Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Mengunjungi Kediaman Wakil Jenderal Pei


__ADS_3

DUA PENJAGA gelap Gu Huiling melaporkan segalanya tentang apa yang terjadi di istana putra mahkota. Lalu ada satu hal lagi yang menarik, banyak serangga dan ular berbisa berkumpul di sekitar halaman kediaman perdana menteri keuangan.


Para penjaga dan pelayan yang bangun lebih awal berteriak ketakutan seraya meminta tolong untuk menyingkirkan segala jenis serangga dan ular berbisa tersebut.


Karena curiga ada pihak lain yang bermain tangan, Nu Zhengming pun memanggil seseorang untuk menganalisis masalah tersebut dan bahkan melaporkannya kepada Kaisar Gu.


Tapi menurut laporan, tak ada yang salah dengan halaman kediaman perdana menteri keuangan Nu dan semuanya baik-baik saja. Tidak ada bubuk racun mencurigakan atau sesuatu yang menarik perhatian serangga-serangga tersebut untuk berdatangan.


Meski kini sudah dibersihkan, beberapa serangga masih berkeliaran di sekitar halaman. Hal ini membuat Nu Zhengming sakit kepala dan menyalahkan segalanya pada Nu Qingge.


Gu Huiling yang mendengarnya pun ingin tertawa tapi khawatir ada pihak lain mengintainya, dia hanya berkata dengan nada pelan.


"Sepertinya orang itu melakukannya lagi," gumamnya.


"Yang Mulia ... Mungkinkah pihak lain memiliki kebencian yang mendalam pada keluarga Nu?" tanya salah satu bawahannya.


"Mungkin. Tapi ini aneh ..." Gu Huiling meletakkan cangkir tehnya dan berpikir keras.


Kenapa pihak lain ingin sekali membuat keluarga perdana menteri keuangan Nu berantakan dan juga membantunya untuk menjadi kaisar masa depan?


Tidak ada kandidat yang cocok untuk musuh keluarga Nu. Hingga Gu Huiling kebingungan. Siapa kira-kira yang berani bercampur dengan masalah besar seperti itu bahkan membuat peristiwa luar biasa berturut-turut tanpa takut hukuman kekaisaran?


Jika dia memikirkan Qing Mao yang melakukannya, itu bahkan lebih tidak mungkin lagi. Gadis itu tidak memiliki banyak kejutan selama empat tahun terakhir dan hanya mengandalkan token bebas kematian yang dimiliknya sejak kecil.


Lalu ada Gu Yihao ... Mengenai pangeran kesebelas ini, Gu Huiling juga ragu. Setidaknya, Gu Yihao masih saudara kesebelasnya dan tidak memiliki konflik apapun sejak awal. Belum lagi berteman dengan An Daiyu ....


Gu Huiling menghela napas tidak berdaya dan menggelengkan kepala. Apapun itu yang jelas pihak lain membantunya. Dia mengambil buku tentang informasi Gu Wenlian yang diberikan oleh pihak lain padanya.

__ADS_1


Waktunya untuk membuat rencana besar ....


"Jangan hiraukan itu untuk saat ini. Jika kita menyinggung kelompok yang lebih kuat, semua usahaku akan sia-sia. Lagi pula pihak lain membantuku untuk mencapai semua ini, maka aku tidak perlu repot-repot untuk mengetahui identitas pihak lain. Selama ... pihak lain tidak menargetkanku juga," gumam Gu Huiling Sedaya mengusir penjaga gelap yang baru saja melapor padanya.


Meskipun dia bergumam, penjaga gelapnya mampu mendengar dengan baik karena telah belajar seni bela diri. Akhirnya, Gu Huiling hanya bisa menikmati teh seraya meninjau kembali rencananya.


Tapi ... Apakah dia harus pergi ke tempat gadis itu untuk mencari petunjuk lain?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena dua insiden yang terjadi secara berurutan, warga sekitar akhirnya percaya jika kediaman perdana menteri keuangan Nu benar-benar dikutuk oleh para dewa dan Nu Qingge telah menderita semacam kutukan mengerikan yang bisa membawa bencana bagi negara.


Karena desas-desus sangat kuat, mereka juga mengaitkan segalanya dengan Istana Putra Mahkota. Karena beberapa bangunan di Istana Putra Mahkota baru saja terbakar semalam dan berita banyaknya hewan beracun di halaman keluarga perdana menteri keuangan Nu pagi tadi, akhirnya sampai juga ke telinga kaisar.


Kaisar Gu hampir sakit kepala untuk mengurus masalah ini dan meminta beberapa menteri serta para pangeran yang memiliki kemampuan untuk pergi menenangkan masyarakat. Kaisar Gu juga memanggil Gu Wenlian untuk datang ke Istana Kekaisaran.


Ditambah masalah ini, semuanya hanya kekacauan besar. Bahkan Kaisar Gu tak ragu-ragu untuk menghilangkan posisi putra mahkotanya jika masalah ini tetap berlanjut.


Meninggalkan pembicaraan panas di Istana Kekaisaran, suasana hati Qing Mao di tempat lain kini berbeda ....


Gu Yihao membawa gadis itu ke tempat di mana kediaman wakil jenderal Pei berada. Dua penjaga yang melihat adanya kereta mewah berhenti itu pun tak mengubah ekspresinya, namun sorot mata mereka penasaran.


Saat dua orang turun dari kereta kuda, dua penjaga yang berdiri tegak itu akhirnya sedikit goyah dan agak kebingungan ketika melihat pria jangkung berwajah dingin membantu seorang gadis keluar darai kereta.


Dan akhirnya, mereka mengenalinya. Itu Gu Yihao, berpakaian bangsawan dan tampak mewah tapi auranya tidak menjijikkan sama sekali. Jenis kesombongan langka ini sangat menarik perhatian mereka.


Gu Yihao terlihat seperti seorang raja yang baru saja turun dari istananya dan menginjak lumpur untuk menemukan sesuatu yang baru di dunia.

__ADS_1


Tapi ... Melihat gadis di samping Gu Yihao, mereka tidak tahu.


"Kami datang untuk menemui nyonya Pei," kata Gu Yihao memimpin pembicaraan.


Dua penjaga gerbang rumah wakil jenderal Pei saling melirik. Tubuh kekar mereka mungkin terlihat garang tapi hati mereka sudah lama gemetar saat melihat keberadaan Gu Yihao.


Di ibu kota seperti ini, siapa yang tidak tahu Gu Yihao? Seorang dewa perang di medan perang dan status Raja Yi yang melekat di negara ini, tak ada yang bisa menyinggungnya. Bahkan Kaisar Gu yang bisa mengambil status pangeran dari Gu Yihao sekalipun masih belum cukup.


Status Raja Yi ini telah ditetapkan seumur hidup.


"Ini ... Apakah Yang Mulia sudah—"


"Tidak ada janji sebelumnya," tukas Gu Yihao tidak sabar.


"..." Jadi apakah kami harus melapor dulu atau ....


Namun kedua penjaga tidak berani menyinggung yang kuat dan akhirnya meminta penjaga di dalam gerbang untuk menyampaikan masalah ini pada Nyonya Pei.


Nyonya Pei ada di rumah sepanjang hari dan mengurus putranya yang masih kecil. Ketika penjaga menyampaikan berita tersebut, Nyonya Pei terkejut dan tertegun sebentar. Meski dia sudah menebak apa yang membuat keduanya datang, suasana hatinya segera stabil.


"Biarkan mereka masuk," kata Nyonya Pei agak gugup. Sebelum penjaga yang melapor itu berbalik dan melangkah pergi, Nyonya Pei bangkit dari duduknya. "Tidak, aku akan menyambutnya sendiri," imbuhnya.


Akhirnya Nyonya Pei berjalan agak cepat menuju halaman depan dan meminta mereka untuk membuka gerbang. Hari ini suaminya sedang mengurus masakah lain untuk melunasi utang yang tersisa dan Nyonya Pei tidak mau membuat masalah di luar.


Terakhir kali putranya yang masih kecil itu hampir mengalami kecelakaan, Nyonya Pei selalu merasa tertekan.


Saat pintu gerbang dibuka, Gu Yihao dan Qing Mao masuk dan disambut hangat oleh Nyonya Pei. Gaya pakaian wanita itu terlihat anggun dan sopan, Gu Yihao mengangguk sebagai balasan sopan santun.

__ADS_1


"Apakah ini terkait dengan hadiah yang saya berikan pada Nona Qing?" tanya Nyonya Pei langsung pada intinya, mencoba membuat pengaturan tempat yang cocok untuk membicarakannya.


__ADS_2