Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Terpaksa Membiarkan Gu Yihao Menginap


__ADS_3

QING MAO tidak setuju jika Gu Yihao menginap di rumahnya. Orang-orang akan bergosip lagi dan lagi. Ia tidak mau memiliki banyak masalah tentang ini. Lagi pula ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya ada di balik rahasia buku usang dari Nyonya Pei. Apa artinya itu?


Hyou menjelaskan jika ada kemungkinan besar seseorang mengawasinya akhir-akhir ini sehingga tidak baik untuk sendirian. Setidaknya dengan ada aura Gu Yihao di rumah ini, orang itu akan semakin waspada. Karena Hyou yakin jika pemakai cincin batu giok hitam itu tidak berani melawan Gu Yihao.


"Kenapa kamu cerita tentang ini padaku? Kenapa tidak sejak awal? Apakah masalah asap kegelapan yang membuatku sakit beberapa waktu lalu juga karena orang ini?" Qing Mao segera berwajah gelap dan tidak menyangka jika Hyou akan menyembunyikan sesuatu yang begitu besar darinya.


Pemilik cincin batu giok hitam, lebih tepatnya adalah pemakai cincin tersebut. Menurut Hyou, cincin batu giok hitam tidak memiliki tuan sehingga hanya dipakai oleh penjaga cincinnya saja, sama seperti Hyou sendiri.


Cincin batu giok hitam tentu saja bukan hal baik. Sejak dulu selalu berselisih dengan cincin batu giok merah dan hijau. Inilah alasan kenapa Hyou menyarankanku Gu Yihao untuk menginap di rumah Qing. Namun laki-laki itu tidak mengatakan semua kebenaran ... alasan kenapa dia begitu khawatir tentang cincin batu giok hitam.


Hyou khawatir jika masa lalu terulang kembali dan dia hanya bisa mengulang takdir.


"Pantas saja aku merasa ada seseorang yang mengawasiku saat pesta topeng. Mungkinkah orang yang kamu maksud ini?" Qing Mao tidak menyembunyikannya dan segera bercerita tentang masalah hari itu.


"Ternyata seperti itu," gumam Hyou mulai mengerti. "Dia sudah datang ke Negara Quentian ini dan bermaksud untuk membunuhmu. Apakah kamu tahu?"


"Kenapa membunuhku? Aku ini hanya seorang wanita zaman modern yang tak mengenal zaman ini. Apakah hanya karena memakai cincin batu giok hijau?" Qing Mao mengambil beberapa lauk pauk di atas meja makan dan mulai menyantap menu makan siangnya.


Hyou ingin mengucapkan sesuatu, tapi pelayan segera datang dan melaporkan jikalau Gu Yihao ada di luar rumah. Ia segera pergi untuk menyambutnya lebih dulu. Sementara Qing Mao masih sibuk makan. Pria itu datang begitu cepat. Ketika tak sengaja membayangkan adegan Gu Yihao yang menciumnya, wajah gadis itu memerah.


Dasar hooligan! Batinnya.


Saat Hyou kembali dengan Gu Yihao, gadis itu tidak ingin memperhatikan apapun dan hanya menawarinya makan siang. Tentu saja Gu Yihao tidak menolak. Dia juga belum makan siang karena saat pergi, pelayan baru saja menyajikannya.


"Raja ini datang karena Hyou memberi tahu. Tapi Raja ini tidak tahu apa yang ingin dikatakan olehmu." Gu Yihao makan dengan elegan.


"Aku?" Gadis itu mengerutkan kening dan segera menatap Hyou.


Sementara laki-laki berjubah putih itu terbatuk ringan dan tersenyum tanpa adanya rasa bersalah apapun. "Kamu bahas buku usang itu dengannya, itu lebih baik," katanya.


"Apakah dia bisa mengerti?"


"Tentu saja. Jika kamu bisa memahami apa yang tertulis di dalamnya, dia juga pasti bisa. Karena kalian berdua sejak awal sebenarnya—" Hyou hampir saja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan terlalu dini.


"Sebenarnya apa?" Gu Yihao dan Qing Mao berkata secara bersamaan hingga membuat keduanya saling menatap untuk waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya menundukkan kepala.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Cepat atau lambat kalian akan tahu. Nah, nikmati makan siang kalian. Aku akan pergi untuk mengurus sesuatu." Setelah itu Hyou langsung pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.


"Kapan kamu akan kembali?" tanya Qing Mao.


"Entahlah. Baik, rukun dengan pria itu. Jangan berkeliaran terlalu jauh tanpa dirinya," jawab Hyou sebelum akhirnya menghilang di balik pintu ruang makan.


"..." Qing Mao tidak tahu bagaimana menjelaskan ini pada Gu Yihao. Dia tidak mau terkesan mengundangnya. Lagi pula, ia tak mau ada pria itu di rumah ini.


"Apa maksud ucapan laki-laki itu?" Gu Yihao bertanya.


"Tidak ... Hanya saja, dia memintamu untuk menginap di rumahku selama beberapa hari ini. Dia akan mencari tahu tentang pemakai cincin batu giok hitam yang menyerangku terakhir kali di pesta topeng," jawabnya.


Ternyata itu yang terjadi, batin Gu Yihao.


"Apakah masalah ini sangat serius sehingga dia pergi lagi?"


"Ya, ada seseorang yang memperhatikanku akhir-akhir ini. Jadi ... dia akan pergi untuk memeriksa lagi. Tapi, aku tidak ingin orang-orang bergosip tentang adanya dirimu di rumahku. Itu akan memalukan—"


"Jangan khawatir," tukas pria itu segera tersenyum penuh arti. "Raja ini akan datang diam-diam. Mereka tidak akan tahu."


"Apakah kamu yakin?"


"..." Dua penjaga gelap yang ada di bayang-bayang itu mendengarnya dan merasa langsung mengambil tanggung jawab besar. Yang Mulia, apakah benar-benar harus kami? Pikir keduanya tidak berdaya.


"Kalau begitu, Raja Yi, mohon bantuannya ..." Qing Mao hanya bisa bekerja sama saat ini.


Keduanya makan siang hingga selesai, barulah Qing Mao mengajak dia ke lantai dua untuk menunjukkan sesuatu. Pria itu duduk di balkon seraya menunggu Qing Mao mengambil sesuatu.


Tak berapa lama, gadis itu kembali seraya memegang sebuah buku yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak kecil. Gu Yihao mengerutkan kening. Sampul buku itu terlihat begitu usang. Belum lagi mungkin sudah lama tersimpan.


Ketika Qing Mao meletakkan buku tersebut di atas meja, Gu Yihao pun segera memeriksanya. Saat membuka halaman pertama, ia disuguhkan dengan beberapa baris kata berbahasa kuno. Lalu membuka halaman demi halaman sebelum akhirnya menatap Qing Mao.


"Dari mana kamu mendapatkan buku kuno ini?" tanyanya.


"Jadi kamu benar-benar tahu tentang buku kuno ini?" Qing Mao bertanya balik.

__ADS_1


Gu Yihao mengulum senyumnya dan menatap gadis itu seolah-olah jika ini mengejutkan. Memang tidak banyak yang tahu, kaisar tak terkecuali. Ia tahu bahasa kuno dan memahaminya dengan baik, entah sejak kapan. Dia sudah memahami bahasa kuno semenjak tak sengaja menemukan tulisan tersebut pada sebuah tugu batu salah satu kuil. Namun bakatnya ini tak pernah dia beritahukan pada siapapun.


Sekarang, Qing Mao adalah orang pertama yang tahu jika dia bisa memahami bahasa kuno. Tentu saja selain Xu Ren dan Xu Ran.


"Raja ini memang bisa memahaminya. Bagaimana denganmu?"


"Ya, aku juga tidak tahu kenapa bisa memahaminya," gumam gadis itu segera duduk di seberangnya.


"..." Gu Yihao berpikir jika Qing Mao juga tak sengaja bisa memahaminya?


"Aneh jika Hyou tak mampu melihat apa-apa di dalamnya," ujar gadis itu membuka topik lain.


"Hyou tidak bisa melihat tulisan di dalam buku ini?" Gu Yihao menaikkan sebelah alisnya.


"Ya. Dia bilang itu kosong."


"Kemarilah," kata pria itu tiba-tiba.


"Huh? Apa?"


"Kemari, duduk di samping Raja ini."


"Kenapa aku harus duduk di sampingmu?" Gadis itu mengerucutkan bibirnya.


"Kita harus lebih dekat sebelum menjadi suami dan istri di masa depan. Tak ada salahnya jika kita lebih dekat satu sama lain," jelasnya.


"Siapa yang akan menikah denganmu? Kamu jangan—"


"Kemari saja, jangan membantah ucapan Raja bahkan jika kamu memiliki token bebas kematian," tukas Gu Yihao dengan wajah menggelap.


Qing Mao ingin memuntahkan darah mudanya. Tapi dia masih bangkit dan duduk tak jauh di samping Gu Yihao.


"Lebih dekat," ujar pria itu.


"Gu Yihao! Jangan berlebihan. Aku sudah duduk di sampingmu— aahh!!" Qing Mao terkejut ketika pria itu meraih pinggangnya dan menarik dia dengan mudah. Hingga ia hampir kehilangan keseimbangan dan bertumpu pada Gu Yihao.

__ADS_1


Jarak wajah keduanya begitu dekat hingga napas satu sama lain bisa dirasakan. Pipi gadis itu memerah dan menurunkan pandangan lebih dulu karena merasa canggung saat menatap Gu Yihao dari dekat.


"Mao'er ... Tatap Raja," bisik Gu Yihao agak serak.


__ADS_2