Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 61


__ADS_3

Tan pun membawa masuk Laluna kedalam mobil, lalu keduanya pergi meninggalkan kediaman Larisha. Didalam mobil, Tan tidak berkata apa-apa pada Laluna.


"Hei Tuan, apa kau kembali akan menculik aku seperti saat pertama kali kita bertemu?" tanya Laluna.


"Tidak, aku meminta waktumu sebentar!" kata Tan sambil terus fokus menyetir.



Sebenarnya dalam hati Laluna dia sangat senang berduaan dengan laki-laki tampan dan cool seperti Tan, tapi tak ingin terlihat terlalu gampangan Laluna pun berlagak pura-pura tidak senang Tan yang langsung membawanya begitu saja.


"Seharusnya kalau mau meminta waktu ku, kau izin dulu bicara padaku apakah aku kau atau tidak!" kata Laluna.


Tan pun menyelipkan senyuman tipis dibibirnya melihat Laluna sok jual mahal.


Tuan Lan langsung mengetuk pintu rumah Larisha, karena tak sabar ingin bertemu dengannya.


Tok.


Tok.


Tok.


Didalam kamar, Larisha yang baru saja selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya yang dibiarkannya tergerai. Sambil berjalan kedepan ruangan utama untuk membukakan pintu, Larisha bertanya-tanya siapa yang datang bertamu malam-malam begini, karena jika itu Laluna dia pasti langsung masuk kedalam rumah.



Klek.


Pintu terbuka, dan laki-laki yang muncul dibalik pintu rumahnya adalah Tuan Lan.


"Tu-Tuan, apa yang kau lakukan di rumah ku?" tanya Larisha.


Namun Tuan Lan langsung menyambar bibir Larisha, sambil berjalan masuk kedalam rumah lalu menutup pintu rumah itu dengan satu kakinya. Keduanya saling berpagutan, Tuan Lan melu mat bibit Larisha penuh ga irah.


Larisha pun melepaskan ci uman itu, dan mendorong tubuh Tuan Lan.


"Apa yang kau lakukan? Bukankah kita akan bercerai, kenapa masih terus menc ium ku," ketus Larisha.


"Dimana kamar mu?" tanya Tuan Lan yang masih dalam ga irah yang menggebu-gebu, karena sejak dua Minggu lalu dia harus menahan has ratnya akibat luka tembak itu belum sembuh.

__ADS_1


Larisha pun menengok kearah kamarnya.


Tuan Lan kembali menyambar bibir ranum milik Larisha sambil berjalan membawa Larisha masuk kedalam kamar.


"Tuan, berhenti! Aku tidak mengerti dengan sikapmu!" kata Larisha.


"Aku tidak sanggup jauh darimu! Sungguh aku tidak bisa berpisah darimu Risha, aku membutuhkan mu seperti jantung membutuhkan detak," lirih Tuan Lan.


"Tuan!" lirih Larisha lalu meraih tengkuk leher Tuan Lan hingga keduanya kembali saling berpagutan.



Tuan Lan membuka jas miliknya, membiarkan jas kerja itu jatuh kelantai, sambil terus berciu man, Tuan Lan membuka kancing kemeja miliknya satu persatu, keduanya berjalan kearah ranjang tua milik Larisha.


Kerinduan yang selama ini harus tertahan oleh masalah, kini bisa mereka lepaskan! Tuan Lan dan Larisha berci uma n dengan penuh has rat, dengan beringas Larisha melucuti pakaiannya sendiri begitu juga dengan Tuan Lan.


Seolah tak bisa lagi bersabar untuk tenggelam dalam penyatuan mahligai cinta beserta rindu yang mendalam.


Keduanya sampai diatas ranjang sederhana milik Larisha, tubuh Tuan Lan menindih tubuh gadis cantik itu, dengan ga irah yang sudah tidak terkendali lagi Tuan Lan meny e sap setiap inci leher jenjang Larisha.


Sapuan brewok dileher Larisha membuat tubuhnya terang sang hebat, Larisha bergidik geli namun juga sukses membuatnya memperoleh kenikmatan yang menjalar kebagian inti miliknya.


"Emthhhhh Tuan, lukamu bagaimana?" tanya Larisha yang masih menikmati setiap ke cupan dilehernya namun khawatir akan membuat Tuan Lan kesakitan bila melakukannya sekarang.


Larisha pun bertukar posisi dengan Tuan Lan, kali ini tubuh Larisha berada diatas tubuh Tuan Lan. Keduanya kembali her ci uman, lalu kedua tangan Tuan Lan mere mas kedua melon import yang tergantung sempurna didepan wajahnya.


Dihi sa pnya silih berganti, sementara wajah Larisha mendongak keatas merasakan kedua melon importnya di hi sa p, bahkan di re mas dengan penuh naf su oleh Tuan Lan.


Larisha yang sudah tidak tahan dengan sensasi-sensasi kenikmatan yang diberikan oleh Tuan Lan, kini sudah bersiap mengarahkan knalpot traktor sawah itu menuju inti miliknya.


Diturunkannya pinggul Larisha secara perlahan, hingga akhirnya knalpot traktor sawah milik Tuan Lan kini sudah berada didalam sana!


Larisha mulai menggerakkan pinggulnya turun naik secara perlahan karena takut Tuan Lan masih merasakan sakit di bekas lukanya.


"Oughttt kau seperti kucing liar honey, oughttt fu ck," de sah Tuan Lan.


Tuan Lan mer emas kedua melon import Larisha, sambil sesekali men nye sapnya. Sementara Larisha terus memacu pergerakannya hingga dia pun tidak sabar bila harus bermain dengan tempo yang pelan.


Larisha menggerakkan pinggulnya dengan sangat cepat, semakin cepat hingga kenikmatan luar biasa bisa diraihnya.

__ADS_1


"Oh, Tuan ah," de sah Larisha.


Kedua tangan Larisha mencengkram kepala Tuan Lan, menekannya hingga semakin terbenam kedalam kedua buah melon import itu. Larisha tidak peduli apakah Tuan Lan kesulitan bernafas karena terlalu ditekan kedalam melon importnya, yang jelas saat ini Larisha benar-benar merasakan melayang oleh kenikmatan.


"Risha oughttt sit, pelan honey! Ah, lukaku belum sembuh total," protes Tuan Lan.



"Oughttt Tuan, punyamu membuatku melayang diangkasa, emthhhh oh," de sah Larisha.


Larisha terus bermain dengan tempo yang sangat cepat, meskipun sedikit khawatir dengan luka Tuan Lan, namun kini Tuan Lab justru membantu Larisha menggerakkan pinggulnya keatas dan kebawah agar semakin cepat.


Seolah tak ada puasnya Tuan Lan kembali meng hi sap bagian tengah kedua melon import itu secara bergantian. Hal itu membuat Larisha semakin ber ga irah, pinggulnya semakin lincah bergoyang diatas tubuh suaminya itu.


Hingga ranjang didalam kamar itu terus berbunyi seiring dengan gerakan pinggul Larisha dan Tuan Lan.


Ngik ngok.


Ngik ngok.


"Ah aku hampir sampai honey, Ahhh sit ah," de sah Tuan Lan.


"Ahh Tuan, emthhh yes Tuan keluarkan!" de sah Larisha.


Dan benar saja, lahar putih itu kembali terasa hangat didalam rahim Larisha.


Brught....


Belum selesai Larisha dan Tuan Lan rehat dari aktivitas melelahkannya, ranjang itu runtuh kebawah. Hal itu cukup membuat Tuan Lan kaget dan melongo dibawah sana, sementara Larisha panik dan merasa tidak enak pada Tuan Lan.


"Tuan ya ampun, maaf Tuan! Ayo aku bantu berdiri," kata Larisha.


"Risha, ke-kenapa dengan ranjang mu ini?" tanya Tuan Lan merasa aneh dan terkejut ranjang bisa patah seperti itu.


"Maaf Tuan, mungkin tadi aku terlalu bersemangat bergerak diatas tubuhmu, ditambah ranjang ini yang sudah rapuh karena berusia hampir sama dengan umurku!" kata Larisha.


"Apa? Bagaimana bisa ada manusia yang tidur dengan ranjang se tua ini?" heran Tuan Lan.


Larisha pun hanya busa menundukkan wajahnya karena malu atas kejadian ranjang runtuh ini.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Jangan lupa like komen, votenya maak habis ini meluncur lagi 1 bab💃💃


__ADS_2