Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Mendapatkan Tubuhnya


__ADS_3

GU YIHAO agak tertekan. Dia sangat baik jika berada di barak militer dan mendapatkan prestasi yang baik pula di mata kaisar. Tapi menghadapi seorang wanita, ia tidak pandai mengambil situasi.


Saat ini saja, dia tidak tahu harus menunjuk sikap seperti apa pada Qing Mao. Namun menurut ajaran dari An Daiyu, wanita butuh kepastian dan perhatian. Lebih baik bersikap mendominasi daripada acuh tak acuh agar lawan jenis tidak curiga.


Jadi Gu Yihao menggunakan kemampuan ini untuk mengikat gadis itu di sisinya. Semalam, dia bisa menahan diri dan mandi air dingin. Namun pikirannya selalu dipenuhi oleh sosok Qing Mao dari zaman dulu saat pertama kali keduanya bertemu. Dia terpesona dan secara alami ingin mengulangi kisah lama.


Semalam itu sangat manis tapi Gu Yihao tahu jika semua itu akan menghasilkan buah yang pahit di pagi hari. Qing Mao pasti marah padanya.


"Seperti apa Raja?" tanya pria itu dengan nada rendah.


"Kamu— kamu tak tahu malu! Kamu tidak seperti ini di masa lalu dan selalu bersikap acuh tak acuh. Di matamu, hanya gadis berpendidikan baik dan memiliki etika sopan yang pantas dilihat. Aku bukan jenis seperti itu. Jadi kamu tidak perlu repot!" tutur Qing Mao, kelopak matanya sedikit terkulai.


Gu Yihao membenci kebodohannya waktu itu dan sama sekali tidak memikirkan dirimu akan dijebak oleh putra mahkota dan Nu Qingge. Jadi dengan cepat dia mengiyakan jika dirinya bodoh dan tidak baik di masa lalu.


Tapi kali ini dia tahu satu hal. Ternyata selama ini Gu Yihao tahu apa itu rasa suka dna takut kehilangan seseorang hingga selalu memikirkannya sepanjang waktu. Kepalanya selalu dipenuhi oleh gambaran Qing Mao dan senyum menawannya.


Setiap kali dia terbayang hal itu, jakunnya akan bergerak sedikit dan tenggorokannya haus. Tapi rasa haus itu bukan karena dirinya ingin minum air, tapi ingin menyentuhnya di mana-mana, peluk dan cium dia.


Hanya Qing Mao yang mampu melakukan itu untuknya.


Pertama kali setelah empat tahun berlalu, akhirnya Qing Mao kembali lagi untuk menyembuhkannya diam-diam. Gadis itu selalu peduli padanya.


"Raja ini tidak keberatan ...," kata pria itu sedikit mengembuskan napas hangat di leher gadis itu. "Bagaimanapun dirimu, aku menyukainya. Kamu tidak perlu bersikap sopan. Jika ada yang menggertak, kamu pukul kembali. Raja mendukungmu," bisiknya.


"Gu Yihao ..." Qing Mao sedikit frustasi.


"Biarkan Raja memelukmu sebentar," bisik pria itu lagi seraya menutup matanya.


Pada akhirnya, suasana jatuh ke dalam keheningan yang cukup lama. Tubuh gadis itu agak panas setelah dipeluk cukup lama. Tapi rasa penolakan sebelumnya sudah berkurang.

__ADS_1


Dengan tubuh yang sakit akibat ulah semalam, Qing Mao bahkan sulit untuk menggerakkan kedua kakinya dengan bebas. Sangat lemas. Lagi-lagi dia mengutuk Gu Yihao di hatinya. Pria ini sungguh tak bermoral.


"Aku ingin mandi, kamu lepaskan aku," katanya.


Gu Yihao akhirnya membuka matanya dan melihat sinar mentari menyusup dari celah gorden. Tapi tidak mau melepaskan pelukannya.


"Maukah kamu berjanji satu hal?" tanyanya.


"Apa?" Gadis itu menenangkan dirinya yang sedikit malu.


"Menikah dengan Raja ini?"


"Gu Yihao ..." Qing Mao tidak mau menjawab ini. Dia tidak yakin.


"Menikahlah denganku. Raja ini akan menanggung kebencianmu," katanya.


"Raja ini bersumpah kepada langit dan bumi bahwa aku, Gu Yihao, rela mengorbankan hidupnya demi wanita yang menjadi takdirku. Dan di dunia ini, hanya Qing Mao yang akan kunikahi. Jika Raja ini melanggar sumpahnya, biarkan para dewa mengutuk seluruh keturunanku di masa depan."


Setelah mengucapkan sumpah itu, sebuah cahaya samar muncul di dada Gu Yihao dan menghilang begitu saja. Saat Qing Mao menyadari ini, sudah terlambat. Tidak tahu apa yang dipikirkan Gu Yihao, namun Qing Mao menduga jika sumpah seperti itu sulit untuk dilanggar.


"Gu Yihao ... Kamu begitu berani!" Dia sedikit gemetar.


"Raja ini berani hanya untukmu," kata pria itu seraya tersenyum, tak ada beban sama sekali. Sangat tenang dan terlihat lebih lega dari sebelumnya. "Selain kamu, tidak ada wanita lain. Raja ini tidak akan memiliki selir dan Raja juga akan membangun istana megah untuk kita tinggali di masa depan."


"..." Qing Mao tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya dia hanya menghela napas dan ingin turun dari tempat tidur.


Gu Yihao tidak lagi menahannya dan membiarkan gadis itu turun dengan dibalut selimut. Untungnya Gu Yihao memakai celana panjangnya semalam hingga saat selimut ditarim dari tubuhnya, hanya menampilkan perut sempurna.


Qing Mao tidak melihatnya dan berusaha untuk berdiri. Namun tiba-tiba saja kakinya menjadi lembut dan dia hampir saja terjatuh. Jika Gu Yihao tidak cepat menangkapnya, mungkin lutut gadis itu sudah terluka akibat membentur lantai.

__ADS_1


"Apakah kamu mampu berjalan?" goda pria itu sedikit terkekeh.


"Salahkan kamu! Bajin*an!" desis Qing Mao sangat malu.


"Raja ini akan mengantarmu ke kamar mandi," kata Gu Yihao langsung membopongnya tanpa malu-malu hingga selimut itu jatuh ke lantai.


Gadis itu akhirnya merazakan hawa dingin menerpa tubuhnya yang tanpa pakaian dan wajahnya tiba-tiba saja memerah. "Kamu ... Kamu turunkan aku. Apakah kamu tidak tahu malu?!" teriaknya gugup, mencoba menutupi bagian tubuh pentingnya.


Gu Yihao melihat gadis pemalu itu dan terlihat sangat lucu. Namun tidak berniat untuk mempermalukannya.


"Raja ini sudah melihat tubuhmu semalam. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan. Tapi ..." Tatapannya jatuh ke bagian buah persiknya yang terlihat lembut dan menggoda. "Itu masih terlalu kecil untuk diremas."


"Hooligan!!"


Akhirnya suara tamparan ringan terdengar lagi. Gu Yihao hanya bisa tertawa dan merasa tamparan gadis itu mungkin membekas di pipinya bukan?


Setelah mengantarkannya ke kamar mandi, Gu Yihao kembali mendekati ranjang dan melihat noda darah di sprei. Mengingat peristiwa semalam, tiba-tiba saja dia merasa istimewa. Gadis itu pertama kalinya semalam. Dan dia mendapatkannya.


Gu Yihao segera melepaskan sprei, sarung bantal dan sarung guling hingga menggulung selimut. Semuanya kotor. Dia melakukannya tanpa pencegahan semalam dan terlalu kasar terhadap tubuh gadis itu. Untungnya Qing Mao berkata beberapa saat tadi jika masa suburnya belum datang sehingga kehamilan tidak akan terjadi.


Ia ingin memiliki anak namun sekarang bukan waktu yang tepat. Tubuh gadis itu terlalu muda dan dia juga harus mengurus tentang keberadaan Gu Wei lebih dulu.


Suara air mengalir dari pancuran pun terdengar jelas. Karena pintu kamar mandi tidak terbuat dari kaca buram, maka Gu Yihao tidak bisa melihat gadis itu. Meski begitu, dia bisa mendengar beberapa gerakan kecil di dalam seperti menggosok gigi.


Setelah belasan menit berlalu, akhirnya suara pancuran air di kamar mandi berhenti.


Qing Mao yang sudah memiliki sedikit kekuatan untuk berjalan pun akhirnya menghampiri wastafel dan melihat beberapa jejak merah di tubuhnya. Terutamanya leher. Gu Yihao menggigitnya cukup kuat semalam sehingga meninggalkan bekas samar. Namun dia tak bisa keluar rumah dengan tampilan seperti ini.


"Pria ini ... Apakah sengaja?" gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2