
AN DAIYU tidak memiliki topik lain selain membicarakan gadis itu. Sejujurnya dia sangat penasaran dengan kemampuannya mengenai obat-obatan.
“Jangan salah paham. Aku bertanya karena merasa bahwa kamu tahu banyak tentang obat. Saat ini saja hidungku sangat sensitif terhadap bau.”
“Apakah kamu seekor anjing?”
Putri Lailan mencibir, menunggang kuda dengan baik. Di sampingnya, Qing Mao hanya mengerutkan kening. Jelas sama sekali tidak memperhatikannya.
“.....” An Daiyu ingin menampar mulutnya lagi.
Tiba-tiba saja Qing Mao menghentikan kudanya, memperhatikan sekitar. Telinganya yang menangkap suara sesuatu pun yakin jika itu pasti seekor kelinci. Dia mengambil anak panah dan bersiap membidik dengan bagus.
Hal ini jatuh ke mata ketiganya. Sangat mahir. Lalu anak panah melesat ke arah semak-semak yang cukup jauh dari mereka. Setelah itu, terdengar suara erangan hewan yang kesakitan.
Dia tiba-tiba turun dari kudanya dan berlari kecil ke arah semak-semak tadi. Seekor kelinci putih kesakitan, berusaha untuk lari. Namun tertangkap oleh panah yang sebenarnya menancap di salah satu kakinya.
Belum lagi, ujung anak panahnya telah diolesi oleh racun pelumpuh otot. Yang di mana, itu akan pulih setelah satu hari. Seekor kelinci putih yang masih hidup tertangkap. Qing mao mendapatkan buruan pertamanya.
Sementara Gu Yihao tersenyum penuh arti. Gadis ini, meski tidak mau bergaul dengannya, tapi sangat berniat untuk bersenang-senang. Sepanjang perjalanan, mereka terus memburu hewan tanpa keluhan.
Bisa dikatakan, sangat tidak mungkin bagi keempatnya untuk gagal. Putri Lailan menggunakan busurnya dengan sedikit enggan. Dia sudah cukup lama tidak melatih diri di lapangan.
Sejak kecelakaan di perburuan musim semi tahun lalu, permasuri tidak lagi mengijinkannya terlalu banyak.
Mereka menangkap banyak kelinci. Ada juga rusa-rusa kecil yang cantik. Sayangnya mereka harus membunuh mereka. Hasil buruan ini nanti akan dibagikan kepada warga sebagai wujud kepedulian kaisar.
Sementara bagi para peserta luar negara, bisa membawa hasil buruannya sendiri. Tapi semakin pergi lebih dalam, serigala muncul satu persatu. Bahkan lebah beracun pun juga mengincar mereka. Hal ini membuat Qing Mao merasa aneh.
“Berhenti.” Dia berkata sambil menghentikan kudannya.
An Daiyu dan Putri Lailan yang ada di depannya pun segera berhenti dan menoleh padanya. Sedangkan Gu Yihao yang paling belakang mengerutkan kening.
Mereka baru saja membunuh beberapa serigala yang tiba-tiba datang dan mengamuk. Jika tidak buru-buru pergi, khawatir kawanan yang lainnya mengejar.
Qing Mao awalnya merasa wajara jika di hutan bertemu serigala. Tapi semakin ke sini, kemunculan binatang buas dan binatang-binatang beracun menjadi lebih banyak.
__ADS_1
“Qing Mao, kenapa kita berhenti? Ini bukan tempat yang tepat untuk mendirikan tenda,” kata Putri Lailan bingung.
“Di mana pun kita mendirikan tenda, binatang buas ini di hutan ini akan selalu mengganggu kita.” Qing Mao memperhatikan Putri Lailan.
“Eh? Kenapa memangnya?”
Qing Mao tidak banyak bicara dan meminta Putri Lailan untuk mendekat. Setelah itu, dia mengendus pakaian luarnya dengan seksama. Ada aroma samar mawar.
Sekilas, tidak ada yang salah dengan hal ini. Tapi jika dia mengendus lebih lama lagi, aroma racun pengikat binatang segera menggelitik hidungnya. Dia pun mendengus. Membuat Putri Lailan semakin bingung.
“Dengan siapa kamu berkontak fisik hari ini?” tanyanya.
“Hah? Kontak fisik?”
Putri Lailan tampaknya memikirkannya lebih lama. Dia tidak berkontak fisik dengan banyak orang hari ini, kecuali pelayan pribadi dan juga Putri Yu Yang. Dia pun hanya berkata apa adanya.
“Apakah ada masalah dengan pakaian Putri Lailan?”
Gu Yihao tiba-tiba bertanya karena penasaran. Sejak awal, dia memang merasa semuanya tidak benar ketika semakin masuk lebih jauh ke hutan.
“Bagaimana mungkin?” Putri Lailan segera menggelengkan kepalanya. “Qing Mao, apakah binatang buas yang terus berdatangan itu karena sesuatu yang ada di pakaianku?” tebaknya.
Putri Lailan tesipu. Apakah sebelumnya dia begitu bodoh?
Dia mengecek pakaiannya lagi. Tak ada yang salah. Hanya mencium sedikit aroma mawar. Tapi ini mungkin karena parfum sachet yang digunakan Putri Yu Yang tadi. Karena dia melihat jika Putri Yu Yang memakai sachet tersebut.
Menurutnya semua itu normal. Tapi dia juga tahu jika Qing Mao tidak akan mengatakan itu tanpa alasan yang tidak pasti.
Ketiganya melihat Qing Mao mengeluarkan sebuah botol parfum, tidak ada yang mengenal benda apa itu. Qing Mao tiba-tiba menyemprotkannya dengan cepat ke arah Putri Lailan, seperti sedang membersihkan diri.
Wanita itu tidak siap dan terbatuk saat cairan yang disemprotkan terhirup. Namun Qing Mao tidak peduli.
Sayangnya, tak ada aroma dalam botol parfum itu, seperti air biasa. Tapi tidak tahu apa yang terjadi, Putri Lailan terbatuk karena merasa sesuatu menggelitiki hidungnya.
Aroma mawar itu sudah tidak ada. Putri Lailan masih kebingungan. Dia bertanya pada Qing Mao, cairan apa yang baru saja disemprotkan itu.
__ADS_1
Tapi dengan percaya dirinya Qing Mao berkata jika itu hanya air biasa, untuk mengusir aroma mawar yang tidak dia sukai. Alasan ini sangat tidak masuk akal. Tapi dengan polosnya Putri Lailan mempercayai hal itu dan menyusulnya.
Tapi bagi An Daiyu, ini tidak masuk akal. Meski dia tahu obat, tapi apa yang baru saja disemprotkan gadis itu ke tubuh Putri Lailan memang tidak berwarna dan berbau. Tapi masih tercium sedikit bahan herbal yang langka.
Semakin misterius sosoknya, membuat An Daiyu penasaran dengan rahasia yang dimiliki pada diri gadis itu. Menatap Gu Yihao yang sedikit kebingungan, dia menghela napas panjang.
“Gadis itu sangat misterius," katanya.
“Apa kamu tahu obat apa yang disemprotkannya?” Pandangan Gu Yihao tidak lepas dari tubuh kecil Qing Mao yang semakin menjauh.
An Daiyu menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu. Tapi satu hal pasti, dia tahu itu obat untuk menghilangkan aroma mawar pengundang binatang buas yang ada pada pakaian Putri Lailan.
Gu Yihao mendengus pelan, lalu menarik tali kuda agar berjalan menyusul mereka. “Tidak berguna,” ejeknya.
“.....” Ayolah, dia bukan dewa obat!
Dia juga segera menyusul mereka.
Tiba-tiba saja kedua pria itu mendengar suara teriakan Putri Lailan, memanggil nama Qing Mao dengan nada terkejut.
An Daiyu baru saja hendak berbicara pada Gu Yihao, namun sosoknya sudah menjauh, kuda yang ditungganginya berlari kencang ke arah suara teriakan itu berasal.
Dasar pria butuh cinta! Pikirnya.
Di sisi lain, Putri Lailan gemetar di dekat tebing. Jika Dong Mei yang mengikuti Qing Mao dari bayang-bayang tidak menahannya untuk diam di tempat, mungkin sudah ikut terjatuh juga.
Sebelumnya, kuda yang ditunggangi Putri Lailan tiba-tiba saja meringkik keras sambil mengangkat kedua kaki depannya seolah-olah terkejut, dan menjatuhkan penunggangnya.
Jika Qing Mao tidak bergegas untuk mendorong wanita itu ke samping, mungkin sudah jatuh ke bawah tebing.
Namun sebagai gantinya, Qing Mao kehilangan keseimbangan kuda. Lalu memanggil Dong Mei dan Fan Chen untuk membantu.
Sayangnya kuda yang ditunggangi Qing Mao terpeleset dan jatuh ke tebing. Kemudian Fan Chen segera menyusul ke bawah sebelum Qing Mao jatuh semakin jauh.
Kini keduanya tidak terlihat karena kabut menghalangi pandangan. Tapi yang jelas, Putri Lailan sudah menangis. Khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu.
__ADS_1
Pada saat yang bersamaan, Gu Yhao datang dengan ekspresi khawatir. Hanya melihat Putri Lailan terduduk dengan isak tangisnya, dia merasakan sesuatu yang buruk memukul hatinya. Gadis itu tidak terlihat di manapun.
“Di mana Qing Mao?” tanyanya.