Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Kaisar Memberi Tahu Qing Mao Sebuah Rahasia


__ADS_3

HYOU SEDIKIT bingung saat memikirkan apa yang baru saja terjadi pada Qing Mao selama beberapa hari terakhir. Namun pada akhirnya tidak ada jawaban yang pas. Belum lagi, Istana Kekaisaran mengirim surat ke rumah jika Qing Mao diundang ke istana oleh Kaisar Gu untuk menyampaikan sesuatu.


Tidak tahu apa, Hyou selalu merasa jika semakin hari, situasinya tidak terkendali. Kecuali untuk pengalaman hidup Qing Mao dan keluarga Qing, Hyou tidak bisa membiarkan gadis itu mengetahui fakta tentang kehidupan masa lalunya yang nyata.


Waktunya belum tepat. Oleh karena itu, dia merasa sedikit terganggu sepanjang hari.


Ketika Hyou tahu Han Baimo dari negara Baicheng datang, Hyou sudah menebak tujuan Gu Yihao memanggilnya. Pasti untuk berurusan dengan Gu Wei. Apakah semuanya akan berjalan secepat ini?


Di saat Hyou tenggelam dalam pikirannya, pelayan telah meletakkan segelas jus jeruk untuk Qing Mao. Gadis itu merasakan kesegaran jus jeruk membasahi tenggorokannya, akhirnya merasa lega.


"Mungkinkah kamu memikirkan tentang Han Baimo?" tebaknya.


Jika di masa lalu Qing Mao akan bertanya apa yang terjadi secara terus menerus, maka sekarang tidak perlu lagi. Dia bukan Qing Mao yang baru saja melihat dunia, tapi seorang kultivator yang telah menjalani kehidupan dan kematian berulang kali di tangan Gu Wei.


"Bagaimana kesanmu tentang pria itu?" tanya Hyou.


"Yah, tidak apa-apa. Dia tampan dan memiliki rambut putih. Dia terlihat sangat suci," jawab gadis itu langsung tersenyum seolah-olah sedang membayangkan sosok sempurna Han Baimo di tempat tidur.


"..." Hyou ingin tersandung sesuatu. Jawabannya sangat jauh daripada perkiraannya.


Bukankah ini mengkhianati penampilan Gu Yihao. Untung saja pria itu tidak ada di sini sekarang jika mendengarnya, mungkin akan tidak bahagia.


Namun Qing Mao benar. Han Baimo sangat tampan dan dianggap sebagai pria suci sejak zaman dahulu. Bahkan setelah reinkarnasinya berulang kali, Han Baimo tetap tidak pernah berubah.


Untungnya zaman ini tidak memiliki lukisan orang-orang zaman dulu sehingga Han Baimo tidak akan dikenali sebagai reinkarnasi dari pangeran besar.


Hyou merasa tertekan dan akhirnya menghela napas tidak berdaya. Entah Qing Mao bodoh atau pura-pura tidak tahu, Hyou harus bisa menstabilkan situasinya.


"Maksudku, apakah kamu merasa bahwa dia akrab di suatu tempat?" tanyanya.


"Yah, memang. Tapi aku tidak tahu di mana," jawab gadis itu polos.

__ADS_1


"..." Entah kenapa Hyou mulai merinding saat mendengarkan gadis itu berpendapat kali ini. Rasanya ada sesuatu yang hilang.


"Kenapa tiba-tiba kaisar mengundangku kali ini?"


Qing Mao tidak mau terjerat dengan topik mengenai Han Baimo dan secara tidak sadar teringat dengan apa yang dikatakan Hyou saat dia baru saja pulang.


Hyou mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu tentang ini. Apapun yang kaisar ingin katakan padamu ... jangan menahan diri untuk berpikir terlalu banyak."


Semuanya bisa saja menjadi mungkin dan tidak mungkin. Bagi Hyou, ini hanya prediksinya saja. Laki-laki pergi ke dapur dan menyediakan beberapa makan ringan yang disukai Qing Mao.


"Kapan aku harus pergi?" tanya Qing Mao sambil membuka bungkus keripik kentang.


"Hari ini juga tidak masalah. Datanglah setelah makan malam nanti."


"Yah ... Oke." Gadis itu bersenandung lembut.


Mungkin di negara ini, dia satu-satunya orang yang tidak peduli dengan aturan kaisar. Terlebih lagi, Qing Mao telah menjalani kehidupan zaman modern sebagai anggota resimen bayaran kuno. Kesombongan dan rasa percaya dirinya telah melekat hingga ke tulang.


Qing Mao pergi ke istana ketika hari gelap. Dia telah makan malam sebelumnya dan memilih waktu yang tepat untuk pergi ke Istana Kekaisaran. Kereta berhenti di depan gerbang Istana Kekaisaran dan Qing Mao dengan tenang.


Dua penjaga pintu istana mengetahui akan datangnya Qing Mao malam ini jadi mereka menyambutnya dengan sopan.


"Nona Qing, yang mulia kaisar menunggu di ruang belajar," ucap salah satu penjaga gerbang.


"Aku tahu. Pimpin jalan," kata gadis itu pada pelayan yang juga telah menunggunya.


Halaman Istana Kekaisaran sungguh luas dan indah. Terlebih halaman Kaisar Gu.  Namun seberapa baiknya seorang kaisar untuk masyarakat, tangan dan hatinya tidak dijamin selalu bersih.


Kali ini Qing Mao datang hanya untuk mengetahui hal apa yang membuat kaisar merasa penting. Menurut yang dia dengar dari pelayan istana secara tidak sengaja, sore tadi Han Baimo datang ke Istana Kekaisaran dan kini menginap di halaman lain sebagai tamu kehormatan kekaisaran.


Qing Mao tahu jika itu hanyalah alasan Han Baimo untuk berada di negara ini. Tujuan sebenarnya jelas mencari keberadaan Gu Wei.

__ADS_1


"Nona Qing, kaisar ada di dalam," ujar pelayan setelah sampai di tujuan.


"Kamu bisa kembali." Qing Mao melambai ringan.


Pelayan itu sedikit membungkuk dan mundur selangkah sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan halaman ruang belajar.


Qing Mao melihat pintu ruang belajar yang tertutup, hatinya tidak terkejut sama sekali. Ada dua penjaga di samping kiri dan kanan pintu berdaun dua ruang belajar. Dia mengetuk dua kali dan sahutan dari dalam memintanya masuk.


Saat Qing Mao membuka pintu, ruang belajar terlihat cukup terang. Ada beberapa penerbangan dari lentera kecil di dalamnya sehingga tidak sulit untuk memperhatikan seisi ruang belajar dengan cermat.


Tak jauh di depan, kaisar duduk dengan tenang, punggungnya diluruskan dan terlihat sedang membuat kaligrafi ringan. Jubah kuning keemasannya membawa kesan agung yang dalam.


Qing Mao tidak pergi untuk menyapa dan duduk di seberang meja sambil menuangkan secangkir teh untuk diri sendiri.


"Hal apa yang membuat Yang Mulia memanggilku?" tanya Qing Mao tanpa basa-basi.


Kaisar Gu mengerang saat mendengar hal pertama ini dan menoleh sedikit pada gadis itu. Kepribadian Qing Mao memang berbeda dari masa lalu. Dia mungkin harus senang kali ini, setidaknya Qing Mao tidak murung dan pengecut seperti tiga tahun lalu.


Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang, menyimpan kuas dan membiarkan goresan tinta di atas kertas halus mengering.


"Ini tentang keluargamu dan ..." Kaisar menatap Qing Mao yang telah menyesap tehnya lagi. "Tidakkah penasaran dengan cincin batu giok hijau yang kamu kenakan sekarang?" tanyanya.


Qing Mao menarik sebelah alisnya dan menatap cincin batu giok hijau yang tersemat di jari manis tangan kiri. Yah, itu indah. Tapi ... dia tidak penasaran sama sekali. Dia sudah tahu segalanya sejak ingatannya kembali.


Hanya saja, dia tidak terlalu jelas tentang awal mula cincin batu giok hijau. Apalagi tentang Hyou sebagai penjaga ruang artefak cincin tersebut.


"Bahas yang lain saja, tentang Gu Wei. Mengenai cincin ini, aku tidak penasaran sama sekali," katanya pelan.


"..." Kaisar Gu membelai dahinya dengan serius. Gadis itu kenapa terlihat seperti seorang wanita berusia ratusan tahun?


"Mengenai Gu Wei ..." Kaisar tampaknya mengingat sesuatu dan mengeluarkan sebuah buku tipis yang telah termakan usia. Dia menempatkan buku tersebut di depan Qing Mao. "Mungkin sudah waktunya kamu untuk tahu sejarah awal mula artefak cincin batu giok dibuat ...." Dia berbicara pelan seolah-olah takut ada yang menguping.

__ADS_1


"Hmm?" Qing Mao terlihat tertarik dengan topik ini.


__ADS_2