Takdir Cinta Di Zaman Kuno

Takdir Cinta Di Zaman Kuno
Gu Yihao Hilang Kendali Atas Pikirannya


__ADS_3

KETIKA Gu Yihao tiba di lokasi, dia sudah melihat dua gadis yang masih berada di sungai itu mundur ke sisi lain. Lalu seekor harimau yang tengah berenang dan ingin mengincar Qing Mao. Ekspresi wajah pria itu berubah. Dia lupa tidak membawa panah dan busurnya.


Putri Lailan akhirnya melihat Gu Yihao, harapannya muncul. "Kakak kesebelas, tolong kami ... Binatang buas itu ingin memakan Qing Mao!" teriaknya seraya berada di belakang Qing Mao. Tubuhnya sedikit lemas.


Namun dia tidak akan membiarkan Qing Mao mengalami kecelakaan sehingga berjaga-jaga juga. Melihat gadis itu mengeluarkan belati, Putri Lailan merasa keheranan.


"Mao Mao ... Dari mana belati itu muncul? Kamu tidak mugkin menyembunyikannya di bawah air sebelum berendam bukan?" tanyanya sedikit ketakutan.


"Ini bukan waktunya bertanya. Aku mengalihkan perhatian harimau ini, kamu berenanglah ke darat. Cepat!" Qing Mao mungkin masih menenggelamkan tubuhnya agar Gu Yihao tidak melihat. Dia masih sadar untuk menjaga dirinya.


"Tapi Mao Mao ..." Putri Lailan tidak mungkin meninggalkannya.


"Qing Mao benar. Cepat berenang ke sini. Saudara Kesebelas akan membantunya," kata Fu Yihao membujuk. Lebih mudah jika Putri Lailan aman lebih dulu sehingga harimau itu bisa ditangani.


"Baiklah," kata gadis itu akhiran diam-diam pergi ke sisi lain.


Gu Yihao mengambil gaun Putri Lailan dan menghampirinya yang sudah sampai di tepi. Karena gadis itu tidak memakai apa-apa, tentu saja Gu Yihao tidak mempermalukannya. Dia memberikan gaun itu agar Putri Lailan memakainya di belakang semak-semak yang tinggi.


Sementara dia segera pergi dengan menggunakan ilmu tenaga dalamnya. Qing Mao dalam bahaya hidup. Gu Yihao tidak akan membiarkannya terluka. Dia langsung berjalan di atas air sungai menggunakan ilmu tenaga dalamnya dan memberikan serangan pada harimau belang itu.


Ekspresi Qing Mao sedikit terdistorsi. Bukan karena Gu Yihao yang datang untuk membantu, tapi kedua kakinya sedikit kram. Jika sudah kram seperti ini, dia tak bisa bergerak lagi.


Gu Yihao bertarung dengan seekor harimau untuk waktu yang cukup singkat. Lalu harimau itu pun memilih untuk meninggalkannya ketika memiliki luka di tubuh. Putri Lailan selesai berpakaian dan menunggu keduanya untuk datang ke darat.


Pria itu akhirnya menoleh ke arah Qing Mao yang sedikit pucat. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.

__ADS_1


Qing Mao menatapnya dengan ekspresi malu. "Kakiku ... Kakiku kram," jawabnya lemah.


Jejak keterkejutan melintas di wajah pria itu. Lalu segera melepaskan zaoshan dan meraih gadis itu keluar dari air dengan cepat. Qing Mao tidak memiliki waktu untuk berteriak atau menolak. Dalam sekejap, tubuhnya sudah terbungkus zaoshan.


Gu Yihao membawa Qing Mao ke darat dan berkata pada Putri Lailan jika kedua kaki gadis itu kram. Putri Lailan bisa melihat jika kaki Qing Mao yang terlihat sedikit itu sangat kaku.


Keduanya kembali ke tempat di mana tenda didirikan. Ada An Daiyu yang sedang menjaga api unggun serta kelinci putih gemuk. Pria itu terkejut saat melihat mereka kembali.


"Nah, ada apa lagi sekarang?" tanyanya.


"Seekor harimau menyerang kami dan kami Mao Mao kram," jawab Putri Lailan segera.


"Kram? Bisakah aku membantunya memijat? Aku ahli dalam hal ini." An Daiyu menawarkan diri. Namun setelah mendapatkan tatapan tajam dari Gu Yihao, dia segera menampar mulutnya lagi. Tampaknya dia salah bicara.


Gu Yihao membawanya ke tenda dan mendudukkan gadis itu. Kedua kakinya masih kaku. Qing Mao memegang zaoshan yang membungkus tubuhnya. Wajahnya sedikit memerah. Untung saja Putri Lailan sudah membawa pakaiannya tadi.


Memijat kedua betisnya berlahan dan meluruskan otot-ototnya yang kram. Gu Yihao tahu cara menangani masalah ini hingga dia memijatnya cukup lama.


"Apakah sudah baikan?" Dia mengerutkan kening.


Qing Mao masih memerah dan memegang zaoshan dengan tangan berkeringat. Tubuhnya tidak memakai apapun saat ini, hanya terbalut zaoshan saja. Aroma cendana terhirup dari zaoshan tersebut.


"Ya." Dia menjawab dengan nada pelan.


Tanpa sadar, zaoshan yang terbuat dari bahan sutra mahal itu pun sedikit tergelincir di bagian pahanya. Gu Yihao tanpa sengaja melihatnya hingga tenggorokannya menjadi kering. Dia memijat betis dan kaki Qing Mao sedikit tergesa-gesa dan pandangannya agak tidak jujur.

__ADS_1


Setelah Qing Mao berkata jika kakinya sudah baik-baik saja, Gu Yihao tidak langsung pergi. Dia memandang tulang selangka gadis itu. Merasa jika dia menyentuh tubuhnya hanya dengan melalui zaoshan, tangannya panas. Mungkinkah ini reaksi alaminya sebagai pria normal? Atau karena takdir cincin batu giok?


Pria itu menyipitkan matanya. "Qing Mao ... Kamu harus ingat jika kita akan menikah. Takdir cincin batu giok, jangan lupakan itu," katanya.


"..." Qing Mao menggigit bibir bawahnya. Naluri memintanya untuk tidak mengatakan apa-apa. Tapi dia masih mencibir.


Hanya saja kepalanya tiba-tiba pusing. Ia sudah berbaring dan melihat pria itu berada di atasnya. "Gu Yihao ... Apa yang kamu lakukan?" tanyanya sedikit berbisik. Dia tidak mau Putri Lailan dan An Daiyu berpikiran yang aneh-aneh tentang keduanya.


Pria itu tidak menjawabnya dan hanya menyentuh rambut Qing Mao, menghirup aromanya dan membuat pikirannya berputar. Dia tidak tahu apa yang membuatnya begitu bersemangat saat melihat gadis ini.


"Gu Yihao! Menyingkirlah dariku!" Gadis itu memerah dan ingin mendorongnya pergi. Tapi pria itu begitu keras seperti batu.


"Qing Mao ... Kenapa kamu baru menyadarkanku dari kebodohan di masa lalu?" Pria itu tidak memedulikan pertanyaan lain dan menyentuh wajah halus gadis itu, lalu turun ke leher dan berhenti di tulang selangka.


Tubuh Qing Mao sedikit merinding dan dia hanya ingin menjauhkannya. Tapi tanpa diduga, Gu Yihao berani melecehkannya di sini. Buah persiknya disentuh tanpa ada peringatan hingga ciuman di lehernya membuat tubuh gadis itu kaku.


Dia benar-benar marah dan segera mendorongnya. Lalu memberi tamparan di wajah Gu Yihao. Pria itu akhirnya sadar apa dilakukannya dan segera menatap Qing Mao. Mata gadis itu memerah, membuat tamparan keras di wajah kirinya tidak berarti apa-apa.


"Mao'er," gumamnya bingung.


"Kita tidak dekat! Jangan memanggilku dengan panggilan itu!" Qing Mao menekan kata-katanya dan mendorong pria itu pergi.


Gu Yihao masih sedikit linglung dan keluar tenda dengan ekspresi tidak jelas. Putri Lailan dan An Daiyu mendengar suara tamparan. Mengira jika Gu Yihao mungkin melecehkan Qing Mao hingga membuat Putri Lailan ingin marah atas tindakannya. Tapi An Daiyu menahan dia agar tetap bersikap tenang.


Keduanya melihat bekas tamparan di wajah sebelu kiri Gu Yihao. Ada bekas tangan seorang wanita tentunya. Tamparan Qing Mao tidak kecil hingga membuat mereka terhibur. Gu Yihao tidak pernah menderita kerugian sejak kecil dan selalu mendominasi. Sekarang, angin apa yang membuat pria itu tidak mengelak dari tamparan?

__ADS_1


An Daiyu terbatuk kecil. "Hao Hao ... Bagaimana? Apakah tubuhnya sangat lembut? Bukankah aku dulu pernah berkata jika tubuh wanita akan membuatmu tergoda? Lihatlah sekarang, kamu bahkan tidak bisa menahan diri," katanya seraya terkekeh.


Kali ini ekspresi Gu Yihao terdistorsi. Di mana pun An Daiyu berada, hidupnya tidak akan pernah tenang!


__ADS_2