
FAN CHEN dan Dong Mei menelan saliva dan menunduk seraya memposisikan kedua tangan dalam sikap hormat kepada tuannya. Keduanya tentu saja tahu apa yang telah membuat Qing Mao marah. Kejadian semalam ... Seharusnya tidak boleh cerita.
Ketika Qing Mao pergi ke sungai untuk menyegarkan wajahnya, ia mendengar An Daiyu mulai bicara tentang bakat dan makanan kesukaannya. Bahkan menyebutkan Dong Mei dan Fan Chen sebagai pihak yang bercerita. Belum lagi, Gu Yihao dan semua penjaga gelap mengetahuinya.
Dia marah. Secara alami, ia tidak suka orang lain tahu. Sebagai tentara resimen bayaran kuno, rahasia sangatlah penting. Kedua penjaga rahasianya itu mungkin berpikir jika Qing Mao tidak suka Gu Yihao tahu. Atau mungkin khawatir akan membawa malu di masyarakat. Sehingga marah pada keduanya.
Tapi semuanya salah besar. Ini tidak ada hubungan dengan itu.
Kedua penjaga rahasia itu menghela napas dan mengakui kesalahan mereka. "Seharusnya kami menjaga rahasia Nona Muda, apapun alasan dan pertanyaan yang diberikan pihak lain. Jika kami berani membocorkan, kami siap menerima kematian," kata Dong Mei.
"Karena kalian tahu, jangan mengulanginya lagi di masa depan tanpa izinku! Aku tidak suka pembangkang!" Qing Mao segera berbalik dan berjalan menjauhi sungai. "Jangan bergerak dari sungai selama aku belum memerintah!"
Keduanya segera mematuhi perintah dengan baik. Berendam di sungai dingin ini bukan masalah bagi keduanya karena Hyou telah memberikan beberapa latihan seperti ini.
Tapi mungkin bagi An Daiyu, hal ini sangatlah membosankan. "Tunggu! Lalu bagaimana denganku? Hei, kamu tidak bermaksud—ahh!!" Dia terkejut ketika sebuah panah dart melesat ke dekat pipinya dan mengenai air sungai.
Tanpa diduga, panah dart itu segera mengapung, tertancap pada seekor ikan yang cukup besar. Dong Mei segera mengambilnya. Lumayan, pikirnya. Tapi An Daiyu masih sedikit syok. Gadis itu hampir saja membunuhnya.
"Aku juga memintamu untuk berendam di sini. Bahkan jika kamu mengadu Gu Yihao, aku tidak peduli. Tapi jangan membuatku jengkel sepanjang waktu. Atau lain kali, bukan panah dart yang kulemparkan, tapi tapi jarum beracun!" Setelah berkata demikian, gadis itu benar-benar pergi.
Setelah Qing Mao tidak terlihat oleh pandangan mereka, An Daiyu menghela napas tak berdaya. Dia menyaksikan dua penjaga rahasia itu mulai berenang ke tepi sungai dan mengumpulkan ranting. Adapun Dong Mei yang membersihkan ikan, segera menangkapnya lagi dengan panah dart.
An Daiyu mengerutkan kening saat melihat keduanya tidak terlihat seperti sedang dihukum bahkan dirinya sendiri kini menggigil. Pagi ini cukup dingin di musim semi, namun dua penjaga itu justru begitu baik-baik saja.
"Apakah kalian tidak kedinginan? Kenapa tidak memohon pada gadis itu?" tanyanya agak tidak senang.
"Perintah nona muda harus dijalankan," jawab Fan Chen seraya mengumpulkan ranting kering di sekitar kolam. Ada juga beberapa kayu kering yang cukup untuk membuat api bertahan lama.
"..." Seberapa loyalnya mereka? Pikir An Daiyu sangat penasaran.
__ADS_1
Ia mengingat jika keduanya berasak dari pasar budak, dia memakluminya. Qing Mao menyelamatkan mereka, melatihnya menjadi penjaga rahasia hingga berakhir seperti hukuman. Tapi hukuman tersebut seperti mainan.
An Daiyu juga memiliki beberapa penjaga gelap, tapi tampaknya mereka tidak mau muncul di saat tuannya susah. Sungguh penjaga gelap yang berani!
"Lalu apa yang akan kalian lakukan?" tanyanya lagi.
"Membuat sarapan." Kali ini Dong Mei menyerah dua ikan yang sudah dibersihkan pada Fan Chen untuk ditusuk dengan kayu yang telah dibersihkan.
"Lalu bagaimana denganku?" tanyanya lagi dengan ekspresi polos.
Keduanya menatap An Daiyu dengan penuh kekesalan. Jika bukan karena pria itu, keduanya tidak akan dihukum seperti ini. Sungguh hari yang sial.
"Buat sarapanmu sendiri. Jika aku tahu mulutmu begitu sulit dijaga, kami tidak akan mengatakan apapun semalam," jawab Dong Mei tanpa memedulikan seberapa cantiknya pria itu.
An Daiyu mengerang tidak berdaya tapi sudut bibirnya tersenyum diam-diam. Ekspresinya kali ini tidak seperti sebelumnya. Walaupun dia terlihat ceroboh dan penggoda, sebenarnya memiliki rahasia besar tentang kekaisaran.
Jika tidak, dia tak akan berteman dengan Gu Yihao sejak lama. Di masyarakat, An Daiyu terlihat seperti pengusaha rumah lelang terbesar di Negara Quentian. Tapi identitasnya lebih dari itu. Adapun tentang identitasnya, masih rahasia.
"..." Keduanya tidak peduli dan mulai menunggu ikan matang. Walaupun dihukum, mereka masih bisa melakukan apa saja, selama tidak keluar dari sungai.
"Oh, ya ... Apa itu panah dart?" tanya An Daiyu.
"...?" Keduanya juga menyadari ini dan memperhatikan panah kecil yang tergeletak di tepi sungai. Keduanya juga tidak tahu. Tapi yang pasti, Qing Mao kadang memainkannya di ruang belajar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menghukum dua bawahan, Qing Mao kembali ke gua. Tapi di perjalanan, dia berpapasan dengan Gu Yihao. Melihat pria itu, dia tidak memiliki kesan apapun. Mungkin karena sejak awal dia bukan berasal dari zaman kuno ini.
Hanya saja, saat dia tak sengaja melihat cincin yang tersemat di jari manis kiri pria itu, ada rasa kejutan yang cukup membingungkan. Bukankah ittu sama seperti cincin batu giok merah yang dipakainya? Lalu bagaimana dengan Gu Yihao? Tidak mungkin dia.
__ADS_1
Setelah cukup linglung, Qing Mao menghela napas panjang. Gu Yihao berpikir jika gadis itu masih sakit kepala.
"Qing Mao," ujarnya.
"Terima kasih untuk semalam." Tiba-tiba saja gadis itu berkata tanpa melihatnya lagi, lalu berjalan melewatinya.
Hanya saja baru beberapa langkah, Gu Yihao meraih lengannya. Dia tidak menyerah begitu saja. Jika suasana menjadi canggung seperti ini, ia tidak akan mampu mendapatkan gadis ini di masa depan. Jadi sebelum semuanya terlambat, dia akan memulai lebih dulu.
Gadis itu berhenti dan menatap Gu Yihao dengan ekspresi kebingungan. "Ada apa?" tanyanya.
"Ada banyak hal yang harus kita bahas," jawab pria itu muali serius.
"Tidak perlu. Aku tidak ingin bicara denganmu." Gadis itu menggelengkan kepalanya dan mencoba melepaskan diri dari tangan pria itu. Namun cengkeraman Gu Yihao semakin kuat.
"Qing Mao ... Ini bukan tentang masa lalu saja, tapi tentang kamu yang menyelamatkan Raja ini dari kelumpuhan," katanya lagi dengan memperjelas tujuannya.
Gadis itu menatapnya dengan ekspresi yang cukup polos, lalu berkata, "Kapan aku menyelamatkanmu pada—" Sampai di sini, dia langsung terdiam.
Tunggu, sebenarnya saat malam ketika demam, ia mengucapkan sesuatu tentang penyelamatan kaki Gu Yihao dari kelumpuhan. Tapi bagaimana pria itu tahu? Bagaimana bisa tahu jika itu adalah dirinya?
"Kamu ..." Dia tidak tahu harus berkata apa dan wajanyabyang agak pucat malah bertambahnya pucat. "Bagaimana kamu—"
"Bagaimana Raja ini tahu? Qing Mao, jika kamu tidak peduli, kamu tidak akan menyelamatkan Raja. Kamu akan membiarkan Raja ini tetap lumpuh dan duduk di kursi roda sepanjang hidup, jatuh ke tangan putra mahkota dan diturunkan ke status raja. Lalu kenapa kamu menyelamatkan Raja jika itu bukan kepedulian?" Gu Yihao berjalan mendekat ke arahnya hingga membuat gadis itu mundur perlahan.
Karena Gu Yihao sudah tahu, Qing Mao menggertakkan giginya dan menatap pria itu dengan enggan. "Aku hanya kasihan padamu."
"Bahkan jika itu kasihan, kamu akan membalas dendam pada Raja ini." Gu Yihao menyudutkan dia di sebuah pohon rindang di belakang Qing Mao.
Saat Qing Mao tahu bahwa dirinya sudah terpojok, ia hanya bisa menatap pria jangkung di depannya. Dagunya dicubit lembut oleh pria itu.
__ADS_1
"Katakan, apakah masih ada Raja ini di hatimu?" tanya pria itu pelan. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat mata Qing Mao yang begitu jernih.