Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Demam Berkepanjangan Tanpa Sebab


__ADS_3

QING MAO mengangguk kecil. Bibirnya kering dan mungkin pecah-pecah. Dia haus. Jadi Gu Yihao segera mengambil segelas air yang berada di atas meja nakas. Namun sebelumnya dia membantu gadis itu bersandar di kepala ranjang.


Setelah minum air, Qing Mao bisa merasa lega. Dia menanyakan ke mana Hyou pergi dan kenapa Gu Yihao ada di tempatnya.


"Hyou pergi untuk mengurus sesuatu. Dia memintaku untuk menjagamu. Jangan khawatir, dia akan kembali dalam beberapa hari," jawabnya.


"Begitu lama?" gumam gadis itu.


"Tidak apa-apa. Aku akan menjagamu. Itu pesannya. Selama dia tidak ada, kamu dilarang keluar dulu," katanya.


"Kamu mengaturku?" Gadis itu mengerutkan kening.


"Tidak, aku tidak mengaturmu. Dia sendiri yang berkata demikian. Dia khawatir jika apa yang terjadi padamu saat ini adalah ulah seseorang. Sehingga dia memintamu untuk tidak keluar rumah," jelasnya.


Qing Mao hanya bisa menghela napas dan memikirkan apa yang baru saja menimpanya. Dia ingat jika saat itu, dia merasa jantungnya diremas sesuatu. Lalu melihat bayangan hitam di satu sisi, menatapnya dengan aneh. Awalnya dia mengira jika itu hanyalah orang lain yang bersembunyi. Namun ....


Mungkinkah seseorang mengincarnya? Tapi siapa?


Meski Hyou sudah mengeluarkan asap kegelapan dari tubuh gadis itu, tapi kenyataannya masih lemah. Qing Mao demam selama dua hari dan Gu Yihao sama sekali tidak mengambil langkah keluar dari ruang itu. Melalui bantuan pelayan di rumah, ia mengerjakan beberapa hal.


Bahkan An Daiyu mau tidak mau berkunjung ke sana sambil membawa sup iga sapi yang sebelumnya tidak diambil Qing Mao karena tiba-tiba pergi. Jadi An Daiyu membuat sup iga sapi yang baru dan kebetulan gadis itu sedang sakit.


"Apakah demamnya serius? Dua hari tidak sembuh?" tanya An Daiyu seraya membuka kipas lipatnya. Hari ini cukup panas.


"Ya. Demamnya hanya turun sebentar, lalu kambuh lagi. Aku sudah bingung harus bagaimana. Hyou juga belum kembali. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan?"


"Kepala pelayan di rumah gadis ini? Dia belum kembali?"


Gu Yihao menggelengkan kepala. Bahkan Fan Chen dan Dong Mei sendiri khawatir dengan kondisi tuannya itu. An Daiyu bahkan kaget saat melihat sepuluh penjaga rahasia tiba-tiba muncul dan menanyakan keadaan Qing Mao. Pria playboy itu mengedipkan matanya berulang kali. Seberapa kuatnya mereka? Pikirnya.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kepastian dari Gu Yihao, mereka kembali lagi ke bayang-bayang. An Daiyu bergumam tidak jelas dan mempertanyakan, bagaimana bisa kesepuluh penjaga rahasia itu muncul tanpa sepengetahuannya? Seberapa hebat para bawahan yang dilatih gadis itu?


"Apakah sup iga sapi nya pedas?" tanya Gu Yihao.


"Tidak. Aku buat dengan sedikit cabai hari ini. Apakah gadis itu bisa memakannya?"


"Aku akan bertanya dulu apakah gadis itu mau makan atau tidak," jawabnya.


An Daiyu mengikuti Gu Yihao ke lantai dua di mana kamar gadis itu berada. Saat masuk, aroma esensial oil pun memenuhi ruangan. Gadis itu berwajah pucat dan bersandar di kepala ranjang. Dia hanya bisa makan kue-kue kering untuk membuat perutnya tetap terisi.


Selama dua hari terakhir Gu Yihao ada di rumahnya, Qing Mao tidak lagi merasa heran ketika melihatnya di sini. Ia mengerutkan kening ketika An Daiyu juga datang sambil membawa sesuatu.


Dia tidak berkata apapun sampai akhirnya Gu Yihao kembali mengecek suhu tubuhnya. Masih panas.


"Apakah kepalamu sakit?" tanyanya.


"Ya," jawabnya ringan. "Obatnya tidak bekerja. Tidak apa-apa. Tunggu Hyou kembali, dia punya cara seharusnya," imbuh Qing Mao.


"Apakah ada tambahan jamur?"


"Tidak," jawabnya pelan. Ia menatap An Daiyu untuk mengklarifikasi.


Pria playboy itu pun terbatuk ringan dan menggelengkan kepala. "Tidak apa. Kamu bisa tenang," katanya.


An Daiyu sangat penasaran dengan rumah gadis ini sejak awal. Tanpa diduga, ternyata isinya benar-benar berbeda dengan rumah-rumah warga. Bahkan dia baru tahu jika rumah seperti ini terlihat cukup nyaman dan elegan.


Kamar tidur besar gadis itu tidak dipasang tiang atau kelambu, benar-benar terbuka begitu saja. Ada meja nakas, lemari dan juga sofa.


Ia pergi ke sofa dan meletakkan bingkisan sup iga sapi di meja. Lalu mengambil duduk. Sofanya juga sangat nyaman, empuk dan tidak keras sama sekali. Sungguh membuat suasananya berbeda.

__ADS_1


"Nona Qing, dari mana mendapatkan tempat duduk seperti ini? Sangat nyaman. Tempat dudukku juga sofa, tapi tidak selembut ini," katanya jujur seraya mengelus permukaan sofa.


"Aku tidak bisa memberi tahumu. Tapi aku harus jujur jika sofa itu tidak akan kamu dapatkan lagi di manapun." Qing Mao tersenyum ringan. Ia melihat Gu Yihao pergi untuk mengambil mangkuk di dapur.


"Sayang sekali," gumam An Daiyu hanya bisa menghilangkan keinginannya untuk memiliki sofa seperti ini. Namun ...


"Bisakah kamu menjualnya padaku? Berapa banyak uangnya? Aku akan membayar," katanya.


"..." Apakah kamu yakin? Pikir gadis itu dengan sudut mulut berkedut.


Ia menggelengkan kepala. Dia khawatir jika barang-barang di zaman modern ini tidak ada di tempat lain, sehingga ia tidak bisa memberikannya atau menjualnya pada siapapun.


Rumah Qing Mao sangat besar. Tentu saja karena Hyou berkata dirinya kaya raya di zaman ini. Tapi selama dua hari terakhir, dia tidur dan bermimpi aneh. Kadang mimpi yang berulang seperti seorang gadis yang mirip dengannya melakukan bunuh diri karena cintanya pada Gu Yihao. Sehingga ketika dia bangun dan melihat Gu Yihao, selalu ada kecanggungan.


Dia belum memberi tahukan semua ini pada Hyou lagi ataupun Gu Yihao. Mungkin hanya bunga tidur biasa karena dia sedang tidak sehat selama beberapa hari terakhir.


Saat Fu Yihao kembali dan memindahkan sup iga sapi ke mangkuk, aroma kaldu yang khas pun menguar. Gadis itu merasa jika rasa lapar menghampirinya. Lagi pula ini sudah siang hari dan waktunya makan siang.


Tidak ada yang salah dengan rasa supnya. Qing Mao memujinya di depan An Daiyu. Tak heran jika sup iga sapi di Pelelangan Bunga Persik akan laris, ternyata memang enak. Hanya saja Qing Mao demam sekarang sehingga nafsu makannya tidak terlalu bagus.


Gu Yihao hanya meminta pelayan membuat minuman atau makanan yang bisa membuat tubuh menjadi lebih sejuk. Akhirnya pelayan pun membuatkan puding. Gu Yihao tidak tahu apa itu puding, teksturnya ternyata sama dengan agar-agar yang sering dimakan oleh para wanita di rumah. Termasuk Putri Lailan.


Tak berapa lama setelah Gu Yihao duduk di samping An Daiyu, pria playboy itu berbisik, "Hao Hao ... Orang-orang mulai berdiskusi jika kamu menginap di rumah gadis ini. Bahkan mengira jika Qing Mao merayumu. Bukan hanya itu, tapi mengira jika kalian telah tidur bersama."


"Tidur bersama?" gumam Gu Yihao mulai berwajah gelap. "Sejak kapan rumor itu beredar?" tanyanya pelan.


"Kemarin," jawab An Daiyu.


"..." Gu Yihao menatap Qing Mao yang sedang makan sup iga sapi. Dia tidak bisa membiarkan gadis itu tahu rumor ini. Jika tidak, mungkin harinya akan menjadi lebih dingin.

__ADS_1


Selama dua hari terakhir ini dia telah bekerja keras untuk bersikap baik di depan gadis itu. Bahkan tidak peduli dengan status Raja Yi yang melekat padanya. Untuk bisa akrab dengan Qing Mao, rasanya seperti sedang berusaha memecahkan cangkang kura-kura yang keras.


Melihatnya terdiam, An Daiyu tidak tahu apa yang dipikirkannya. "Hao Hao, apa yang akan kamu lakukan kali ini?"


__ADS_2