Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Status Qing Mao yang Tidak Bisa Disentuh


__ADS_3

QING MAO harus berlutut? Di mana ada etika seperti itu? Gadis tersebut tidak perlu berlutut karena memiliki token bebas kematian yang tidak mungkin membuatnya tunduk pada Kekaisaran Gu. Jadi dia hanya membalas dengan nada yang tidak ada kehangatan atau kedinginan di permukaan.


"Tidak perlu. Aku tidak pernah berlutut untuk orang-orang kekaisaran," jawabnya.


Akhirnya, Gu Wenlian bisa mengingat samar-samar suara gadis itu. "Apakah kamu Qing Mao?"


Cukup lama tidak ada jawaban hingga akhirnya gadis itu menjawab lagi. "Ya. Ini aku."


"..." Sungguh kebetulan bertemu dengannya di sini, pikir Gu Wenlian sedikit gugup.


Kecantikan Qing Mao bisa dibilang alami dan juga tidak sepolos Nu Qingge di permukaan. Tapi karena kini mengenakan topeng, ia tidak bisa mengangguk kecantikannya. Selir putra mahkota yang kini ada di sampingnya segera mengubah ekspresi wajah, agak jelek. Ternyata itu Qing Mao yang pernah dibuat rumor buruk selama empat tahun terakhir.


Tapi selir itu tidak bisa mengatakan kata-kata sembarangan karena tampaknya suara putra mahkota tampak lembut pada gadis itu. Mungkinkah Gu Wenlian ingin membawa Qing Mao sebagai selir juga?


Di saat Gu Wenlian ingin berkata sesuatu, tiba-tiba saja pria paruh baya yang dianiaya Qing Mao pun segera maju dan berlutut di depannya.


"Yang Mulia ... Yang Mulia tolong aku. Yang Mulia dan keluarga perdana menteri keuangan Nu akan segera menjadi kerabat di masa depan. Gadis ini telah menjatuhkan hamba dari lantai tiga. Yang Mulia tolong memberi keadilan," kata pria paruh baya itu dengan penuh harap.


Ekspresi Gu Wenlian berubah total. Bisakah dia menghukum Qing Mao? Yang ada, gadis itu mungkin yang menghukumnya. Oleh karena itu, dia segera mencibir.


"Memberimu keadilan? Apakah kamu tidak tahu siapa yang baru saja kamu adukan padaku? Bahkan kaisar pun akan mengabulkan keinginannya. Bagaimana Pangeran ini bisa membantah?! Lagi pula, apa yang kamu lakukan dengan membuat masalah di festival topeng?"


Pria paruh baya itu segera berwajah pucat dan kebingungan harus menjawab apa. Bahkan Nyonya Pei juga tertegun. Gadis itu bernama Qing Mao? Dia pernah mendengar rumornya. Tapi katanya rumor itu segera dipatahkan dengan perselingkuhan Nu Qingge. Tidak menyangka jika identitasnya bahkan lebih tinggi daripada pangeran.


Qing Mao memiliki token bebas kematian. Bisa terbebas dari semua hukuman, termasuk hukuman mati. Di mana Fu Wenlian mau mencari masalah? Saat ini saja statusnya hampir hilang, tidak mungkin membuat ayah kaisar kecewa. Jadi, bahkan jika pria paruh baya itu adalah kerabat keluarga perdana menteri keuangan Nu, ia masih bisa membedakan mana yang lebih penting lebih dulu.

__ADS_1


Gu Wenlian segera meminta maaf pada Qing Mao dan meminta selirnya untuk melakukan hal yang sama. Daripada terlibat masalah, selir putra mahkota juga tahu tempatnya. Qing Mao mencibir di balik topeng dan meminta Gu Wenlian untuk mengatasi permasalahan ini.


Nyonya Pei terikat utang dengan pria paruh baya dan hampir mencekai seorang anak yang masih kecil. Lalu beberapa orang yang sebelumnya menyaksikan kegembiraan itu juga berkata apa adanya dan memberi tahu kesombongan pria paruh baya itu.


"Tidak, aku ... aku tidak bermaksud untuk membunuh anak itu. Aku hanya ingin keluarga wakil jenderal Pei membayar utangnya. Ini sudah berbulan-bulan dan mereka belum membayar sama sekali. Aku hanya, hanya ..."


"Apakah keluargamu kekurangan uang?" tanya Qing Mao acuh tak acuh.


"Hah? Apa? Kekurangan uang? Tidak, tidak. Keluargaku sudah lebih dari cukup." Pria paruh baya itu menggertakkan giginya dan hanya bisa jujur. Dia tidak bisa kehilangan citranya di sini atau keluarganya akan memukuli dirinya hingga mati.


"Berapa utangnya?" tanyanya lagi.


"Ini ... ini ..." Pria paruh baya itu gelagapan dan bingung kenapa Qing Mao bertanya tentang jumlah uangnya.


"Katakan saja berapa?" Gu Wenlian tidak sabaran.


Lalu Qing Mao menatap Nyonya Pei yang sudah berhenti menangis, tapi masih memeluk putranya dengan gemetar. "Apakah itu benar?"


"Ya, itu benar Nona. Tapi kali ini aku membawa uangnya. Sungguh. Aku membawa uangnya." Nyonya Pei segera mengeluarkan lima lembar uang kertas. Satu lembar uang kertas bisa bernilai ratusan koin perak atau emas.


Qing Mao mengambilnya dan mengecek. Ternyata satu lembar uang kertas tersebut dihargai dua ratus koin perak. Ia pun segera menyerahkannya pada pria paruh baya itu, tapi hanya empat lembar uang kertas saja.


"Untuk biaya kerugian psikologis anak itu, dua ratus koin perak sudah cukup. Kecuali jika keluargamu kekurangan uang?" Qing Mao sengaja ingin membuatnya marah tapi tidak bisa melawan.


"..." Pria paruh baya itu memang ingin memuntahkan darah lama. Keluarga wakil jenderal Pei berutang padanya, tapi kini dia juga harus membayar beban psikologis anak itu yang hampir jatuh dari lantai tiga.

__ADS_1


Belum lagi, Gu Wenlian menatapnya dengan dingin. Membuat ia tidak berani untuk menunjuk ekor. Oleh karenanya, pria paruh baya itu hanya bisa mengiyakan dengan hati berdarah. Keluarganya masih ingin hidup. Tidak menyangka bahwa hari ini akan bertemu dengan seseorang dengan status tinggi.


"Kalau begitu, baiklah. Aku menerimanya dan utang keluarga wakil jenderal Pei sudah lunas. Aku ... aku meminta maaf atas perilaku yang tadi. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Gadis ini ... Bisakah melepaskanku sekarang?" Pria paruh baya itu hanya ingin segera pergi dari sana. Dia sudah sudah cukup malu.


"Jika lain kali kamu mencari masalah dengan mereka, aku mungkin mengajukan permintaan pada kaisar untuk memberi keluargamu pekerjaan baru," ancam Qing Mao.


Akhirnya pria paruh baya itu segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan pergi meninggalkan tempat itu, dibantu oleh sang penjaga. Orang-orang sudah tidak lagi melihat kegembiraan dan sebagian langsung membubarkan diri. Halaman restoran jadi penuh oleh orang-orang.


Qing Mao menyerahkan uang kertas itu pada Nyonya Pei dan pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Gu Wenlian sendiri tidak bisa memulai percakapan dengannya, mengingat jika keduanya memang tidak dekat. Melihat sosoknya, Gu Wenlian merasa lebih kagum. Selain berani dan cerdas, Qing Mao juga tidak kekanak-kanakan seperti dulu.


Jika bukan karena Nu Qingge waktu itu ... Qing Mao mungkin—


"Yang Mulia," ujar selirnya berhati-hati.


Gu Wenlian terlihat linglung sebentar, lalu ada sedikit kemarahan. Selirnya khawatir jika gadis bernama Qing Mao itu tidak membuatnya bahagia. Pria itu kembali ke akal sehatnya dan segera mengajaknya pergi dari tempat tersebut. Ia tidak tertarik dengan festival topeng.


Sedangkan Qing Mao sendiri yang kini sudah diketahui oleh banyak orang, tidak mungkin melakukan sesuatu. Namun dia segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahrestoran bertingkat tadi. Ia merasa jika ada seseorang yang memperhatikan dari bayang-bayang.


Tapi tidak ada siapapun di sana. Pada akhirnya, dia menundukkan kepala dengan kebingungan. Mungkinkah perasaannya salah?


Karenanya, Qing Mao kembali melangkah dan berbaur dengan orang-orang. Setidaknya pergi mencari Putri Lailan.


Sedangkan tanpa Qing Mao ketahui ....


Seorang pria berpakaian bangsawan memperhatikan dari lantai tiga restoran tadi. Senyummu terukir sempurna serta rambut hitam panjang sehalus sutra itu membuat sosoknya lebih menawan. Dia terkekeh dan mengelus cincin batu giok hitam di jari manis tangan kirinya.

__ADS_1


Sembari mengulum senyum, pria itu bergumam lembut. "Aku menemukanmu, pemilik cincin batu giok hijau. Seandainya kamu tahu siapa dirimu sebenarnya ... Apakah hasilnya akan sama atau berbeda?"


Pria itu memiliki taring yang cukup panjang. Jelas, bahwa senyumnya sama sekali tidak baik.


__ADS_2