
SEMENTARA itu di tempat Gu Yihao dan yang lainnya ....
Ketika malam tiba, api unggun sudah dibuat di sekitar gua. Tidak lupa juga bubuk penangkal binatang buas yang ditaburkan An Daiyu. Putri Lailan duduk di dekat api unggun. Ada Dong Mei yang menemaninya.
Fan Chen sendiri masih terluka dan dijaga oleh para penjaga gelap lain. Kadang bercerita atau mengatakan sesuatu untuk menghilangkan bosan.
Di gua, Gu Yihao selalu memastikan apakah gadis itu demam atau tidak. Hyou berkata jika kemungkinan besar gadis itu akan demam setelah mengalami luka di dahinya. Tapi ia harus tenang karena demamnya tidak akan memperburuk keadaan.
Benar saja, ketika Gu Yihao memeriksa dahinya, gadis itu mengalami penaikan suhu tubuh. Ia segera segar kembali dan meminta penjaga gelap untuk mengambilkan air. Ia menggunakan sapu tangannya untuk ditempelkan ke dahi gadis itu.
Ketika sapu tangan yang telah dicelupkan ke air hangat menempel di dahi, Qing Mao mengerutkan kening. Gadis itu merasa tidak nyaman di tubuhnya, sakit kepala serta mimpi-mimpi aneh yang semuanya tak masuk akal.
Orang-orang berkata jika terkena demam, kadang tidak bisa tidur nyenyak. Qing Mao mengalaminya kali ini. Dia membuka matanya sedikit dan memperhatikan sosok buram yang duduk di sampingnya seraya memberinya kompres. Tampak ia mengenali sosok itu, namun sulit untu bicara.
"Tidurlah. Besok akan baik-baik saja," kata pria itu penuh nada yang lembut.
Qing Mao tidak bisa tidur. Dia merasakan jika kakinya agar kesakitan ketika digerakan. Ia ingat saat jatuh ke tebing, kakinya tersangkut. Lalu samar-samar melihat Gu Yihao menolongnya. Meskipun ia berharap itu hanya mimpi, tapi hatinya selalu mengkhianati pikirannya.
Ia sudah tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu. Tapi kenapa selalu bertemu lagi dan lagi. Seolah-oleh takdir mempermainkan hidupnya yang baru. Ia bukanlah Qing Mao dari zaman kuno ini, melainkan seorang anggota resimen bayaran kuno yang tersembunyi.
Ia perlahan menyentuh dahinya yang memiliki kompres. Bibir pucatnya sedikit kering. "Gu Yihao ...," gumamnya.
"Aku di sini." Pria itu menghela napas.
"Kenapa kamu tidak mati saja?" gumamnya.
"..." Aku memang sudah mati jika kamu tidak menyelamatkanku, batin Gu Yihao. Ia tidak tersinggung oleh ucapannya, hanya bisa tersenyum kecil.
__ADS_1
Setelah menghela napas panjang, pria itu pun bertanya, "Lalu kenapa kamu menyelamatkanku? Bukankah akan lebih baik jika aku tidak memiliki segalanya?"
"Terlalu ringan bagimu untuk mati. Aku ingin kamu menderita," jawabnya dengan perasaan yang tidak menentu. "Sepertinya aku bicara tidak masuk akal saat demam," gumamnya.
Gu Yihao hanya mengulum senyum dan terkekeh ringan. Ia mungkin memang pantas menderita. Setelah Qing Mao berhenti bergumam tidak jelas, ia memberinya selimut tipis untuk menetralkan suhu panas tubuhnya.
Di masa depan, gadis ini akan membuatnya menderita. Dia tidak akan keberatan. Sebagai takdir cincin batu giok yang berpasangan, dia dan Qing Mao mungkin memiliki masa depan yang belum terlihat. Tapi apapun yang terjadi di masa depan, dia akan menjaganya dengan baik.
"Heh, jika kamu ingin membuatku menderita, maka cepatlah sembuh dan siksa aku," gumam Gu Yihao seraya menghela napas panjang. Dia segera keluar gua dan bergabung bersama yang lain.
Putri Lailan ada di dekat Dong Mei, memanggang daging hasil buruan sebelumnya. Lalu An Daiyu menceritakan banyak hal tentang perjalanannya selama ini. Ataupun membahas barang lelang terlangka yang pernah memasuki Rumah Lelang Persik nya.
Ketika Gu Yihao keluar gua dengan ekspresi datar, An Daiyu ingin menggodanya. Tapi ia mendapatkan pelototan dari Putri Lailan. Bicara sembarangan lagi, dia berjanji akan memberi tahu kaisar untuk menutup rumah lelangnya.
An Daiyu masih memiliki rasa takut yang nyata. Kaisar bukan seseorang yang bisa diajak main-main. Lagi pula tanpa bantuan bisnisnya di ibu kota, dia mungkin masih miskin saat ini. Jadi saat melihat Gu Yihao keluar, ia hanya bisa menahan diri untuk tidak berisik.
"Tidur," jawabnya seraya duduk di batang kayu yang disediakan. Lalu mengambil daging panggang bagiannya. Ia segera memandang Dong Mei. "Apa yang disukai tuanmu?"
"Dia suka makan apapun yang disiapkan pengurus rumah Hyou," jawab Dong Mei agak ragu. "Minum susu di pagi dan malam hari. Sebenarnya, tidak terlalu menyukai jenis makanan tertentu. Tapi nona muda tidak suka makanan yang terlalu berminyak," imbuhnya.
Mengenal Qing Mao selama hmsatu bulan lebih, Dong Mei tentu tahu. Gadis itu kadang makan sambil mengerjakan sesuatu. Kadang melukis, menyulam, membuat puisi, sebuah cerita panjang yang disebut novel. Atau apapun itu namanya. Belum lagi, Qing Mao juga pandai memainkan alat musik.
Ketika Dong Mei menceritakan ini, Fan Chen yang ada di sisi lain tak jauh dari mereka pun segerak memperingatinya untuk tidak bicara sembarangan. Qing Mao tidak suka orang lain tahu. Gadis itu hanya melakukan apa yang pernah dipelajarinya selama ini.
Fan Chen dan Dong Mei tentu saja tidak tahu jika Qing Mao sebenarnya berasal dari zaman modern. Beberapa keahliannya telah diasah di zaman itu. Tentu saja, bakat seorang anggota resimen bayaran kuno bermanfaat untuk misi di masa depan.
"Nona muda suka bermain biola," kata Fan Chen akhirnya berkata setelah mendapatkan tatapan Gu Yihao.
__ADS_1
"Apa itu biola?" tanya An Daiyu seraya menikmati daging panggangnya yang sudah matang. "Mungkinkah itu sejenis permainan para gadis?"
Fan Chen mencibir di balik maskernya. "Itu sejenis alat musik gesek. Tampaknya tidak pernah ada di Negara Quentian ini. Ketika nona mudanya memainkannya, suara merdu akan keluar dari alat musik itu."
"Benar! Aku sangat menyukainya. Nona muda akan menjadi lebih tenang ketika bemain biola. Katanya, bermain biola itu harus menghayati nada yang dimainkan. Seperti angin musim semi. Sebenarnya tidak berbeda jauh dengan kecapi." Dong Mei juga senang saat menceritakan ini.
Mungkin satu-satunya orang yang berwajah masam hanyalah Gu Yihao. Dia tidak tahu kalau gadis itu bisa bermain alat musik, menyulam apalagi melukis. Mungkinkah selama empat tahun ini, gadis itu berjuang keras untuk dihargai?
Ia tidak banyak bicara dan hanya fokus mendengarkan cerita mereka. Mungkin, ia harus memiliki kesempatan untuk mengenal gadis itu mulai sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya ....
Gu Yihao sudah bangun lebih awal dan memeriksa tempat di mana Qing Mao berbaring. Semalam, dia tidur bersandar di dinding gua. Putri Lailan ada tak jauh dari keberadaan gadis itu. Tapi saat dia melihat jika tempat di mana Qing Mao tidur sudah kosong, rasa khawatir mulai menyelimutinya.
Adapun Putri Lailan yang tertidur, Gu Yihao tidak membangunkannya sama sekali. Dia pergi ke luar gua untuk mencari di mana gadis itu berada. Mengingat kondisinya cukup serius semalam.
Tanpa diduga, dia mendengar teriakan An Daiyu yang memohon pada Qing Mao agar tidak menyiksanya. Sepertinya, itu berasal dari sungai yang berada tak jauh dari tempat mereka menginap.
Gu Yihao segera pergi menghampiri arah suara dan melihat An Daiyu yang setengah telanjang, berendam di air sungai musim semi. Tapi meski begitu, air di pagi hari tetaplah dingin. Belum lagi ini hutan perburuan, sumber mata air juga alami.
"Nona Qing ... Tolong maaafkan aku kali ini. Aku benar-benar tidak akan memfitnah siapapun lagi. Salahkan mulutku yang tidak bisa dijaga," kata An Daiyu seraya menampar mulutnya sendiri.
Di samping kiri dan kanan pria itu ada Dong Mei serta Fan Chen. Sama sama berendam dengan patuh. Tapi tidak melepaskan baju atas seperti An Daiyu. Keduanya dihukum karena pembicaraan semalam. Semua ini gara-gara An Daiyu yang bermulut bocor.
Qing Mao yang sedikit pucat tampak tidak peduli. Dia memperhatikan Dong Mei dan Fan Chen dengan ekspresi tidak bahagia.
__ADS_1
"Apakah kalian tahu kesalahan apa yang telah diperbuat?" tanyanya.