
HYOU SUDAH menyiapkan diri untuk tidak terkejut sejak awal jika Qing Mao memang sudah mendapatkan kembali ingatan dari berbagai kehidupan. Tapi masalahnya, gadis itu terlihat lebih tenang saat ini dari pada saat pertama kali tak sengaja membuka ingatan itu.
Hyou menatapnya dari atas ke bawah lalu merenung sejenak. Mungkinkah Qing Mao sudah kuat secara fisik dan mental tentang kehidupan tragis itu? Pikirnya.
“Ada apa?” Gadis itu bertanya dengan curiga.
“Mungkinkah otakmu mengalami masalah?”
“... Apa maksudmu?” Qing Mao justru kebingungan dengan pertanyaan tak masuk akal itu.
“Mungkin karena kamu tidak mampu menerima kenyataan dari berbagai kehidupan sebelumnya, otak mu mengalami reaksi berlebihan hingga menyebabkan emosi mu terganggu. Pada akhirnya kamu menjadi tidak memiliki perasaan dan setengah gila.” Hyou menjelaskan berdasarkan apa yang dilihatnya saat ini.
Sayangnya, Qing Mao yang mendengarnya justru marah dan segera mengambil batu terdekat yang ada di sekitarnya. Karena saat ini, dia memang berada di dekat danau.
“Hyou, sepertinya otakmulah yang rusak! Beraninya mengatakan aku gila?! Aku adalah seorang kultivator hebat di zaman kultivator dan istri dari Gu Yihao! Apakah kamu masih beranggapan jika aku ini gila?!” teriaknya.
Hyou langsung terkejut saat melihat jika Qing Mao memang baik-baik saja dan tidak memiliki kelainan emosi. Dia segera keluar dari ruang artefak dan muncul di gang perumahan sepi.
Adapun Qing Mao yang mengejarnya, kini gadis itu sudah memegang sapu ijuk dan masih mengejarnya di sepanjang jalan. Tak peduli dengan warga yang berlalu-lalang di sana.
“Kamu jangan lari! Beraninya mengatakan aku gila, aku pasti akan memberi tahu mu apa artinya gila!” teriaknya.
“Tuan, aku tahu salah!” Hyou tidak peduli lagi dengan citranya yang tenang dan lembut. Dia hanya lari untuk menghindari kejaran tuannya yang marah besar.
Hal ini cukup menarik perhatian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu. Mereka mengenal Qing Mao. Gadis cantik dari keluarga Qing itu terlihat marah dan pertama kalinya bersikap demikian di depan orang banyak.
Di masa lalu, Qing Mao selalu pemalu tapi juga periang, mengejar pangeran kesebelas di mana-mana. Pada akhirnya dipermalukan oleh pangeran kesebelas—Gu Yihao dan sepenuhnya tidak terlihat lagi.
Siapa yang tahu setelah beberapa tahun berlalu, gadis itu tumbuh semakin cantik dan juga berani. Sikapnya terhadap orang-orang istana masih sama, memiliki kebencian.
Namun apa yang membuat orang-orang tidak menduga adalah Qing Mao menarik perhatian Gu Yihao lagi setelah Nu Qingge berselingkuh.
Ini sangat menarik.
Hyou lagi dengan cepat dan Qing Mao tak kalah cepat.
__ADS_1
"Jangan lari!" Gadis itu masih berteriak.
Hyou tidak peduli dan segera pergi menuju ke arah di mana rumah Qing Mao berada.
Sayangnya di saat Qing Mao ingin mengejarnya lebih jauh, sosok jangkung seorang pria tiba-tiba muncul di depan gadis itu.
Qing Mao tidak sempat untuk menghindar dan akhirnya menabrak dada bidang pria itu. Dia mengaduh saat hidungnya terasa sakit. Sapu yang dipegangnya jatuh.
Sebelum dia terhuyung ke belakang, tangan kuat pria itu melingkari pinggangnya. Napas hangat pria itu menggelitik daun telinga Qing Mao. Gadis itu tertegun dan wajahnya memerah.
Di sisi lain, Hyou yang sudah lagi jauh pun menghela napas. Untungnya pria itu datang. Jika tidak, dia dipastikan akan babak belur hari ini. Yang jadi masalah, Qing Mao sudah ingat siapa dirinya sendiri dan memiliki semua ingatan dari semua kehidupan di mas lalu.
Meninggalkan Hyou yang telah memasuki rumah ....
Qing Mao menabrak Gu Yihao yang mendadak muncul di depannya. Dia ingin mengutuk diam-diam tapi pikirannya kosong ketika menatap sepasang mata dalam pria itu.
"Hao ... Gu Yihao," gumam Qing Mao tanpa sadar.
Pria itu tersenyum lembut, memegang gulungan dekret dari kaisar.
"..." Kenapa pria ini ada di mana-mana? Pikir Qing Mao setelah pulih dari rasa kagumnya.
Dari dulu, Gu Yihao selalu menjadi pria dengan pesona luar biasa. Yang membuat Qing Mao jatuh cinta padanya bukanlah karena ketampanan atau kekuasaannya di masa lalu, tapi cara pria itu memperlakukan dirinya sangatlah menyentuh hati.
Gu Yihao tidak akan pernah ragu untuk mementingkan pasangannya sendiri dan berkorban untuknya. Bahkan jika itu berdarah dan penuh rasa sakit, Gu Yihao selalu menanggungnya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya gadis itu.
Dia segera melihat sekitar. Untungnya ini sudah di luar jalan utama dan tidak banyak orang.
"Datanglah dan tunjukkan sesuatu padamu," jawab pria itu seraya menyerahkan gulungan yang terbuat dari bahan yang halus.
"Apa ini?"
"Bukalah." Gu Yihao menjadi misterius.
__ADS_1
Qing Mao mengerutkan kening, merasa curiga dan segera membuka gulungan dekret kekaisaran. Untung saja pencahayaan dari lentera di sekitar mereka masih bagus. Setelah membacanya berulang kali, dia tertegun. Tangan yang memegang gulungan itu sedikit kaku.
Jika itu tentang dekret pertunangan, Qing Mao mungkin tidak akan merasa aneh. Tapi kali ini adalah pernikahan!
Pria ini sebenarnya pergi ke kaisar dan meminta pernikahan tanpa berdiskusi dengannya dulu?
Ekspresi Qing Mao segera menjadi gelap. Dia menatap Gu Yihao dengan ekspresi tidak berdaya dan kesal.
"Kamu bahkan tidak meminta pendapatku dulu?"
Gu Yihao tidak marah. "Kenapa raja ini harus meminta pendapatmu lebih dulu? Jika raja ini ingin menikahimu, maka menikah saja." Dia sangat sombong.
"Kamu—" Qing Mao memelototinya tapi segera pria itu menciumnya.
Qing Mao bahkan lebih bingung lagi dan hatinya sedikit berantakan. Pria itu berani menciumnya di tempat terbuka seperti ini. Sungguh tak tahu malu.
Untung saja hari sudah malam. Tidak ada yang menyadari jika pria itu berbuat tak senonoh di tempat umum.
Dia langsung mendorong pria itu, melemparkan dekret ke arahnya dan melarikan diri karena malu. Dia sangat malu. Ini tentang pernikahan. Pria ini ingin menikahinya dalam waktu dekat.
Tapi di mata Gu Yihao, gadis itu mungkin marah karena waktu pernikahan yang terlalu mendesak? Tapi dia tidak sabar lagi untuk mengikatnya bersama. Qing Mao adalah istrinya dari zaman ke zaman.
Sekarang, istana penguasa benua sedang dibangun kembali. Ketika istana itu berdiri, dia akan membawa Qing Mao ke sana dan mengenang semua masa lalu mereka.
Dia memegang gulungan dekret dengan erat dan segera mengejarnya.
Qing Mao yang masih memiliki rona merah di wajahnya pun segera pergi ke kamar dan mengunci pintu. Hatinya perlu tenang. Untungnya Hyou sedang ada di dapur, membuat camilan.
"Pria itu benar-benar—" Qing Mao menghela napas lega.
Setelah menenangkan diri, dia meminum segelas air yang disediakan di atas meja nakas. Baru saja beberapa teguk , dia melihat ke arah jendela. Sosok jangkung itu masuk dengan mudah tanpa merasa bersalah.
Air yang baru saja tertahan di mulutnya pun menyemburkan. Pria tak tahu malu ini bahkan berani mengejarnya?
Qing Mao terbatuk dan menyimpan gelas. Akhirnya dia menatap Gu Yihao dengan kemarahan nyata.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini? Tidak cukupkah untuk menggangguku?"