Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Dalam Perjalanan Ke Ibu Kota


__ADS_3

DI LANTAI atas restoran, tidak ada tamu lain selain Gu Yihao dan ketiganya. Mereka telah menyewa lantai gedung restoran untuk digunakan pribadi selama satu hari.


Gu Yihao dan Han Baimo merupakan orang yang tahu lebih banyak tentang masalah ini sehingga Gu Zhaoxin dan Gu Huiling bertanya lebih banyak.


Han Baimo tidak menyembunyikan apa-apa lagi tentang masalah Gu Wei. Karena dalam beberapa hari terakhir ini negara masih tenang, biarkan mereka bersiap secara fisik dan psikologis.


Ketika gerhana matahari datang, kegelapan akan menyelimuti sebagian dunia.


Para mayat hidup pasti akan merangkak dari tempat persembunyiannya.


"Apakah kamu mengetahui di mana Gu Wei sekarang? Lokasi yang lebih akurat?" Gu Yihao memijat pelipis kirinya lalu meminum secangkir teh musim gugur.


Musim dingin akan segera tiba. Tidak tahu apakah dia masih bisa merasakan hamparan salju di mana-mana.


Han Baimo menghela napas. "Tidak. Dia lebih pintar kali ini, mungkin lebih pintar dari sebelumnya," jawabnya. Dia hampir saja berkata 'di kehidupan masa lalu'. Tapi teringat dengan keberadaan Gu Huiling dan Gu Zhaoxin.


Gu Yihao mencibir, "Kamu yang bodoh setiap waktu."


"..." Apakah kamu terlalu kejam? Batin Han Baimo.


"Tidak heran ayah kaisar sangat gelisah selama beberapa hari terakhir ini. Saudara kesebelas, lalu tentang keluarga Qing ... mungkinkah ada sangkut pautnya dengan rahasia ini?" Gu Huiling tampak bingung.


"Masalah ini tidak terlalu bersangkutan. Tapi keluarga Qing memang mengorbankan semua anggota klan untuk melindungi Mao'er," jelas Gu Yihao.


Ketika mengingat ini, Gu Yihao mengerutkan kening. Dari pada mengorbankan Qing Mao, mereka lebih suka melindunginya dan mengorbankan keluarga. Meski ini langkah yang keterlaluan dan egois, cinta keluarga memang berpengaruh besar.

__ADS_1


Qing Mao bisa hidup sampai sekarang berkata pengorbanan mereka. Bayangkan jika Qing Mao dibunuh untuk mencegah sesuatu, mungkin ingatan Qing Mao tentang kehidupan masa lalu tidak akan pernah ada.


Bukankah reinkarnasi harus diulang lagi?


"Ini bukan waktunya untuk membahas keluarga Qing." Gu Zhaoxin menyesap tehnya. "Apakah gadis itu juga berlatih?"


"Ya. Sudah lama berlatih, jangan khawatir tentang itu." Gu Yihao hanya bisa menutupi tentang masalah reinkarnasi Qing Mao.


Jika mereka tahu bahwa dirinya dan Qing Mao merupakan orang-orang dari zaman kultivator yang kini bereinkarnasi, reaksi nya mungkin tidak terduga.


Lagi pula zaman ini sudah bukan lagi kehidupan kultivator. Tidak ada binatang roh, tanaman roh atau pun sekte abadi yang membudidayakan murid-muridnya menjadi genius tak terkalahkan. Semuanya sudah menjadi sejarah.


Keempatnya hanya berbicara sepanjang waktu dan mengesampingkan formalitas yang ada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Putri Lailan yang tahu jika An Daiyu akan pergi, merasa khawatir. Pria itu tidak menyiapkan banyak barang selain beberapa kebutuhan untuk di perjalanan. Jika bukan karena dirinya yang hamil, mungkin dia akan mengikutinya ke ibu kota.


Lagi pula, bencana akan segera datang. Keluarga An telah membuat banyak persiapan untuk mencegah mayat hidup menyerang ke halaman.


An Daiyu tidak ingin Putri Lailan mengalami kecelakaan, jadi meminta orang tuanya untuk mengawasinya dengan baik.


"Patuhlah di rumah dan jangan berkeliaran. Kamu sedang hamil. Setelah masalah selesai, aku akan pulang," kata An Daiyu seraya memeluk gadis itu.


"An An, kamu berjanji padaku untuk tidak mengalami kecelakaan apa pun. Bagaimana jika mayat hidup itu mencegatmu di tengah jalan? Aku khawatir kamu akan mengalami kecelakaan. Jangan mati! Aku tidak mau menjadi janda begitu cepat!" Putri Lailan kesal dan tidak berdaya. Dia tidak mau melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah, semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi. Ini bukan pertama kalinya aku terjun dalam bahaya."


An Daiyu dan putri Lailan akhirnya berpisah. Pria itu menunggangi kuda dan mengucapkan perpisahan pada Putri Lailan serta beberapa anggota keluarga.


Kali ini, keluarga An juga mengirim beberapa orang kepercayaan untuk membantu di ibu kota. Lagi pula, bencana ini bukan memihak faksi mana pun, bukan juga masalah politik atau ketentaraan tapi membela negara.


Melihat rombongan An Daiyu telah menjauh dari rumah, Putri Lailan merasa kesepian lagi.


"Putri, ayo masuk. Tuan muda akan baik-baik saja." Salah satu pelayan pribadinya segera membawa sang putri kembali ke halaman.


"Aku harap Mao Mao juga baik-baik saja di sana," gumam Putri Lailan.


Sementara itu ....


An Daiyu yang melakukan perjalanan ke ibu kota setidaknya membutuhkan waktu cukup lama. Mereka menunggangi kuda sepanjang jalan setapak yang sepi.


Karena keberadaan rumah keluarga An yang jauh dari keramaian, suasana di sepanjang jalan sangat tenang. Kecuali suara ringkikan serta bunyi sepatu kuda, mereka tidak mendapatkan masalah apa pun di sepanjang jalan.


Tapi ketika memasuki jalanan yang di kiri dan kanannya agak rimbun oleh pepohonan, An Daiyu memperlambat laju kudanya.


Beberapa pengawal di belakang juga secara otomatis mengikuti.


"Tuan, apakah ada masalah?" tanya salah satu pengawal berpakaian hitam.


An Daiyu mengerutkan kening, pendengaran nya lebih tajam dari pada orang biasa sehingga bisa menangkap beberapa suara asing dengan cepat.

__ADS_1


"Apakah kalian mendengar sesuatu yang mencurigakan?"


__ADS_2