Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Istana Penguasa Benua Quentian


__ADS_3

KEESOKAN paginya, Qing Mao pergi ke Istana Kekaisaran untuk bertemu permaisuri. Kebetulan, Putri Lailan sedang tidak ada di istana. Menurut berita, putri itu pergi dengan An Daiyu ke pelelangan bunga persik.


Mengetahui Qing Mao datang, Permaisuri Xue awalnya terkejut. Gadis itu jarang menemuinya di istana. Kecuali ada sesuatu yang ingin disampaikan.


"Biarkan dia datang," katanya.


Tak lama setelah itu, Qing Mao masuk ke istana Permaisuri Xue dan menyapa. Permaisuri Xue membebaskannya dari segala formalitas. Keduanya berbicara di tempat yang tenang. Pelayan telah menyajikan teh dan camilan manis.


Tidak ada pembicaraan serius di awal. Keduanya berbasa-basi terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke topik lain.


"Kedatanganmu pasti bukan tanpa alasan. Ayo kita bicarakan dengan santai." Permaisuri Xue tahu jika Qing Mao membenci Istana Kekaisaran sejak keluarga Qing dijatuhi hukuman mati oleh Kaisar Gu.


Qing Mao menghela napas terlebih dahulu setelah menyesap tehnya. "Ini tentang Lailan dan An Daiyu."


"Ada apa dengan keduanya? Apakah mereka bertengkar?"


"Tidak. Ini masalah lain," jawab Qing Mao. Setelah yakin jika Permaisuri Xue tampaknya tidak marah, dia bertanya, "Apakah Permaisuri benar-benar merestui hubungan keduanya?"


"Tentu saja. Kenapa tidak? Tuan muda An sangat baik dan putriku tidak akan dirugikan jika menikah dengannya. Hanya saja aku tidak tahu kapan mereka akan membicarakan pernikahan." Permaisuri Xue menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Jangan membuatku penasaran. Katakan apa yang sebenarnya terjadi," imbuhnya.


Qing Mao mengerutkan keningnya dan tanpa basa-basi langsung berkata, "Kalau begitu aku lega dan tidak akan ragu lagi untuk mengatakan jika Lailan hamil."


"Oh, tentu saja—" Permaisuri Xue tertawa ringan tapi kemudian segera tertegun. Senyumnya membeku. "Apa katamu?"


"Lailan hamil, kemungkinan besar dua bulan." Qing Mao mengulanginya lagi.


"..." Permaisuri Xue yang belum mencerna berita itu pun kini terlihat linglung.


Putrinya hamil? Dua bulan.


Wajahnya segera memucat. "Lalu kenapa dia tidak memberi tahuku tentang ini jika dia ... dia hamil?" Suara Permaisuri Xue sedikit lebih pelan.


"Lailan dan An Daiyu takut kamu marah dan bingung harus berbuat apa. Lailan hamil sebelum menikah. Sebagai seorang putri, dia khawatir reputasinya akan memengaruhimu sebagai permaisuri."

__ADS_1


Mengetahui jika Putri Lailan hamil, Permaisuri Xue tidak lalai lagi dalam perbincangan kali ini. Dia menanyakan segala yang diketahui Qing Mao sebelum akhirnya meminta Putri Lailan dan An Daiyu menghadap ke istananya.


Tapi mengetahui jika keduanya berada di pelelangan, Permaisuri Xue khawatir jika kandungannya putrinya dalam masalah. Selama dua bulan ini tidak dirawat dengan baik. Bagaimana jika terjadi sesuatu.


Permaisuri Xue tidak marah seperti yang ditakutkan oleh An Daiyu ataupun Putri Lailan sendiri. Justru lebih senang. Akhirnya Permaisuri akan menjadi seorang nenek.


Ketika Gu Huiling naik takhta di masa depan, dia bisa tinggal bersama cucunya. Setidaknya tidak akan terlalu tua untuk bermain setiap hari.


Ketika Qing Mao meninggalkan istana permaisuri, ekspresinya kebingungan. Dia tak menyangka jika respons dari permaisuri akan begitu mudah dilewati.


"Sepertinya aku terlalu berpikiran buruk," gumamnya.


Sebuah kereta mewah dari Istana Raja Yi berhenti tak jauh dari keberadaan Qing Mao. Gu Yihao yang sengaja datang untuk menjemputnya pun segera memintanya untuk naik.


Saat Qing Mao berada di dalam kereta, Gu Yihao segera memeluk dan menciumnya. "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" Gadis itu merasa malu.


"Bagaimana pembicaraanmu dengan permaisuri?" tanya pria itu serius.


"Tentu saja berhasil. Dia sama sekali tidak marah."


"Kamu tahu ini?" Qing Mao menatapnya curiga.


"Tentu saja. Permaisuri sangat menyayangi Lailan. Bagaimana mungkin marah?"


"Lalu kenapa kamu masih memintaku untuk datang?!" Gadis itu marah.


Gu Yihao ingin mengatakan alasannya. Tapi mungkin itu akan membuatmya semakin marah jadi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk gadis itu untuk menenangkan kemarahannya.


"Jangan marah. Aku hanya ingin kamu dekat mengunjungi permaisuri. Dengan begini, dia tak akan berpikir lagi jika kamu membencinya."


Qing Mao tidak berkata-kata lagi tentang ini. Dia sama sekali tidak membenci Permaisuri Xue. Dia hanya tidak suka keluarga Qing dihukum mati setelah dituduh sebagai pengkhianat.


Namun itu terjadi sejak dirinya masih belum mengingat kehidupan masa lalunya bersama Gu Yihao.

__ADS_1


"Bukankah kamu sibuk hari ini?" tanyanya mengganti topik.


"Urusanku sudah selesai. Aku ingin membawamu ke suatu tempat."


Melihat pria itu memiliki ekspresi yang misterius, Qing Mao menjadi lebih penasaran. Pada akhirnya dia tidak bertanya lagi.


Setelah turun dari kereta, Gu Yihao membopongnya ke dalam hutan tapi tidak berniat untuk berhenti. Pria itu membawanya ke sebuah tempat yang membuatnya kagum.


Setelah keluar hutan, Qing Mao melihat pemandangan di depannya. Sebuah istana besar yang luas. Ada beberapa pilar menopang istana tersebut. Saat Qing Mao mengingat-ingat, tampaknya dia familiar dengan tempat tersebut.


"Bukankah ini istana penguasa benua Quentian?" tanyanya merasa tidak percaya. "Bagaimana bisa sama persis dan sangat ... indah! Ini lebih indah daripada istana sebelumnya."


Qing Mao tentu saja tahu tentang istana yang dulu ditempati oleh Gu Yihao sebagai penguasa benua Quentian. Pada waktu itu, di sekitar istana dikelilingi oleh taman bunga dan kolam ikan koi. Qing Mao menikah dengannya dan tinggal di istana tersebut.


Siapa yang menyangka akan bisa melihatnya lagi setelah sejarah berlalu.


Gu Yihao tersenyum, memegang tangan gadis itu dan mengajaknya masuk. "Aku membangunnya kembali untukmu. Di masa depan, bahkan jika aku bukan lagi penguasa benua Quentian, istana ini akan tetap menjadi rumah kita," katanya. "Apakah kamu suka?"


"Ya, tentu saja! Sayangnya, tidak ada kolam ikan dan taman lagi." Qing Mao hanya melihat istana megah yang telah diurus oleh banyak pelayan.


"Jangan khawatir, itu akan segera dibangun di kemudian hari. Istana ini baru saja selesai dibangun dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membangunnya. Beberapa material yang tidak ada lagi di zaman ini sehingga mungkin tidak sama seperti sebelumnya," jelas Gu Yihao. Dia mencium punggung tangan gadis itu dan mengajaknya berkeliling.


Para pelayan yang tak sengaja melihat betapa mesra keduanya pun segera memerah. Di masa depan, Raja Yi akan tinggal di istana ini bersama nona Qing. Lalu melahirkan pangeran atau putri kecil ... kehidupan lengkap. Pikiran para pelayan tidak disadari oleh keduanya.


Gu Yihao memperkenalkan semua bagian yang ada di istana barunya. Ada beberapa perubahan tapi Qing Mao puas. Ketika taman dan kolam ikan koi nanti dibuat, jalan juga akan dibangun.


Kereta akan mudah keluar dan masuk.


"Tapi ... Tanah ini seharusnya tidak berdiri atas namamu?" tanya Qing Mao ketika teringat dengan sejumlah kekayaan Gu Yihao.


"Ya, memang. Kaisar yang memberikannya padaku setelah memintanya. Dia juga tahu sedikit sejarah tentang Istana Penguasa Benua Quentian yang pernah berjaya di masa lalu. Jadi tidak sulit untuk meminta tanah ini," jawabnya sangat percaya diri. Dia mengelus kepala gadis itu. Rambutnya salah halus sehingga dia selalu khawatir.


"Mao'er ...," panggilnya.

__ADS_1


Qing Mao segera menoleh padanya. "Ada apa?"


__ADS_2