
DI SAAT Gu Wei berusaha menghancurkan lingkaran totem penyegelan, Han Baimo sudah mengeluarkan sebuah gulungan tua. Ketika gulungan tua tersebut dibuka, Han Baimo mengigit jarinya dan meneteskan darah ke isi gulungan tersebut.
Melihat hal ini, Gu Wei justru memiliki firasat buruk yang lebih besar lagi. Lingkaran totem penyegelan mengeluarkan cahaya yang lebih kuat. Kali ini, lingkaran totem penyegelan tersebut mengeluarkan beberapa sulur spiritual yang langsung menjerat tubuh Gu Wei.
"Gu Wei, kamu telah membunuh banyak orang selama ini. Bahkan telah menentang takdir dan para dewa. Kali ini, aku ingin langit dan bumi menghukummu selamanya, tidak pernah dilahirkan kembali ke dunia ini," kata Han Baimo.
Karena lingkaran totem penyegelan menjerat Gu Wei, embusan angin yang ditimbulkan oleh energi spiritual berembus di tempat tersebut.
Tiba-tiba saja langit berawan gelap, membentuk pusaran di atas lingkaran totem penyegelan. Tak lama setelah itu, sebuah cahaya muncul dari pusaran awan dan melesat tepat ke arah totem berada.
Gu Wei tidak bisa menghindar saat cahaya tersebut mengenai totem. Dia berteriak kesakitan serta rasa panas seperti dibakar oleh api yang menyala-nyala.
Embusan angin di tempat tersebut menjadi sedikit panas, terlebih setelah cahaya dari pusaran awan mengenai lingkaran totem penyegelan.
Bahkan negara Quentian diguncang gempa bumi yang cukup besar hingga beberapa bangunan mengalami kerusakan parah. Istana Kekaisaran juga tidak luput dari kerusakan. Ada banyak bangunan terutama halaman istana selir yang runtuh.
Bencana tersebut seperti lebih mengerikan dari pada sedangan mayat hidup sebelumnya.
Para warga panik, berhamburan keluar rumah sambil mengambil beberapa barang yang bisa diselamatkan. Teriakan ketakutan serta tangisan anak kecil menggema, membuat suasana menjadi lebih mengkhawatirkan.
Tidak ada yang menduga akan terjadi bencana seperti itu.
Tanah retak, pepohonan roboh serta air sungai tiba-tiba saja meluap dan menyapu sebagian daratan. Meski tidak tinggi, tapi warga sudah khawatir jika bencana gempa bumi ini pertanda para dewa yang marah.
Mereka tidak melihat lorong cahaya yang muncul di langit karena sebelumnya, Hyou dan Chou telah membuat array penghalang untuk melindungi tempat tersebut.
__ADS_1
Di Istana Kekaisaran, Kaisar Gu dilindungi oleh penjaga kekaisaran menuju ke tempat yang lebih aman. Permaisuri Xue serta para selir lainnya juga berkumpul di sisi lain untuk menghindari bangunan yang runtuh.
Namun, tanah yang retak di bawah kaki mereka menjadi kekhawatiran lain. Bagaimana jika retakannya semakin lebar?
Para pangeran sibuk membantu evakuasi. Tapi waktunya mungkin tidak cukup.
"Bagaimana bisa ada guncangan tiba-tiba? Apakah sesuatu terjadi pada mereka?" An Daiyu terlihat khawatir.
"Aku tidak tahu. Gerhana hampir berakhir. Seharusnya tidak ada yang terjadi. Menurut saudara kesebelas, jika mereka gagal maka Gu Wei akan menyerang negara ini. Tapi belum ada tanda-tanda, seharusnya mereka baik-baik saja," jawab Gu Huiling.
Bahkan pangeran tertua—Gu Zhaoxin juga memiliki pemikiran yang sama seperti adiknya.
Mereka tak sengaja berpapasan dengan kedua penjaga rahasia Qing Mao—Dong Mei dan Fan Chen.
"Kalian tidak bersama Qing Mao?" tanya An Daiyu.
Tapi sebelum An Daiyu memberi tahu, dua penjaga gelap Gu Yihao juga tiba-tiba muncul.
"Kalian berdua tidak bisa pergi atau hanya akan menjadi penghambat bagi raja dan nona Qing," kata Xu Ren. Kembarannya, Xu Ran juga mengangguk.
"Tapi kami tidak bisa membiarkan nona dalam bahaya—"
"Ini takdir!" Xu Ran menukasnya. "Lebih baik kalian membantu kami mengevakuasi banyak orang ke tempat yang aman dan memastikan korban tidak banyak berjatuhan. Percayalah, mereka akan baik-baik saja," imbuhnya.
Dong Mei dan Fan Chen saling melirik. Keduanya sedikit pusing akibat tanah yang tak henti-hentinya bergetar.
__ADS_1
Baru setelah itu keduanya menyadari jika Xu Ran memanggul seorang pria tua di pundaknya.
"Siapa dia?" tanya Dong Mei.
"Oh, ini dokter Piao. Dokter pribadi raja kami. Dia berteriak-teriak saat guncangan terjadi jadi kami membuatnya pingsan," jawabnya.
"..." Begitu menyedihkan? Pikir kedua penjaga rahasia Qing Mao.
Mereka pun berpisah dan menjalankan tugas masing-masing, berusaha untuk menekan rasa khawatir pada tuan masing-masing.
An Daiyu serta pangeran lainnya juga tidak tinggal diam.
"Aku harap pasangan itu baik-baik saja," gumamnya saat memikirkan Gu Yihao dan Qing Mao. Lalu dia teringat dengan Putri Lailan di rumah. Putri Lailan sedang hamil saat ini. Dia harap istrinya juga baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat Qing Mao.
Di sekeliling lingkaran totem penyegelan, tanah retak lebih parah. Tekanan energi spiritual dari lingkaran tersebut membuat mereka tidak berani untuk mendekat.
Qing Mao bahkan sedikit pucat.
Cincin batu giok hijau di tangannya tiba-tiba saja dilepas oleh Hyou.
Qing Mao bingung. Cincin batu giok hijau selama ini tidak bisa lepas dari jarinya. Namun kini Hyou melepaskannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu melepas cincin?" tanyanya dengan ekspresi bingung.