
SEMUA pengawal yang ada di sekitar An Daiyu saling melirik dan akhirnya memperhatikan sekeliling. Mereka menajamkan indera pendengaran. Suasana hening membuat suara daun yang bergesekan akibat tertiup angin juga menjadi lebih jelas.
Memang dari dalam hutan, suara ranting patah yang diinjak samar-samar terdengar. Awalnya, suara-suara itu pelan dan berirama, kini semakin cepat dan berantakan.
Mereka semua berwaspada. Tidak tahu apa yang akan keluar dari dalam hutan, mereka bersiap mencabut pedang dari sarungnya.
"Tuan, mungkin beberapa binatang buas telah mengepung kita." Salah satu penjaga menebak.
Pada akhirnya, rekan-rekannya yang lain langsung tegang.
"Apakah kamu yakin? Lalu kenapa mereka terlihat seperti mayat berjalan?"
Kata 'mereka' yang disebutkan tentu saja membuat An Daiyu memperhatikan ke salah satu titik. Di sana, sekelompok orang berjubah hitam lusuh muncul dari dalam hutan. Daripada dianggap berjalan, sepertinya lebih mirip berlari ke arah mereka.
An Daiyu tahu jika orang-orang berjubah hitam yang muncul ini merupakan mayat hidup seperti yang diceritakan oleh Gu Yihao. Mereka memakai tudung besar sehingga wajahnya tidak terlihat sempurna. Tapi yang pasti, wajahnya tidak menyenangkan mata.
"Bunuh! Gunakan api untuk melenyapkan mereka!" An Daiyu memberikan perintah tegas pada bawahannya.
Sekelompok pengawal yang sedikit panik segera mengeluarkan obor dan menyalakan api. Sebagian lagi menggunakan pedang dan panah untuk membunuh. Tapi tampaknya pedang dan panah tidak efektif.
Pada akhirnya, mereka hanya menggunakan obor untuk membakar mereka. Dan itu berhasil meski hasilnya tidak sepenuhnya mati. Tapi setidaknya itu akan menghambat musuh agar tidak mengejar mereka.
__ADS_1
"Cepat pergi!" An Daiyu sangat serius, memegang obor di sisi kanan dan satu tangan lagi memegang tali kuda.
Ringkikan kuda yang bersahutan terdengar beberapa kali. Diiringi dengan suara kaki kuda. Sialnya lagi, jalan yang mereka lewati kali ini setidaknya masih cukup jauh dari tempat yang penuh cahaya matahari.
"Tuan, kenapa mereka muncul?" Salah satu pengawalnya bertanah dengan rasa penasaran.
"Di sekeliling kita tidak ada sinar matahari. Kelompok mayat berjalan ini tak bisa muncul di bawah sinar matahari. Jadi kita harus cepat," jawabnya.
Beberapa mayat berjalan memang bermunculan kembali dan menyerang mereka. Sialnya, beberapa pengawal justru tertangkap basah dan dibunuh oleh mayat berjalan tersebut
An Daiyu tak bisa membiarkan orang-orangnya sendiri mengorbankan nyawa. Dia meminta semuanya menyalakan obor dan membakar mereka lebih banyak.
Seketika, banyak obor yang menyala, menerangi sekitar dengan cahaya hangat. Para mayat hidup itu mulai memperlambat gerakan. Enggan untuk menyerang mereka. Panas dari api itu membuat para mayat hidup sedikit takut.
Memanfaatkan hal ini, An Daiyu segera memerintahkan para pengawalnya untuk bergegas. Kuda meringkik lagi dan melaju. Tidak peduli dengan para mayat hidup itu, kuda menabraknya seperti menginjak rumput.
Tapi sesekali, pengawal menghunuskan pedang untuk membunuh mayat hidup yang berani menerkam.
Ketika mereka keluar dari jalan hutan, para mayat hidup tidak berani menyentuh sinar matahari. Mereka mundur kembali ke dalam kegelapan seolah-olah tidak pernah muncul.
An Daiyu melihat hal itu, menghela napas dalam hatinya. Untung saja dia memiliki sedikit pengetahuan tentang mayat hidup setelah mendengar cerita Gu Yihao.
__ADS_1
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di ibu kota nanti, An Daiyu harus memberi tahu Gu Yihao tentang masalah ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam hari, ibu kota tidak seramai biasanya. Banyak warga yang memilih untuk menutup pintu lebih awal dan memperingatkan anak-anak untuk tidak berkeliaran.
Sejak jatuhnya korban akibat serangan mayat hidup, mereka sangat tidak ingin melihat malam berbintang.
Malam itu, An Daiyu tiba lebih awal karena tidak banyak istirahat selama perjalanan. Ditambah, dia khawatir dengan serangan mayat hidup lagi. Ketika sampai di ibu kota, dia pergi ke istana kekaisaran untuk menyapa Kaisar Gu lebih dulu sebelum akhirnya mencari Gu Yihao.
Tapi malam ini Gu Yihao berada di rumah Qing Mao, makan malam dengan tenang. Han Baimo juga datang sebagai tamu. Qing Mao meminta Hyou bersama koki di rumah untuk menyiapkan banyak makanan.
Lagi pula, hari-hari tenang mungkin tidak akan bertahan selamanya. Siapa tahu ada kecelakaan di tengah jalan. Terutama Han Baimo yang selalu menyimpang misteri. Tidak peduli seberapa keras Qing Mao bertanya, Han Baimo tetap menggelengkan kepala.
Alasannya, biarkan surga yang menentukan. Ini konyol. Setidaknya, bagi Qing Mao, ini cukup konyol.
Untungnya Qing Mao tidak keras kepala. Dia juga tahu temperamen Han Baimo yang selalu misterius.
Ketika makan malam berlangsung, salah seorang pelayan memberi tahu Qing Mao jika seseorang telah berkunjung malam ini. Katanya orang itu ingin bertemu dengan Gu Yihao untuk mengurus masalah penting.
Qing Mao meletakkan sumpit di tempatnya. "Siapa yang datang?" tanyanya. Dia meminta Hyou untuk membawa orang itu masuk.
__ADS_1