
GADIS PELAYAN itu terbatuk ringan, masih memegang kemoceng. Dia baru saja membersihkan beberapa debu di ruangan lain. Tentu saja Gu Yihao dan Qing Mao cocok menjadi suami dan istri. Namun mengingat jika nona mudanya dulu menderita, gadis pelayan itu akhirnya tersadar dari beberapa fantasinya.
"Meskipun Yang Mulia cocok dengan nona muda, tapi itu agak sedikit menyedihkan. Cinta nona muda ditolak dan menjadi aib di masyarakat. Kini nona muda itu marah dan penuh rasa kesepian. Jadi mungkin Yang Mulia kurang cocok saat ini," jelas si pelayan tersebut dengan ekspresi polosnya.
"..." Gu Yihao ingin menyemburkan darah lamanya. Pelayan saja bahkan harus begitu jujur? Bisakah sedikit menghiburnya?
Tidak mau berlama-lama dengan pelayan itu, Gu Yihao mendengus dan segera pehu ke dapur. Aroma masakan semakin kuat tercium sehingga selera makannya akan meningkat malam ini. Alangkah baiknya jika memiliki istri seperti ini di masa depan. Tapi ... Dia tak akan membiarkan Qing Mao melakukan pekerjaan kasar seperti ini.
Melihat dari ambang pintu, Qing Mao memakai celemek dan mengaduk sup. Lalu sibuk dengan masakan lainnya. Rambutnya diikat ekor kuda agar tidak menghalangi proses memasak. Gu Yihao bersandar di ambang pintu dan mengulum senyumnya. Dia selangkah lebih dekat dengan hati gadis itu. Jika berusaha sedikit lagi, pasti semuanya berjalan lancar.
Setelah memasak cukup lama, malam pun tiba. Qing Mao melepaskan celemek dan mendapati jika Gu Yihao sudah berada di ambang pintu. Walaupun agak canggung, ia meminta pria itu untuk membantunya menata semua hidangan di meja makan.
"Apakah Hyou mengajarimu memasak?" tanya pria itu.
"Ya ... Bisa dikatakan seperti itu," jawab Qing Mao pendek. Dia tak bisa berkata jika semua ini adalah keahliannya sendiri. Mengingat dirinya tak bisa membocorkan identitas aslinya pada pria itu, Qing Mao hanya bisa menelan kebenaran.
Malam malam kali ini tak memiliki banyak percakapan. Qing Mao agan sedikit tidak nyaman. Walaupun sudah sembuh dari demam, dia mengkhawatirkan Hyou. Laki-laki itu pergi lagi, bagaimana mungkin dia tidak khawatir? Jadi selama makan malam, Qing Mao agak linglung.
Gu Yihao tidak mau mempertanyakannya kali ini. Setelah makan malam, dia memiliki beberapa pekerjaan yang harus diurus. Qing Mao meminta pelayan untuk mengantar Gu Yihao ke salah satu ruangan kosong yang bisa digunakan untuk mengurus beberapa gulungan laporan penting.
Mungki Gu Yihao tidak sesibuk para pangeran lain, tapi dia bertanggung jawab atas pasukan yang berada di bawah pimpinannya. Meski kali ini pasukannya masih dipegang oleh Gu Huiling untun sementara waktu, namun cepat atau lambat, Gu Yihao alam kembali ke barak militer.
Xu Ran dan Xu Ren segera datang dan berlutut tak jauh dari keberadaan Gu Yihao yang sibuk. Keduanya memiliki sesuatu untuk dilaporkan. Gu Yihao mengerutkan kening dan menatap kedua penjaganya.
"Ada apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Ada kekacauan di istana putra mahkota," lapor Xu Ran.
"Apakah kekacauan ini disebabkan oleh saudara kesepuluh?"
"Ini ... Kami tidak tahu. Tapi kaisar jelas marah saat ini dan memanggil putra mahkota ke istana kekaisaran. Para pangeran lain juga diminta untuk tidak ikut campur tentang masalah ini." Kali ini Xu Ren yang menjelaskannya.
Gu Yihao mencibir. Lagi pula siapa yang ingin ikut campur? Dia tak ingin terjun ke air berlumpur ini. Gu Wenlian telah menjebaknya dengan sangat berani, mengabaikan dirinya sebagai saudara atau status Raja Yi. Di matanya, musuh tetaplah musuh. Ia tak tahu apakah ini ada hubungannya lagi dengan Qing Mao atau tidak.
Tampaknya gadis itu memiliki koneksi dnegan Gu Huiling secara diam-diam.
"Apakah Gu Huiling mengetahui sesuatu tentang Qing Mao?" tanyanya.
Kedua penjaga gelapnya saling berpandangan, lakh menggelengkan kepala. "Tak ada interaksi apapun," jawab Xu Ren.
"Cari tahu bagaimana bisa Gu Huiling mengetahui banyak rahasia tentang putra mahkota."
Pria itu berkutat dengan pekerjaannya hingga tengah malam sebelum akhirnya melepaskan gulungan laporan dan memijat kedua pelipisnya. Walaupun banyak pekerjaan yang tertunda, dia sedikit bersemanya karena kini berada di rumah gadis itu.
Dia menyesap tehnya yang telah mendingin sejak lama namun tak membuat dia protes. Rasa teh yang telah dingin juga tidaklah buruk. Tak berapa setelah dia minum, suara teriakan yang samar-samar terdengar pun membuatnya tertegun.
Itu suara Qing Mao.
"Mao'er!!" gumamnya segera keluar dari ruangan dan pergi ke kamar gadis itu.
Di kamar Qing Mao ....
__ADS_1
Seisi ruangan cukup gelap, hanya pencahayaan dari satu lentera saja dan juga cahaya bulan memantul dari jendela. Gadis itu terbangun dengan keringat dingin dan sedikit gemetar. Wajahnya pucat dan terlebih lagi, suasana di kamar agak aneh.
Gadis itu benar-benar linglung setelah terbangun dari mimpi buruknya yang tidak tahu seperti apa. Tiba-tiba saja dia lupa mimpi apa. Yang jelas, dia ketakutan dan seperti akan mati kapan saja. Hal ini tak pernah dia alami selama hidup di zaman modern. Apalagi mimpi buruk jarang menghantuinya.
Pintu kamar dibuka keras disertai dnegan teriakan Gu Yihao yang penuh kepanikan. Beberapa pelayan juga terkejut saat ini sehingga perwakilan mereka segera pergi ke lantai atas dan memeriksa apa yang terjadi pada nona muda mereka.
"Mao'er! Mao'er ... Apa yang terjadi?" Pria itu segera menghampirinya dan melihat penampilan Qing Mao yang berkeringat dingin. Gadis itu tampak linglung.
Qing Mao tidak memedulikan Gu Yihao saat ini dan memilih untuk mengingat apa yang baru saja dimimpikan. Dia yakin itu mengerikan seakan-akan dia pernah mengalaminya. Pada akhirnya Gu Yihao duduk di tepian ranjang dan merapikan poni rambut gadis itu yang kini telah basah oleh keringat. Melihat wajah pucatnya, pria itu pun mengambil segelas air yang ada di meja nakas dekat tempat tidur.
"Minumlah dulu," katanya lembut seraya menyodorkan segelas air.
Qing Mao tidak tahu apakah naluri atau secara alami mendengar Gu Yihao, dia minum dan berusaha menenangkan diri. Gu Yihao pun mengembuskan napas lega dan tidak langsung bertanya. Dia menunggu gadis itu merasa lebih baik dulu. Melihat jam dinding, ternyata sudah lewat tengah malam. Jika Hyou belum memberi tahu pria itu tentang jam dinding, mungkin akan kesulitan menentukan waktu sesungguhnya.
"Mao'er ...," ujarnya.
Tak berapa lama pelayan pun datang. Gu Yihao hanya berkata jika gadis itu mengalami mimpi buruk dan terbangun. Mereka segera diminta kembali ke bawah.
Qing Mao terlihat lemah dan pucat seakan-akan energinya terkuras habis oleh sesuatu. Ketika mencoba untuk mengingat mimpi buruk apa yang dialami, ia sepertinya menyerah. Secara alami, dia memeluk lengan pria itu tanpa ada kesadaran yang pasti.
"Hao Hao ... Bisakah kamu menemaniku tidur? Aku sangat takut. Aku takut mimpi buruk itu datang lagi," katanya sedikit merengek, lemah dan tampak tak berdaya.
Gu Yihao yang melihat tingkah gadis itu menjadi berbeda dari hari-hari biasanya pun segera kaku dan sedikit getaran sampai ke dasar hatinya. Nada bicara dan tingkah Qing Mao saat ini seperti empat tahun lalu. Gu Yihao ingat jika Qing Mao selalu memiliki penampilan yang lembut dan bersemangat. Kadang menunjukkan sikap manja padanya.
Tapi pada saat itu, dia selalu acuh tak acuh dan merasa sakit kepala ketika menghadapinya. Sekarang ini ... Dia tidak merasa tindakan Qing Mao tak menyenangkan mata, justru tampak imut-imut. Sebelum dia mengucapkan sesuatu, Qing Mao segera melepaskan diri dan menggelengkan kepala. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, tidak. Kamu membenciku! Kamu sudah bertunangan. Aku tahu kita tak bisa bersama. Aku terlalu naif dan berpikir kamu akan menikahiku. Tapi kenyataannya ... Aku mati," gumamnya tampak putus asa.
Di sinilah Gu Yihao justru lebih tertekan. "Mao'er ... Apa yang kamu maksud?" tanyanya penuh keterkejutan. Kematian apa yang gadis itu maksud?