
"INI KOTAK hadiah dari kediaman rumah wakil jenderal Pei." Hyou membuka kain pengikat yang membungkus kotak.
"Rumah wakil jenderal Pei? Kenapa mengirim ini?" tanyanya agak cuek.
Qing Mao tidak membutuhkan apapun sebenarnya, termasuk hadiah. Ia bahkan sudah lupa dengan Nyonya Pei yang pernah ditolongnya pada hari pesta topeng.
"Mungkin ucapan terima kasih?" Hyou tidak tahu juga. Tapi hanya menebak kasar.
“Ucapan terima kasih?” gumam gadis itu langsung mengerutkan kening. “Apa isinya?”
“Tunggu sebentar.” Hyou langsung membuka kotak yang tadi terbungkus kain. Saat membuka kotak kayu yang tidak terlalu tebal tersebut, ia menghela napas.
Qing Mao tidak peduli dengan apapun isinya, namun dia penasaran saja, barang apa yang sebenarnya dikirim oleh kediaman wakil jenderal? Hyou mengeluarkan sebuah sesuatu yang terbungkus kain lagi di dalamnya. Tampak lebih rapi dan dibuat simpul yang rumit. Keduanya saling berpandangan sebelum akhirnya Hyou membuka lagi kain yang membungkus sesuatu.
Jika diperhatikan, tampaknya seperti buku atau sesuatu yang berhubungan dengan informasi. Setelah kain dibuka, sebuah buku bersampul usang muncul. Tak ada tulisan apapun pada sampul, hanya kertas polos berwarna kecokelatan. Saat Hyou membuka isinya, juga kosong. Tak ada tulisan atau gambar di dalamnya. Membuat laki-laki itu merasa aneh.
“Ada apa? Apa yang tertulis di dalamnya?” tanya Qing Mao penasaran.
“Kosong.”
“Kosong? Apa maksudmu?” Gadis itu justru tidak mengerti apa yang Hyou maksud dengan 'Kosong'. Barulah setelah laki-laki itu memberikan buku tersebut, Qing Mao membuka halaman acak.
Dia memperhatikannya dengan serius hingga membuka beberapa halaman lainnya, tapi ....
"Apanya yang kosong? Jelas-jelas ada tulisannya." Ia berkata dengan perasaan heran. Apakah Hyou membaca halaman yang salah? Pikirnya.
“Bukankah tidak ada apa-apa di dalamnya?” tanya laki-laki itu sedikit kurang yakin apakah Qing Mao bisa melihat sesuatu atau tidak di dalam buku tersebut. "Aku hanya melihat halaman kosong."
"Tidak mungkin. Ini tidak kosong. Banyak tulisan di dalamnya. Sepertinya bukan bahasa Cina. Tapi aku seperti mengerti apa maksud dari semua tulisan bahasa aneh ini." Gadis itu membolak-balik halaman buku usang tersebut dsn membaca beberapa baris.
Qing Mao merasa heran, kenapa dia bisa membaca dan memahami bahasa yang tidak pernah dia pelajari sebelumnya. Bahkan Hyou sendiri tertegun, tampak mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
Pikiran laki-laki itu tampaknya telah berkelana ke masa lalu sebelum zaman ini ada. Lalu teringat sesuatu yang bersangkutan dengan buku kuno dan bahasa kuno sebelum aksara Cina diperkenalkan. Mungkinkah ....
Sekali lagi, Hyou menatap Qing Mao dengan penuh kejutan di wajahnya. Mungkinkah Qing Mao bisa memahami bahasa kuno?
__ADS_1
"Hyou? Hyou? Apakah kamu baik-baik saja? Jika kamu tidak percaya, aku akan membacakannya untukmu," katanya saat melihat wajah laki-laki berjubah putih itu agak pucat.
Hyou berkedip dan kembali pada kenyataan jika Qing Mao mungkin masih memiliki bakat tersebut. Benar-benar tidak berubah. Jika Qing Mao bisa membacanya, seharusnya Gu Yihao juga sama. Oleh karena itu, Hyou berniat untuk mengundang pria itu ke sini.
Setelah Hyou menolak untuk membiarkan gadis itu membacakannya, ia masuk ke rumah. Ada sesuatu yang harus dilakukan. Sementara Qing Mao menyipitkan mata dan memperhatikan buku usang yang dipegangnya. Kenapa rumah wakil jenderal Pei mengirim ini?
"Sebenarnya apa yang terjadi dan apa hubungannya denganku? Aku merasa seperti tidak pernah hidup di zaman ini tapi juga tidak mati di zaman ini," gumamnya langsung menutup buku usang tersebut.
Ia terlalu malas untuk membaca buku aneh dan memanggil Dong Mei serta Fan Chen untuk pergi ke kedai mi umur panjang. Ia juga ingin membeli beberapa barang namun tidak mau pergi. Jadi dia menyuruh keduanya untuk pergi.
Setelah memberi perintah, dia bangkit seraya memegang buku usang tersebut. Lebih baik dia menyimpannya lebih dulu sebelum benar-benar tahu apa fungsi buku usang itu. Tampaknya dia harus pergi untuk menemui Nyonya Pei. Dia ingin tahu alasan apa yang membuat Nyonya Pei menyerahkan buku usang tersebut padanya.
Saat masuk rumah, Hyou tampaknya telah menyuruh seseorang untuk mengirimkan surat atas nama dirinya.
"Untuk siapa kamu mengirim surat?" Tidak biasanya Qing Mao melihat Hyou yang tenang, tiba-tiba berperilaku agak aneh.
"Untuk raja Yi."
"Gu Yihao? Kenapa kamu mengirim surat alih-alih pergi padanya? Lagi pula dia sudah tahu siapa kamu bukan?" Gadis itu menaiki anak tangga menuju lantai dua tanpa melihat seperti apa ekspresinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Raja Yi.
Dokter Piao masih bertanya-tanya siapa yang dulu pernah menyelamatkan Gu Yihao. Terutama tentang bunga api itu. Meski sudah menanyai Gu Yihao secara berkala, tapi tetap saja tidak mendapatkan jawaban. Bahkan dua penjaga gelap—Xu Ren dan Xu Ran juga tak bisa berkata-kata.
Saat ini, Gu Yihao berada di ruang kerjanya seraya membuka gulungan surat laporan. Dia cukup sibuk setelah membiarkan para tentara yang berada di bawah pimpinannya kini diurus oleh Gu Huiling. Dia belum bisa memegang para prajurit lagi sejak insiden terakhir kali—konspirasi putra mahkota.
"Yang Mulia," ujar Xu Ren dari luar pintu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada surat dari datang kediaman Qing."
"Masuk." Gu Yihao menyimpan gulungannya dan membiarkannya Xu Ren datang.
__ADS_1
Ketika penjaga gelapnya datang, segera menyerahkan sebuah surat padanya. Gu Yihao mengerutkan kening. Tulisan di amplop bukan hasil coretan Qing Mao, tapi Hyou. Ia tidak tahu apa yang dibutuhkan oleh laki-laki itu sekarang. Setelah itu, dia membiarkan Xu Ren keluar lebih dulu.
Gu Yihao membuka amplop tersebut dan mengeluarkan secarik kertas. Ketika membaca isinya, dia terdiam untuk waktu yang cukup lama dan mengira jika Hyou memiliki sesuatu untuk diberitahukan padanya. Tapi tidak di dalam surat. Oleh karena itu, dia segera bangkit dan membenarkan zaoshan, sebelum akhirnya berniat pergi ke rumah Qing Mao.
Di luar ruang kerja, Xu Ren dan Xu Ran menunggu. Ketika melihatnya keluar, dua penjaga gelapnya segera menghadap. Mereka ingin bicara sesuatu tapi terpotong oleh perkataan Gu Yihao.
"Pergi ke rumah Qing," katanya.
"Uh, itu ... tapi Yang Mulia, masalah di barak militer—"
"Biarkan pangeran lain yang mengurusnya," tukas Gu Yihao masa bodoh. Dia melewati keduanya dengan tenang.
"..." Apakah Raja tidak ingin memimpin pasukan lagi? Pikir kedua penjaga gelapnya itu agak tidak berdaya. Pada akhirnya hanya mengawasi dari bayang-bayang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman Qing Mao.
Hyou menyiapkan makan siang dan menatanya di meja makan. Belum lagi, Dong Mei membawa sebungkus mi umur panjang pesanan gadis itu, laku menyerahkannya pada Hyou.
Laki-laki itu memanggil Qing Mao untuk turun dan makan lebih dulu sebelum melanjutkan membaca novelnya. Namun saat Qing Mao datang dengan perasaan linglung. Hyou mengerutkan keningnya.
Dia menyiapkan piring dan nasi untuk Qing Mao. "Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Aku merasa aneh selama beberapa hari terakhir."
"Aneh?"
"Ya, seperti ada orang yang mengawasiku saat tidur," jujurnya seraya duduk di kursi yang telah disediakan.
Hyou menyipitkan mata dan berpikir jika kemungkinan besar orang yang memakai cincin batu giok hitam masih mengintai gadis itu. Hyou mulai merasa tidak nyaman dan mungkin dia menebak sesuatu saat ini.
"Tuan ... Lebih baik biarkan pangeran kesebelas untuk menginap di sini selama beberapa hari. Bagaimana dengan itu?" tanya Hyou tiba-tiba saja membuat Qing Mao ingin menyemburkan air yang tengah diminumnya.
Gadis itu menatap Hyou dengan kebingungan dan rasa tidak percaya. "Hyou, apakah kamu dirasuki sesuatu? Kenapa dia harus menginap di sini?"
__ADS_1