
QING MAO tidak mampu bicara saat ini karena merasa jantungnya diremas dengan kuat oleh sesuatu. Dia hanya bisa membuka mulutnya dan mencoba menarik napas untuk membuat udara memasuki paru-paru. Tapi sulit. Hingga akhirnya dia meraih lengan baju Gu Yihao dan meremasnya dengan kuat.
Sakit! Rasanya seperti dia terkena serangan jantung. Tapi Qing Mao tahu dirinya tidak memiliki penyakit jantung. Jadi dia yakin jika ini pasti masalah lain.
“Qing Mao, bagaimana jika aku membawamu kembali ke rumah. Biarkan Hyou memeriksamu?” Gu Yihao menyarankan.
Sebelum gadis itu merespon, sebuah cahaya putih muncul di udara dan sosok Hyou langsung terbentuk. Gu Yihao melihat kedatangannya dan tidak merasa aneh lagi.
“Untunglah kamu datang. Cepat periksa, apa yang terjadi dengan Qing Mao?” tanya Gu Yihao.
Hyou berwajah serius dan menatap Gu Yihao untuk sepersekian detik sebelum akhirnya menghampiri Qing Mao. “Apakah gadis itu bersentuhan dengan sesuatu yang jahat?” tanyanya.
“Tidak. Apa maksudmu dengan sesuatu yang jahat?”
“Tidak ada. Aku akan memeriksanya dulu di rumah. Ini bukan tempat yang aman untuk membicarakannya. Ayo, pergi.” Hyou segera membantu gadis itu berdiri dan meminta Gu Yihao membopongnya.
Ketiganya segera meninggalkan tempat itu dengan cepat sehingga orang-orang tidak mengetahui. Tepat pada saat itu, An Daiyu baru saja tiba dan merasakan jika aura Gu Yihao ada di sini. Tapi sekarang tidak ada.
“Ke mana mereka pergi?” gumamnya. Lalu berteriak, “Hao Hao ... Hao Hao, Nona Qing, kalian berdua di mana?”
An Daiyu yang tidak bisa menemukan keduanya pun segera mencarinya ke tempat lain. Mungkin pasangan itu tidak ingin diganggu? Pikirnya.
Tanpa mereka sadari jika saat ini, seorang pria berjubah hitam langsung berdecih. Dia berada di tempat yang cukup tersembunyi seraya memperhatikan cincin batu giok hitam di tangannya. Eskpresi di wajah tampannya menjadi lebih mengerikan.
Seraya memukul tembok yang ada di sampingnya, ia menatap tajam ke arah terakhir kali Gu Yihao dan Qing Mao menghilang dibawa oleh Hyou tadi.
“Gagal lagi. Kenapa begitu sulit untuk membunuhnya? Mungkinkah Hyou sudah tahu kehadiranku di dunia ini?” gumamnya.
__ADS_1
Setelah berpikir cukup lama, pria berjubah hitam itu segera menyeringai hingga dua taring di rahang atasnya terlihat agak jelas. Lalu tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap hitam dan menghilang ke langit. Mungkin dia harus berhati-hati di masa depan ….
“Ini belum berakhir!!” katanya menggema di langit, tapi tidak ada yang bisa mendengarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Qing Mao.
Hyou membaringkan Qing Mao di ranjang dan memeriksa denyut nadinya. Wajah gadis itu pucat seraya menahan rasa sakit di area jantungnya. Hyou segera menggumamkan sesuatu hingga cahaya putih muncul di telapak tangannya. Gu Yihao hanya memperhatikan dari samping dan tidak mengganggu apa yang sedang dilakukannya.
Cahaya putih itu segera diarahkan dada Qing Mao. Tak berapa lama, sebuah asap hitam keluar dari dada gadis itu hingga membuatnya merintih kesakitan. Gu Yihao kebingungan dan ingin menghentikan apa yang dilakukan Hyou. Namun laki-laki berjubah putih itu tampak serius dan tak menghiraukannya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Gu Yihao agak merinding ketika merasakan aura Hyou begitu besar.
"Mengeluarkan asap kegelapan dari tubuhnya."
"Asap kegelapan apa?"
Ia tidak mau memberi tahu keduanya tentang rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan. Lagi pula zaman sudah berbeda. Tapi dia selalu memiliki firasat jika orang itu sudah menemukan dirinya. Mungkinkah ....
Dia mendengar Qing Mao terbatuk dan memuntahkan darah segar. Wajahnya pucat, tapi tidak lagi merasakan kesakitan seperti sebelumnya. Dia hanya bergumam memanggil Hyou. Laki-laki itu menghela napas dan menyentuh dahi Qing Mao kemudian menatap Gu Yihao.
"Dia demam," katanya.
"..." Bagaimana bisa demam? Pikir Gu Yihao.
"Kamu mengurusnya selama aku sibuk. Ada sesuatu yang harus kulakukan di luar sana. Dan kemungkinan besar aku akan kembali dalam beberapa hari." Hyou berkata lagi. Kali ini ada nada keseriusan yang tidak bisa Gu Yihao bantah.
__ADS_1
Walaupun pria itu tidak tahu apa yang disembunyikan Hyou darinya, namun mungkin masih ada hubungannya dengan kondisi Qing Mao. Ia hanya ingin memastikan jika gadis itu baik-baik saja. Sebelum pergi, Hyou berpesan padanya untuk tidak berkeliaran selama dia pergi.
"Apakah begitu serius?" Gu Yihao menyipitkan matanya.
"Ya. Ini serius. Gu Yihao, ini tugasmu untum menjaganya. Kamu pernah berjanji dulu jika apapun yang terjadi, kamu akan selalu melindunginya—" Hyou segera tertegun saat tanpa sengaja mengatakan hal tersebut. Wajahnya menggelap.
"Apa? Janji? Kapan aku mengatakannya?" tanya pria itu semakin kebingungan. "Hyou, apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari aku dan juga Qing Mao?!" Kali ini dia bertanya dengan sedikit paksaan. Kapan dia berjanji? Ia sama sekali tidak pernah berjanji.
Hyou menggelengkan kepalanya dan berbalik. Dia berjalan ke arah jendela. Gorden tertiup angin hingga berkibar lembut. Ia menutup matanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Ini bukan saatnya kamu untuk tahu. Waktunya belum tiba. Aku tidak mengatakannya bukan karena aku sengaja, tapi inia salah tugas. Jika aku melanggar, maka takdir kalian akan hilang dan ...."
Terulang kembali, batin Hyou. Ia tak bisa mengatakannya lagi. Jika semuanya bocor, maka takdir Qing Mao dan Gu Yihao akan terus berulang tanpa henti. Hyou juga akan terus berputar dengan tugas ini. Jadi, dia harus pergi lebih dulu untuk memastikan jika firasatnya benar.
Jika orang yang memakai cincin batu giok hitam itu benar-benar muncul di Negara Quentian ini, maka yang haru dia lakukan adalah mengalahkannya lagi seperti dulu. Sehingga takdir keduanya akan berlanjut.
Sebelum Gu Yihao berkata lagi, Hyou sudah menghilang dari sana. Ia hanya bisa mengembuskan napas tidak berdaya dan segera menghampiri Qing Mao yang bergumam memanggil nama Hyou. Laki-laki itu benar, Qing Mao tengah demam.
Gadis itu merasakan telapak tangan yang cukup dingin menyentuh dahinya. Saat melirik ke samping, ia bisa samar-samar melihat sosok Gu Yihao yang tengah khawatir tentangnya.
"Kamu demam. Aku akan meminta pelayan membuatkan sup penurun demam," kata Gu Yihao.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Pikirannya agak berantakan seolah-olah ia berada di tempat yang berbeda. Setelah beberapa saat, ia pun akhirnya tertidur karena kelelahan. Gu Yihao mengira jika gadis itu mungkin bukan demam biasa. Tidak mungkin dia tiba-tiba demam hanya karena asap kegelapan tadi.
Qing Mao mengalami mimpi panjang yang aneh. Dalam mimpinya itu selalu ada seorang pria bertubuh tegap, berpakaian elegan dan juga memegang sebilah pedang. Bahkan setiap kali bermimpi, suasananya akan sama—hujan berpetir disertai dengan angin kencang.
Tidak tahu kenapa dia bermimpi seperti itu, tapi pada saat bangun dengan sakit kepala yang cukup berat, ia bisa melihat Gu Yihao. Pria itu tengah mengompres dahinya dengan sapu tangan untuk meredakan panas.
__ADS_1
Qing Mao merasa tenggorokannya kering. Dia ingin mengatakan sesuatu. Gu Yihao mengerutkan kening dan menyimpan sapu tangan yang baru saja dia gunakan untuk mengompres dahi gadis itu.
"Nah, ada apa? Apakah kamu haus?" tanyanya lembut.