
Semakin Tan meraba-raba kedua pangkal pahanya, Laluna semakin terperangkap kedalam naf su yang tidak bisa dikendalikan oleh keduanya, tubuh Tan maupun Laluna saat ini meminta lebih dari sekedar ini.
Kedua tangan Tan bahkan masih terus mengelus-elus pangkal paha Laluna, namun sebuah dering telepon membuat keduanya tersadar kembali atas apa yang semestinya tidak mereka lakukan.
Kring..
Kring..
Handphone Laluna berdering, dan itu menyadarkan bahwa dirinya salah telah kembali jatuh kedalam pelukan Tan, Laluna kembali teringat atas perlakuan Tan lima tahun belakangan ini terhadapnya. Laluna pun melepaskan ci um an keduanya.
Jelas terlihat kekecewaan di wajah Tan saat Laluna mengakhiri apa yang masih dia inginkan. Laluna memutuskan untuk pergi meninggalkan Tan di fitting room itu, namun satu tangan Tan menahannya untuk tetap disini.
"Lepaskan aku Tan!" kata Laluna dengan nada penuh kekecewaan.
"Kenapa? Apa sudah tidak ada cinta di hati mu?" tanya Tan.
"Ini bukan lagi soal cinta, kau sudah menyia-nyiakan cinta yang sudah aku berikan, dan sekarang aku sudah menjadi milik orang lain! Maka menjauh lah dariku!" kata Laluna.
"Aku akan memperjuangkan mu Luna! Aku akan secepatnya menemui Daniel," kata Tan.
"Untuk apa? Kau menemui Daniel, lalu mengatakan bahwa kau mencintaiku begitu? Tuan Tan yang terhormat, tidak akan ada satu manusia pun yang percaya bahwa kau mencintaiku, karena kau tau kenapa? Kemana kau selama lebih dari lima tahun ini? Kau acuh padaku, kau tidak pernah memberikan kasih sayang dan cinta untuk ku!" kata Laluna.
"Luna cobalah mengerti posisi aku saat itu! Tuan Lan koma dan itu karena kesalahan ku, aku bekerja pagi, siang dan malam, kau pikir aku tidak lelah? Kau pikir aku tidak merindukanmu? Kau salah Luna, aku bahkan lebih tersiksa daripada dirimu!" kata Tan.
"Semua sudah terlambat! Hubungan kita sudah berakhir, Daniel terlalu baik untuk aku kecewakan!" kata Laluna.
"Tidak, aku tidak akan menyerah! Aku akan tetap menemui Daniel," kata Tan.
Laluna pun tak lagi mengindahkan perkataan Tan, lalu membuka pintu fitting room itu! Dan betapa terkejutnya Laluna, ketika dirinya membuka pintu, sosok Daniel sudah berdiri dihadapannya!
"Daniel!" lirih Laluna.
Daniel menatap Laluna dengan tatapan kecewa atas apa yang dilakukan Laluna didalam sana dengan mantan pacarnya itu. Tan yang mendengar Laluna memanggil nama Daniel, segera ikut keluar dari fitting room itu.
__ADS_1
"Hai sayang, aku tidak jadi membantu Dady! Jadi aku buru-buru menyusul kesini, untuk fitting baju pertunangan kita!" kata Daniel.
"Kenapa kau bisa tau aku disini?" tanya Laluna yang entahlah harus dikemanakan wajahnya saat ini karena menanggung malu pada Daniel.
"Petugas butik yang memberitahukan! Tadi aku juga mencoba menelpon mu, karena aku bingung kau berada diruangan yang mana, semuanya sepi hanya ada satu ruangan yang sedikit berisik!" kata Daniel dengan wajah sedih.
Tan hanya diam menyaksikan Laluna dan Daniel berbicara.
"Sejak kapan kau didepan pintu?" tanya Laluna.
"Luna apakah itu penting? Sudahlah, lebih baik kau bantu aku pilihkan baju untuk ku saja sekarang," kata Daniel mencoba terlihat baik-baik saja.
"Tunggu Daniel, aku ingin bicara denganmu!" kata Tan.
"Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita!" tegas Daniel, lalu Daniel pun menggandeng satu tangan Laluna mengajaknya untuk pergi meninggalkan Tan yang perasaannya kini tak karuan.
Tan keluar dari dalam ruangan fitting room, tubuhnya lemas kala menyaksikan Laluna dan Daniel bersama! Bahkan Daniel meminta Laluna memakaikan dasi dilehernya. Sungguh pemandangan seperti ini sangat menghancurkan hati Tan.
"Sayang, aku akan mengantarmu pulang! Lagipula aku ingin mengajakmu jalan-jalan terlebih dahulu, kau mau kan?" tanya Daniel.
Laluna pun mengangguk sebagai jawaban bahwa dia menerima untuk pulang bersama Daniel, setelah menganggukkan kepalanya, Laluna menengok kearah Tan, dan dengan penuh rasa kecewa Tan pergi meninggalkan butik, dan lebih memilih menunggu didalam mobil.
Malam harinya!
Tan sangat gelisah mengingat Laluna pergi bersama dengan Daniel hingga malam begini. Biasanya Tan tidak pernah berlama-lama di kediaman Tuan Lan, namun hari ini Tan mengerjakan apapun itu agar dirinya memiliki alasan untuk bisa berlama-lama di kediaman Tuan Lan.
Sementara Tuan Lan yang melihat wajah Tan yang penuh kesedihan dan berusaha menyibukkan dirinya dengan mengerjakan beberapa pekerjaan yang seharusnya itu bisa dikerjakan lusa atau hari-hari berikutnya.
"Apa sebaiknya kau terus patah hati saja Tan?" tanya Tuan Lan.
"Maksudmu?" tanya Tan sambil tetap fokus menatap ke layar laptop.
__ADS_1
"Ya, aku lihat kau sangat rajin jika sedang patah hati begini!" kata Tuan Lan.
"Aku memang selalu rajin, bukan?" tanya Tan.
"Tan, aku tidak akan lagi berdiam diri seperti ini. Aku akan mengatakan bahwa kau lah yang mendonorkan sumsum tulang belakang untuk Laluna, dan aku juga akan bicara langsung pada keluarga Daniel untuk membatalkan pertunangannya!" kata Tuan Lan.
Tan langsung menghentikan pekerjaannya! Dan mengusap wajahnya sendiri, karena jujur saja Tan juga sudah tidak sanggup menahan sakit di hatinya.
"Jangan Tuan! Aku tidak mau terkesan pamrih, aku tulus menjadi pendonornya, karena aku sudah jatuh cinta kepadanya sejak pertama kali melihatnya! Sakit hati ini masih bisa aku tahan, asalkan Laluna hidup bahagia," kata Tan.
"Apa kau yakin Laluna akan bahagia bersama Daniel?" tanya Tuan Lan.
"Dari yang aku lihat, sepertinya begitu! Aku belum pernah melihat laki-laki sebaik Daniel, dia bahkan lebih baik dariku dalam memperlakukan wanita yang dia cintai, dia lebih gentle tidak seperti ku yang pengecut ini!" kata Tan.
Tuan Lan pun menarik nafas panjang, mendengar Tan se putus asa itu bersaing dengan Daniel.
Sementara di tepi sungai Alegria, Laluna dan Daniel masih berjalan-jalan ditepi pantai! Bahkan Daniel tak sedetikpun melepaskan genggaman tangannya.
"Daniel, apa kau tau aku dan Tan didalam fitting room itu telah..?" tanya Laluna.
"Aku bahkan dapat mendengar dengan jelas nafas kalian berdua," Kat Daniel yang berusaha tersenyum menutupi kesedihannya.
"Aku minta maaf Daniel, tapi aku memang masih mencintainya! Maafkan aku karena belum bisa mencintai mu hingga detik ini," kata Laluna lalu terisak menangis dihadapan Daniel.
Daniel pun memeluk Laluna, dan menepuk-nepuk pundak wanita yang sangat dia cintai itu.
"Luna, kau mencintainya itu urusanmu dengan hatimu! Urusanku hanyalah berusaha membuat mu jatuh cinta padaku, menjadi yang terbaik untukmu dan yang pasti aku sangat mencintaimu Luna," kata Daniel.
❤️❤️❤️
Dari kemarin banyak yang tanya kok belum ada yang kasih tau Laluna tentang pendonor itu ya? Jawabannya, emang itu senjata terakhir othor ya, jadi nanti pasti Luna tau tapi bukan dari Tuan Lan ataupun Tan ya...
__ADS_1
Dari siapa maak???? Makanya ikuti terus ya cerita selanjutnya 😁😁😁🤭