
GU YIHAO menggelengkan kepala dan merangkulnya. Dia bersandar di sofa dengan posisi nyaman.
Faktanya, Han Baimo yang datang lebih awal telah melihat perubahan pada ramalan masa depannya. Bagi Gu Yihao, Han Baimo merupakan pria yang tepat untuk diajak kerja sama.
Sama seperti di kehidupan sebelumnya dan sebelumnya, Han Baimo selalu menjadi orang yang mampu mengatasi beberapa masalah.
Benar saja, pada keesokan harinya, Han Baimo sudah tiba di ibu kota ....
Qing Mao mendapatkan berita jika Han Baimo tiba di ibu kota pada malam hari. Pria itu memiliki kebiasaan yang tak pernah berubah tentang pakaian serba putihnya.
Kali ini, kunjungan Han Baimo ke negara Quentian tidak lagi mengejutkan banyak orang. Namun kehadirannya masih masih menjadi misteri di hati semua orang. Mungkinkah negara Quentian dan negara Baicheng memiliki kerja sama yang saling menguntungkan?
Banyak dari mereka yang mengaitkannya dengan An Daiyu. Mungkin karena An Daiyu seorang pengelola rumah lelang, Han Baimo datang untuk membeli beberapa barang yang dijual oleh rumah Lelang Bunga Persik.
Untuk pertama kalinya, Han Baimo berkunjung ke rumah Qing Mao melalui formalitas. Rumah besar yang berbeda dari model lainnya, tidak membuat Han Baimo terkejut.
Sebagai seorang pria yang memiliki kemampuan mengetahui masa lalu dan memperkirakan masa depan, Han Baimo telah bercampur dengan banyak hal tentang reinkarnasi dan dilahirkan kembali.
Dia pernah menemui orang-orang seperti itu. Tapi tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Pura-pura saja tidak tahu. Dengan begitu, selain menyelamatkan diri sendiri, berpura-pura tidak tahu juga akan membuat pihak lain santai.
Tapi berbeda dengan Qing Mao. Han Baimo tahu banyak. Gu Yihao tidak menentangnya tentang masa lalu Qing Mao. Lagi pula ketiganya berasal dari zaman kuno yang sama, perguruan yang sama serta basis kultivasi yang tidak berbeda jauh.
__ADS_1
"Aku sangat penasaran dengan rasa masakan Hyou. Kudengar dari Chou jika masakanmu sangat enak," kata Han Baimo saat melihat Hyou yang berada di belakang Qing Mao.
Qing Mao duduk di sofa sambil makan keripik kentang. Gu Yihao ada di sampingnya. Hyou yang selalu setia sebagai penjaga cincin batu giok hijau, kini sudut mulutnya berkedut.
Laki-laki itu tak bisa menahan diri untuk menatap kucing putih kecil yang ada di pangkuan Han Baimo. Ah, kucing pemalas itu mengadu pada tuannya!
Meskipun Hyou tidak puas, dia hanya bisa menghela napas. "Ini hampir siang. Aku akan membuat makanan dulu. Kalian bisa mengobrol," katanya. Dia langsung melarikan diri ke dapur, khawatir jika Han Baimo akan bertanya lebih jauh.
"..." Han Baimo baru saja hendak mengatakan sesuatu, kata-kata yang tersangkut di tenggorokannya turun lagi ke perut.
Qing Mao mengalihkan topik pembicaraan. "Apakah ada masalah di perjalanan?" tanyanya.
Han Baimo menggelengkan kepala. "Tidak banyak. Hanya beberapa ngengat (pengganggu) yang tidak perlu dikhawatirkan. Bawahan ku masih bisa mengatasinya," jelas nya sedikit mengeluh. "Tapi Gu Wei benar-benar licik. Dia hampir mengirim lebih dari lima puluh mayat hidup hanya untuk menukar hidupku."
"Kenapa menatapku seperti itu?" Han Baimo mengerutkan kening, hatinya tidak nyaman. Tidak tahu kenapa, dia merasa punggungnya agak dingin.
"Bagaimana kamu mengatasi makhluk itu?" Pada akhirnya Qing Mao menarik kembali pandangannya.
"Ah? Apakah kamu bertemu mereka juga?"
"Tidak sengaja menemukan mereka di ruang bawah tanah yang sepertinya merupakan gua air," jawab Qing Mao. "Apakah Gu Wei hanya memiliki mereka?"
__ADS_1
"Tidak, tentu saja tidak. Mayat hidup ini hanyalah makanan pembuka ketika gerhana matahari nanti."
"Apakah kamu bisa memprediksi, makhluk apa itu?"
"Tidak juga." Han Baimo tersenyum getir. "Kali ini kemampuanku tidak seperti di masa lalu. Dewa mungkin menutup sebagian dari penglihatan masa depan dan masa lalu yang pernah aku kuasai. Ini juga sepadan sebenarnya ...," gumamnya tanpa sadar.
"Sepadan dengan apa?" Qing Mao tampak penasaran.
Han Baimo segera pulih dari pikirannya dan menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa. Hanya masalah kecil."
Di kehidupan terakhir, Han Baimo menggunakan sedikit kemampuannya untuk melihat masa depan Qing Mao dan Gu Yihao. Karena itu saat ini, dia telah melakukan perencanaan yang matang. Meski masalah dilahirkan kembali masih ada kaitannya dengan Hyou, dia percaya jika di dunia ini takdir itu ada.
Ketiganya berbincang-bincang. Tanpa terasa waktu telah berlalu.
Sebelum jam makan siang, Hyou sudah menyiapkan banyak hidangan di atas meja makan. Ketiganya memilih makan siang lebih awal sebelum akhirnya mendiskusikan hal lain.
Han Baimo belum pernah mencicipi masakan modern. Banyak bumbu yang dimasukkan ke masakan, membuat aroma lebih kental dan kaya rasa. Pertama kali mencicipi sup ikan dan sup buntut, Han Baimo tidak bisa menahan diri untuk memuji masakan Hyou.
Ada juga berbagai tumis sayuran, ayam goreng, olahan makanan laut dan masih banyak lagi. Chou yang telah menjadi manusia juga menyantap ikan goreng yang renyah dan gurih.
Hyou tidak terlalu tertarik dengan makanan di atas meja. Dia sudah memiliki sepiring udang rebus bersama saus pedas asam manis kesukaannya.
__ADS_1
"Ah, aku tidak tahu jika makanan di zaman modern akan seenak ini. Mao Mao, sepertinya kamu hidup dengan baik di zaman itu," kata Han Baimo seraya mengambil nasi untuk dicoba dengan kuah asam manis sup ikan.
"..." Apakah kita begitu akrab? Batin Qing Mao yang sedang memegang paha ayam goreng.