Gu Yihao menghela napas panjang dan melanjutkan makan. "Kenapa kamu bertanya tentang ini? Apakah ini ada kaitannya dengan mimpimu?"
"Tidak ... Tapi ..." Dia tidak yakin untuk menceritakannya atau tidak. Bukankah itu konyol? "Tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang penting. Tiba-tiba saja aku ingin tahu."
Gu Yihao tersenyum sedikit ironis. "Dia adalah sosok yang digambarkan dalam sejarah Negara Quentian sebagai roh jahat yang memangsa kebaikan," jelasnya.
"Roh jahat?" gumam Qing Mao justru lebih aneh. "Pernahkah itu muncul?"
"Raja ini tidak pernah melihatnya. Namun reruntuhan yang dipercaya sebagai bukti pertarungan mendiang kakek dengan Gu Wei masih ada."
__ADS_1
"Bisakah aku pergi melihatnya?" Tiba-tiba saja Qing Mao bertanya cepat.
"..." Gu Yihao tidak yakin apa yang membuat Qing Mao begitu ingin tahu tentang Gu Wei. Namun ia mengangguk. Tidak masalah jika ingin membawa gadis itu ke reruntuhan, tapi ...
"Bukankah Hyou memintamu untuk tidak berkeliaran jauh? Mungkin kita bisa menunggu laki-laki itu datang."
Qing Mao tersenyum datar. "Tidak apa-apa. Hyou hanya berkata jika selama dekat denganmu, semuanya masih baik-baik saja. Namun ... Kamu selesaikan saja dulu pekerjaanmu. Aku tidak terburu-buru."
"Pekerjaanku akan selesai sebelum siang. Kita bisa pergi setelah makan siang dan kembali sebelum sore."
"Ya, tidak masalah." Gadis itu mengangguk dan berkompromi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat siang tiba, Gu Yihao membawa Qing Mao ke tempat di mana reruntuhan berada. Reruntuhan bekas pertarungan antara pensiunan kaisar dengan Gu Wei—roh jahat yang dikatakan berbahaya. Tempatnya agak terpencil tapi tak terlalu jauh dari keberadaan Istana Kekaisaran. Setidaknya dari halaman reruntuhan, Qing Mao bisa melihat sedikit bangunan Istana Kekaisaran.
"Tampaknya tidak pernah dikunjungi?" tebak Qing Mao saat melihat jika Gu Yihao sudah berjalan di depannya.
"Ya. Ada penjaga khusus yang menjaga tempat ini. Mereka bersembunyi di balik bayang-bayang. Tempat ini memang sedikit berbahaya meski hanya berupa reruntuhan. Berhati-hatilah. Semua barang di sini mungkin rapuh," jelas Gu Yihao.
"Ya." Qing Mao mengangguk.
Bangunan di depan Qing Mao mungkin memiliki tinggi lima meter lebih. Gu Yihao bercerita jika bangunan asli tempat ini mencapai sepuluh meter. Semuanya besar dan luas, seperti aula raksasa yang bisa menampung banyak orang.
Dulunya reruntuhan ini digunakan untuk orang-orang Istana Kekaisaran membuat sebuah acara penting, pelelangan dan lain-lain. Namun sejak roh jahat Gu Wei muncul, pensiunan kaisar melawannya. Tidak tahu apa alasannya, namun pensiunan kaisar juga pernah berkata pada Gu Yihao untuk hidup dengan baik dan lindungi dia. 'Dia' yang dimaksud di sini mungkin adalah pemilik cincin batu giok hijau, Qing Mao.
Jika tahun itu dia mengetahui bahwa Qing Mao adalah pemilik cincin batu giok hijau, mungkin akan berbeda lagi ceritanya.
Ada alasan kenapa Qing Mao ingin pergi ke reruntuhan ini sekarang. Dia ingin tahu siapa Gu Wei dan apa hubungannya dengan framen ingatan itu. Ia sama sekali tidak pernah mengalaminya bukan? Tanpa sadar, mereka sudah tiba di tengah aula reruntuhan.
__ADS_1
"Ini adalah titik pusat reruntuhan. Auranya negatif, kita tak bisa lama-lama di sini," kata Gu Yihao.
"Aku .... Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja. Tapi ... Apa ini?" Qing Mao menatap ke bawah dan melihat ada pola raksasa tergambar di lantai reruntuhan yang sudah rusak.
Gu Yihao mengerutkan kening dan mengeceknya juga. Dia tak pernah memperhatikan ini sebelumnya sehingga mengecek pola apa yang tergambar di bawah. Lagi pula, lantai reruntuhan dipenuhi oleh debu, tanaman merambat bahkan beberapa tembok yang roboh. Sehingga tidak tahu bentuknya seperti apa.
Namun Qing Mao yakin jika itu pasti lingkaran dengan beberapa pola khusus. Qing Mao dan Gu Yihao menyingkirkan beberapa tanaman merambat dan memeriksa pola. Entah apa yang terjadi, Qing Mao tanpa sengaja menginjak lantai yang memiliki mekanisme di dalamnya. Gadis itu terkejut dan tertegun tapi tak dipedulikan.
Dia berpikir jika lantainya memang sudah lama sehingga fondasinya kurang bagus.
"Sepertinya ini simbol totem," kata Gu Yihao setelah mematikan jika dirinya melihat salah satu gambar hewan legenda di daratan Cina.
"Totem? Apakah hal seperti itu masih dipercayai?"
"Mungkin. Dulu mungkin saja bukan untuk ritual apapun, namun hanya hiasan. Kakek tidak pernah menceritakan ini sebelumnya," jelas pria itu juga segera berpikir keras. Namun dia yakin jika pensiunan kaisar tidak pernah menceritakan tentang lingkaran totem di lantai reruntuhan.
"Apakah kaisar tahu juga?"
"Entahlah. Raja ini akan bertanya padanya nanti."
Ketika Qing Mao dan Gu Yihao mengobrol seputar tempat ini, tiba-tiba ada gempa bumi. Lebih tepatnya, reruntuhan tersebut bergoyang sedikit dan lantah berpola totem di bawah mereka mengeluarkan cahaya samar. Tidak tahu apa yang terjadi, Gu Yihao sudah memiliki firasat buruk dan hendak membawa Qing Mao meninggalkan tempat tersebut.
"Cepat, menjauh dari sana!!"
Sayangnya, ketika dia berjalan menuju Qing Mao, beberapa tanaman merambat tiba-tiba menjadi hidup dan bergegas menuju Qing Mao, melilit tubuhnya. Gadis itu berdegup dan segera menggunakan kemampuan seni bela dirinya untuk melepaskan tanaman merambat, tapi tetap saja tidak berhasil sepenuhnya.
"Apa ini?" Gadis itu setengah berteriak seraya mengeluarkan belati dari ruang cincin batu giok hijau. Ia langsung melebarkan matanya saat melihat jika lingkaran totem di bawah mereka mengeluarkan cahaya yang kuat.
"Mao'er!!" Gu Yihao langsung bergegas ke arahnya dan memeluk dia sebelum tanam merambat itu menenggelamkannya.
__ADS_1