
SEMENTARA ITU, Qing Mao pergi ke lantai lima di mana Gu Yihao berada. Tanpa diduga, lantai lima tidak memiliki pengunjung lain saat ini. Lebih tepatnya, Gu Yihao telah menyewa lantai lima untuk pertemuan penting dengan pangeran besar negara Baicheng.
Ketika Qing Mao tiba di sana, perasaannya semakin tidak nyaman. Bukan karena ancaman bahaya tersembunyi, tapi tentang Han Baimo itu. Kapan dia pernah melihatnya?
Saat memasuki kotak di mana keduanya berada, Qing Mao menunjukkan kesopanannya.
"Mao'er ... Datang dan duduk," kata Gu Yihao lembut. Dia menepuk tempat di sampingnya.
Qing Mao tidak berani membantah kali ini dan duduk tanpa melihat ekspresi Han Baimo. Pria berpakaian serba putih itu memegang secangkir teh mahal di tangannya.
"Baimo, ini Qing Mao, tunanganku," kata Gu Yihao memperkenalkan diri.
Seketika, Qing Mao yang baru saja duduk pun terkejut dan hampir tersedak salivanya sendiri. Dia menatap Gu Yihao dengan ekspresi bingung. Kapan dia menjadi tunangannya? Kaisar bahkan tidak tahu bukan?
Apakah ini hanya kepemilikannya sendiri?
Belum lagi, Gu Yihao memanggil Han Baimo dengan nada yang akrab?
Sebelum Qing Mao membantah dan menyalahkan, Gu Yihao sudah merangkul pundak gadis itu dan meremasnya dengan sedikit tenaga.
"Tunanganku sedikit pemarah dan suka memberontak di rumah. Maklumi," katanya lagi.
"..." Qing Mao yang diadu hanya diam saja.
Akhirnya, ekspresi datar dan misterius Han Baimo pun pecah dengan gelak tawa. "Jangan khawatir. Si kecil ini masih tak berubah sedari dulu. Aku tahu itu."
Mendengar hal ini, Qing Mao justru semakin tidak nyaman. Benarkah Han Baimo ini mengenalnya di kehidupan masa lalu? Namun dia tak mau menunjukkan kekurangan apapun di depan keduanya dan berperilaku seolah-olah bingung.
Han Baimo menyipitkan matanya saat melihat Qing Mao dan entah apa yang sedang dipikirkannya. Setelah menghabiskan secangkir teh, dia tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada gadis itu.
"Apakah kamu mencariku?" tanyanya.
__ADS_1
"Hah? Apa?" Qing Mao kebingungan. Siapa bilang dia mencarinya.
Melihat ekspresi bingungnya yang nyata, Han Baimo menggelengkan kepala. "Bukankah Nona Qing mencari pemilik cincin batu giok putih?"
"..." Aku sudah menebak jika itu kamu, tapi ....
"Namaku Han Baimo, pangeran besar dari Negara Baicheng serta pewaris cincin batu giok putih." Han Baimo memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Yihao berkata jika kamu mencariku untuk sesuatu."
Qing Mao menatap keduanya dengan curiga. "Apakah kalian saling kenal?"
Pria berpakaian serba putih itu tertawa lagi dan sedikit memelintir rambut putihnya. "Tentu saja kami saling kenal. Di Negara Baicheng, aku satu-satunya orang yang memiliki rambut putih ...."
Saat mengatakan ini, Han Baimo tampaknya telah mengingat masa lalu. Dia juga memiliki rambut putih di zaman kultivator masih berjaya dan hidup sebagai guru negara kekaisaran Gu.
Tapi sayang sekali ketika dia dilahirkan kembali dari zaman ke zaman, dirinya tidak berjodoh dengan negara Quentian. Penampilannya saat ini masih sama seperti dulu namun mungkin Qing Mao tidak tahu.
Di zaman dulu, dia dan Qing Mao jarang sekali bertemu. Sebagai guru negara, dia dihormati oleh kaisar dan juga sering menjadi penasihat yang paling baik. Sedangkan Qing Mao adalah wanita berbakat yang mengabdikan dirinya pada seni bela diri dan kultivasi.
"Untuk mengalahkan Gu Wei sebagai penjaga cincin batu giok hitam, tentu saja tidak mudah. Dari dulu, Gu Wei sangat licik dan mampu melintasi zaman ke zaman untuk terus hidup sebagai pemegang cincin itu sendiri," jelas Han Baimo langsung pada intinya.
"Lalu, bagaimana caranya agar bisa mengalahkan dia?"
"Masalah ini ... Aku akan memikirkannya lebih dulu," jawab Han Baimo seolah-olah berpikir keras.
"..." Jika Qing Mao belum memiliki ingatan asli masa lalunya, mungkin akan percaya jika pria ini benar-benar sedang berpikir. Tapi pada kenyataannya, Han Baimo tengah menimbang pro dan kontra.
Tanpa menatap pasangan tunangan itu, Han Baimo menuangkan secangkir telah lagi untuk diri sendiri.
"Yihao, aku ingin berbicara berdua sebentar dengan Nona Qing. Aku harap kamu tidak keberatan," katanya.
Gu Yihao mengerutkan kening dan akhirnya pergi meninggalkan kotak. Dia memilih untuk mencari tempat duduk di dekat jendela lain.
__ADS_1
Han Baimo yang merasakan jika aura Gu Yihao sudah menjauh pun menghela napas. Dia terkekeh dan mengelus permukaan batu giok putih pada cincin yang dipakainya. Adapun Qing Mao yang merasa jika ekspresi Han Baimo lebih berbeda dari sebelumnya pun sedikit menebak, pria ini pasti mengetahui sesuatu tentang dirinya sekarang.
Bahkan Han Baimo juga menyajikan secangkir teh untuk Qing Mao. Gerakannya sangat halus dan terpelajar, emosinya stabil serta sulit ditebak apa yang tengah dipikirkannya. Semakin Qing Mao melihat, keakraban itu terasa tapi entah di mana dia pernah bertemu dengannya di zaman itu.
Ketika Qing Mao menyesap tehnya, Han Baimo pun langsung membuka suara.
"Aku tidak bahwa Nona Qing akan menyembunyikan diri dari Yihao. Jika sudah ingat masa lalu tentang diri sendiri di zaman itu, lalu kenapa tidak memberi tahu Yihao?" tanyanya langsung menatap Qing Mao yang tenang di permukaan. "Bukankah ... Nona Qing selalu mencintai Gu Yihao?"
Ada keheningan setelah itu. Qing Mao tidak terlalu terkejut ketika Han Baimo mengekspos dirinya sendiri. Dia memang sudah ingat namun belum siap untuk memberi tahu Gu Yihao. Di sisi lain, dia tidak ingin Gu Wei menyadarinya. Lalu alasan lain ... ia tidak siap untuk bersama Gu Yihao secara terang-terangan.
Pengalamannya dari zaman ke zaman terlalu menyakitkan. Dia hidup dan menikah dengan Gu Yihao, lalu dipisahkan dan dibunuh oleh Gu Wei. Terus seperti itu. Membuatnya tidak ingin lagi mengalami hal yang sama untuk ke sekian kali.
Setelah menyesap tehnya, Qing Mao menghela napas. "Aku tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti di masa lalu. Kali ini ... Aku ingin menghilangkan Gu Wei selamanya."
"Ini jelas tidak mudah," kata Han Baimo yang menggelengkan kepala. "Mungkin kamu tidak tahu. Untuk menghilangkan Gu Wei selamanya, cincin batu giok hitam harus dihancurkan."
"Hancurkan cincin?"
"Ya." Han Baimo mengangguk lagi. "Untuk menghancurkan cincin, kita juga harus melemahkan Gu Wei," jelasnya.
"Selama kita melemahkan Gu Wei, apakah cincin batu giok hitam akan hancur?"
"Tidak, tapi kamu harus menghancurkannya sendiri dengan kemampuan artefak cincin batu giok yang dimiliki. Ini tidak mudah ... mengingat Gu Wei telah hidup sambil mengisap aura jahat manusia." Lagi-lagi Han Baimo menghela napas.
"Lalu kenapa Gu Wei tidak mencari pemilik sebelumnya dan malah memegang cincin batu giok hitam itu sendiri?"
"Itu karena ..." Han Baimo mencondongkan tubuhnya ke arah Qing Mao hingga gadis itu sendiri harus mengerutkan kening dan menjauhi, seolah-olah jijik.
Tapi tanpa diduga, pintu kotak tiba-tiba dibuka dan sosok Gu Yihao muncul dengan ekspresi datarnya.
"..." Han Baimo dan Qing Mao seperti pasangan yang tertangkap basah melakukan perselingkuhan, sama-sama menatap ke arah Gu Yihao.
__ADS_1