
TENTU SAJA, orang yang membawa Qing Mao secara tiba-tiba itu adalah Gu Yihao. Pria itu mengunjungi kediaman Qing, namun Hyou yang memakai baju tidur aneh pun menguap lalu berkata jika gadis itu pergi ke kediaman Nu.
Oleh karenanya, Gu Yihao segera pergi dan menemukan gadis itu sedang mendengarkan pembicaraan putra mahkota dengan Nu Qingge. Kebenaran yang baru saja dikatakan Gu Wenlian bukankah hal kecil. Dia tidak tahu bagaimana suasana hati gadis itu saat ini.
Gu Yihao membawanya ke sebuah tepi hutan dan memojokkan gadis itu di bawah pohon. Dia menatap perubahan ekspresi di wajahnya dengan serius.
"Empat tahun lalu, Raja ini tidak pernah mempermalukanmu begitu banyak. Hanya untuk membiarkanmu mengerti jika mengganggu orang bukanlah hal yang baik. Tapi Raja ini tidak pernah menduga jika mereka akan bermain terlalu banyak.” Gu Yihao memperhatikannya dengan hati-hati agar tidak melewatkan ekspresi apapun di wajahnya.
Qing Mao tertegun dan merasa jika kepalanya agak pusing. Seolah-olah dia memiliki sesuatu yang tersembunyi di pikirannya namun tidak tahu apa itu. Ia hanya menatap Gu Yihao seperti seseorang yang telah lama mengenal. Namun jelas jika Qing Mao hanya mencoba untuk menjalankan kehidupan seperti yang takdir cincin batu giok hijau berikan.
Ia sama sekali tidak pernah mengenal Gu Yihao di zaman modern ataupun zaman ini. Semuanya hanyalah murni ketidaktahuan. Jika dia tidak mencuri cincin batu giok hijau dan memakainya, mungkin semua ini tak akan terjadi. Dia tak akan berada di zaman yang bukan miliknya. Oleh karena itu, saat ini dia bingung harus menjawabnya seperti apa.
Gu Yihao mungkin tidak tahu. Ia juga tidak mengetahui apapun. Tapi kenapa semua ini seperti nyata baginya?
“Aku …” Qing Mao ingin mengatakan sesuatu, tapi tertahan di tenggorokannya.
“Sekarang kamu harus percaya jika semua ini bukan salahku.” Gu Yihao berkata lagi saat tahu jika gadis itu hanya memejamkan mata, seolah sedang berpikir.
“Tetap saja jika dia dulu tunanganmu. Kamu sama saja!” Akhirnya Qing Mao hanya bisa mengatakan ini dan memutuskan jika semuanya harus dipikirkan baik-baik. Dia masih bingung dengan semua fakta yang baru saja diketahuinya.
Tiba-tiba saja Gu Yihao meninju batang pohon di belakangnya dengan ekspresi yang cukup tertekan. Benar, dulu Nu Qingge adalah tunangannya yang dia jaga dengan baik. Tapi dia ditampar oleh perselingkuhannya yang penuh konspirasi. Sekarang bagaimana mungkin Qing Mao mau memaafkannya begitu saja?
“Seandainya aku tidakpernah punya tunangan seperti dia, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kenapa kamu baru muncul dengan cincin itu? Kenapa tidak dari dulu? Apakah kamu sengaja ingin mempermainkanku?!” Gu Yihao sedikit marah sehingga apa yang dia katakan tidak lagi dipikirkan.
“Apa katamu? Jika bukan karena aku sebenarnya bukan dari …” Qing Mao tiab-tiba saja merasa jika tenggorokannya tidak bisa mengeluarkan suara, langusng tertegun. Apakah dia dilarang untuk menceritakan dari mana asal dirinya?
__ADS_1
Qing Mao menyentuh tenggorokannya dan berusaha untuk bicara. Tapi tetap saja tidak bisa. Itu hanya menyakiti tenggorokannya. Gu Yihao mengerutkan kening saat melihat ekspresi gadis itu berubah, segera menyadari apa yang baru saja diucapkan.
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin tahu kenapa kamu tidak memakai cincin itu sejak dulu.” Nada bicaranya menjadi lebih lembut seraya menahan sakit di jari-jari tangan kanannya. Ia baru saja meninju batang pohon cukup keras.
“Aku hanya tidak mau memakainya. Kupikir itu cincin biasa.”
Setelah menenangkan diri, Qing Mao memilih untuk tidak mengatakan sesuatu yang bukan dari dunia ini. Sepertinya cincin batu giok hijau tidak ingin orang zaman ini tahu tentang dunia modern.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Qing saat ini ….
Hyou yang tertidur pun kini membuka matanya dan merasa jika kata larangan dari mulut Qing Mao hampir saja terucap. Ekspresinya menjadi serius. Ia menyentuh kepalanya yang agak sedikit berdenyut, lalu memejamkan mata sejenak agar pikirannya menjadi lebih jernih. Tak lama setelahnya, ia membuka matanya lagi.
Ia menghela napas panjang dan bersandar di kusen jendela seraya menampilkan senyum misterius. “Qing Mao … masih terlalu dini bagimu untuk tahu apa yang terjadi. Aku yakin jika kamu mengetahui semua kebenarannya terlalu cepat, maka takdir cincin batu giok hijau dan merah akan terulang dari awal. Kali ini aku memberimu kesempatan hidup kedua,” gumamnya sangat pelan, hingga tidak mungkin bagi penjaga gelap untuk mendengarnya.
Bahkan Dong Mei dan Fan Chen sekalipun.
Tak berapa lama, dia melihat sosok hitam melompat dari satu pohon ke pohon lain. Lalu merasakan aura Qing Mao mendekat. Tampaknya Gu Yihao juga ada bersamanya. Hyou tersenyum datar, jika mereka bisa bersatu lebih awal dan memenuhi harapan cincin batu giok artefak itu, mungkin tugasnya juga akan cepat selesai.
“Hidup sebagai penjaga cincin artefak ternyata merepotkan.” Dia menguap dan kembali menutup jendela. “Lebih baik aku tidur lagi dan menunggu sarapan udang di pagi hari.”
Laki-laki itu kembali berbaring di ranjang dan menarik selimut. Sebelum memejamkan mata, dia menjentikan jarinya dan sebuah cahaya putih samar muncul. “Aku beri mereka kejutan saja agar semakin dekat di masa depan.”
Dengan seringaian puas, dia mengibaskan tangannya hingga cahaya putih itu menghilang dari pandangannya dan pergi ke tempat Qing Mao berada.
__ADS_1
Sementara itu di sisi Qing Mao berada saat ini ….
Gu Yihao membawa gadis itu ke kamar secara langsung dan menurunkannya dengan hati-hati. Tiba-tiba saja cahaya putih samar muncul tanpa sepengetahuan keduanya dan membuat Gu Yihao tergelincir dari kusen jendela hingga jatuh menimpa gadis itu.
“Gu Yihao! Apakah kamu memiliki kebiasaan merayu orang?” cibir gadis itu seraya mendorong dada Gu Yihao.
Hanya saja saat dia mencoba menyingkirkannya, ada perasaan aneh di tubuhnya yang membuat dia tidak ingin mendorong Gu Yihao. Sementara pria itu sendiri menduga jika reaksi alami di tubuhnya adalah ketika dekat dengan gadis ini.
Keduanya saling menatap dari jarak dekat. Dengan pencahayaan bulan yang memasuki jendela, ada keheningan untuk sementara waktu. Tidak tahu apa yang keduanya pikikan, tapi yang jelas cukup cangung.
“Qing Mao …” Gu Yihao bergumam tanpa mengalihkan pandangannya.
“Pergilah.” Gadis itu akhirnya hanya bisa bicara apa adanya.
“Bisakah … Bisakah aku menciummu untuk satu kali ini saja?” tanyanya
“...” Jangan harap. Gadis itu sama sekali tidak memiliki pemikiran ini.
“Sebelum aku pergi.” Pria itu berkata lagi setelah tahu mungkin akan ditolak.
“Tidak bisakah kamu begitu malu? Ingin mencium orang harus bilang dulu?” Kali ini Qing Mao merasa agak lucu di hatinya.
Dia terkekeh dan menggelengkan kepala hingga akhirnya memiliki kesadaran diri. Dia mendorong dada pria itu untuk menghindar dari tubuhnya, namun tiba-tiba saja dia merasa jika dagunya dicubit lembut dan bibirnya langsung lembap. Dia membelalakan matanya dan mencium aroma cendana dari tubuh Gu Yihao.
Pria itu benar-benar ….
__ADS_1