Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Mengalami Mimpi Buruk yang Aneh


__ADS_3

QING MAO benar-benar tidak menyangka jika pria itu benar-benar akan menciumnya begitu saja. Bahkan tidak hanya dengan cara biasa, tapi seperti sudah lama mencobanya. Semakin dia beringsut mundur, Gu Yihao akan menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman.


Barulah setelah beberapa saat, tautan bibir keduanya berakhir. Gadis itu mencoba mengambil napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan oksigen. Ia malu untuk melihat pria itu dan segera mendorongnya pergi.


Namun Gu Yihao menangkap pergelangan tangannya dan kembali mencium bibir gadis itu. Kali ini ada sedikit keberanian yang lebih besar hingga membuat Qing Mao berbaring. Gadis itu menggunakan tangan satunya lagi untuk menyerang, tapi lagi-lagi Gu Yihao mampu menangkapnya.


Ketika tautan bibir mereka terlepas, Gu Yihao sudah meletakkan kedua tangan gadis itu di atas kepala, mengunci dengan tangan kokohnya. Ia dan Qing Mao saling menatap untuk waktu yang cukup lama.


"Qing Mao ... Raja ini tidak pernah kehilangan kendali sebelumnya. Hanya kamu ... Hanya kamu yang mampu melakukannya sepanjang waktu," bisik pria itu tanpa mengalihkan perhatiannya.


Tapi Qing Mao masih berusaha untuk melepaskan diri. Kenapa pria ini memiliki kekuatan fisik yang begitu besar? Ia sama sekali tidak mau memedulikan perkataannya dan hendak menggunakan lututnya untuk menendang tubuh Gu Yihao.


Hanya saja, Gu Yihao segera menekannya dengan kaki lagi hingga membuat ekspresi gadis itu berubah tidak senang. Ia pun terkekeh dan menikmati rasa dominasi yang dimilikinya. Lagi pula, pria ditakdirkan untuk menaklukkan sisi wanita. Tapi kadang pria harus tunduk pada mereka.


"Jika kamu menendangnya di 'sana' bagaimana Raja ini akan memiliki keturunan di masa depan?" bisiknya lagi.


"Kamu— Gu Yihao, tidak bisakah kamu menjadi lebih sopan?"


"Raja ini tidak akan sopan padamu."


"..." Apa maksudnya? Pikir gadis itu.

__ADS_1


Gu Yihao menggigit daun telinga gadis itu dan mencium pipinya. Tidak tahu kenapa, malam ini dia begitu menginginkannya. Sejak tahu bahwa semua masalah tentang Qing Mao yang dipermalukan empat tahun ini dikarenakan Nu Qingge dan Gu Wenlian, dia merasa marah.


Qing Mao benar-benar meronta kali ini. "Sialan! Gu Yihao hentikan! Lepaskan ak— hmp!" Dia membelalakkan matanya lagi saat pria itu kembali menciumnya.


Setelah itu, ciumannya turun ke leher. Di sinilah Qing Mao benar-benar memiliki pikirannya untuk melawan hingga akhirnya dia berhasil melepaskan kedua tangannya dan segera mendorong pria itu. Gu Yihao sama sekali tidak menahannya.


"Kamu hooligan!" umpat gadis itu dengan wajah memerah. Dia segera bangkit dan meninggalkan kamar secepat mungkin.


Pintu kamar ditutup dengan keras. Gu Yihao duduk dengan santai seraya menyentuh bibirnya yang lembab. Ada senyum misterius di wajahnya. Tenyata benar, dia tidak bermimpi. Gadis itu benar-benar memiliki aroma yang membuatnya mabuk. Parfum di tubuhnya terasa sangat menenangkan pikirannya.


Ia memperhatikan seisi kamar gelap yang terkena cahaya remang-remang rembulan. Musim semi ini mungkin akan menjadi awal perjalanannya untuk mendapatkan hati gadis itu. Dia bangkit dan menghampiri meja nakas, lalu mengeluarkan kotak kecil dari saku jubahnya.


Gu Yihao meletakkan kotak kecil yang terbuat dari kayu itu di atas meja nakas, lalu meninggalkan kamar setelah menutup jendela.


Qing Mao pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Dia bisa gila jika terus bersama Gu Yihao sepanjang waktu. Setelah menghabiskan segelas air, dia kembali ke kamar untuk memastikan jika pria itu sudah pergi.


Saat mengetahui jika kamarnya sudah sepi, Qing Mao berencana untuk mengunci jendela dan pintu. Hanya saja matanya teralihkan pada satu kotak kayu kecil itu. Ia setelah mengambilnya dan membuka kotak, dia melebarkan matanya. Ini ... Bukankah antingnya yang dulu jatuh di suatu tempat setelah mengunjungi Gu Yihao di malam racun bunga es menyebar.


"Bagaimana bisa anting ini ada padanya? Mungkinkah dia sudah menebak sejak awal siapa yang membantunya?" gumam gadis itu agak tidak percaya.


Ia memperhatikan anting giok berbentuk kelapa kucing itu. Lalu memakainya kembali dengan tenang. Akhirnya, ia bisa menemukan anting ini lagi. Setelah itu, Qing Mao menghampiri jendela dan membukanya, memperhatikan pemandangan malam. Banyak lentera di rumah warga, pinggir jalan serta beberapa toko.

__ADS_1


Ia seperti sudah lama hidup di zaman ini. Tapi ia harus sadar jika semuanya hanya karena takdir cincin batu giok hijau. Hidup sebagai Qing Mao ... Lalu bagaimana dengan Qing Mao di dunia ini? Apakah pernah ada atau tidak?


Qing Mao tidak percaya jika batu giok hijau ini adalah warisan dewa. Untuk membuat dirinya dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di zaman ini, pasti bukan hal yang mudah. Dia berharap jika ini bukan manipulasi cincin batu giok hijau.


Setelah memperhatikan langit malam, dia menutup jendela dengan rapat dan segera tidur. Lupakan tentang seberapa tidak tahu malunya Gu Yihao tadi. Ia tidak mau mengingatnya lagi.


Saat tertidur, gadis itu mengerutkan kening berulang kali. Lalu berpindah posisi untuk mencari kenyamanan di ranjangnya. Hanya saja, semakin dia mengerutkan kening, keringat halus mulai muncul di dahinya. Tubuhnya panas dingin, seolah-olah ada rasa takut yang menggelayuti.


Bisa dipastikan jika dia tengah mimpi buruk saat ini. Qing Mao mencengkeram selimutnya dengan napas yang agak berantakan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tanpa disadarinya. Dalam mimpi itu, dia melihat suasana rumah yang suram, suara hujan berpetir serta kesedihan para pelayan.


Suasana dalam mimpi itu seperti di sebuah rumah bangsawan. Seorang gadis berulang kali berkata jika dia menyukai Gu Yihao. Tapi orang-orang membencinya karena dituduh sebagai xiaosan (orang ketiga). Gadis dalam mimpinya memakai gaun yang indah, rambutnya tergerai panjang tapi menangis sepanjang waktu.


Saat Qing Mao menyaksikan mimpi itu, rasanya seperti nyata dan mengalaminya. Ada kesedihan yang dalam, rasa sakit dan justru kebencian. Belum lagi, ia terkejut saat melihat wajah gadis itu yang mirip dengannya ketika berusia sebelas tahun. Apa-apaan semua ini? Kenapa keduanya begitu mirip?


Dalam ingatan yang cincin batu giok hijau, Qing Mao tidak memiliki potongan kepingan yang ini. Jadi ini potongan kepingan ingatan siapa?


Gadis berusia sebelas tahun yang mirip dengan Qing Mao pun pergi ke kamar dan mengurung diri selama beberapa. Pada akhirnya, dia melihat para pelayan berteriak dan menangis seraya memanggil nona muda mereka. Qing Mao juga pergi, tubuhnya terasa ringan—mungkin karena semua ini hanya mimpi.


Dia melihat darah di lantai serta gadis itu yang tergeletak tak sadarkan diri. Saat pelayan memeriksanya, gadis itu sudah tidak memiliki napas. Pergelangan tangan kirinya ternyata sengaja disayat. Qing Mao merasa hatinya sakit. Kenapa? Apakah karena menyukai Gu Yihao atau karena tuduhan orang-orang terhadap dirinya sehingga memutuskan untuk bunuh diri?


Di saat Qing Mao ingin menghampirinya, tiba-tiba saja sebuah dorongan energi mementalkan dia keluar dari mimpi itu. Pada saat itulah, Qing Mao langsung terbangun dari tidurnya. Dia duduk dengan keringat mengucur deras di tubuhnya. Saat melihat ke samping, ia terkejut.

__ADS_1


"Hyou? Bagaimana kamu ada di kamarku?" tanyanya.


__ADS_2