
Setelah membaca memo-memo yang ditempelkan di dinding tentang dirinya, Tan bergegas mencari gaun dan sepatu milik Laluna didalam lemarinya! Tak lupa, Tan juga mengambil beberapa pakaian da lam milik Laluna agar dia bisa menggantinya di apartemen.
Sudah tidak ada yang terlewat, Tan buru-buru keluar dari dalam kamar Laluna agar segera sampai di apartemen.
Di dalam kamar Tuan Lan!
Larisha mulai memberanikan diri untuk mengatakan apa yang selama ini dia pendam, Larisha dan Tuan Lan naik keatas ranjang untuk beristirahat waktu sudah menunjukkan jam 03.00 pagi.
"Dad, bolehkah aku bicara?" tanya Larisha dengan gugup.
"Bicaralah sayang!" kata Tuan Lan sambil memasukkan tubuhnya kedalam selimut.
"Apa tidak kau tinggalkan bisnis-bisnis ilegal mu itu? Aku rasa, aku!" belum selesai Larisha bicara Tuan Lan langsung memotong pembicaraan.
"Mom, jangan campuri hubungan kita dengan pekerjaan ku! Kau adalah istri ku, kau hanya perlu berada disamping ku, dan mendukung ku!" kata Tuan Lan yang nanarnya menunjukkan ketidaksukaan apabila Larisha mengusik bisnisnya.
"Bukan ini jawaban yang aku mau darimu!" kata Larisha mulai sedikit ngotot.
"Kalau begitu apa jawaban yang kau harapkan mom? Sampai mati pun, bisnis-bisnis ilegal yang diturunkan turun temurun oleh kakekku, tidak akan pernah aku tutup!" tegas Tuan Lan.
"Kau keras kepala sekali! Apa kau lupa, sekarang kau memiliki seorang istri dan kau juga akan memiliki tiga orang anak dalam waktu dekat ini! Tidakkah kau berpikir dad? Apa yang akan kami rasakan karena kau terus berada dalam bahaya sepanjang hidup mu?" tanya Larisha yang sudah mulai menaikkan bicaranya satu oktaf.
__ADS_1
"Cukup mom, aku tidak mau mendengar mu bicara soal bisnis lagi! Banyak hal yang lebih baik kita bicarakan, kau tidak perlu permasalahkan bisnis-bisnis ku!" tegas Tuan Lan.
Larisha pun kesal dengan sikap keras kepala suaminya itu! Kemudian Larisha memilih untuk tidur menyamping membelakangi Tuan Lan, kedua matanya memang belum mengantuk lagi tapi sikap Tuan Lan yang tak mau mendengarkannya, membuat Larisha kecewa dan memilih membelakangi suaminya itu.
"Oh, come on Mom! Apa begini sikapmu ketika aku kembali dari pertarungan? Kau tidur membelakangi aku?" tanya Tuan Lan.
Larisha tak lagi menggubris pertanyaan Tuan Lan, dan lebih memilih berpura-pura tidur agar mengakhiri perdebatan yang sudah mengecewakannya. Tuan Lan pun tak dapat berkata-kata lagi, dia berusaha memejamkan kedua matanya berharap pagi nanti, Larisha sudah tak marah lagi dengannya.
Tuan Lan memang tidak akan mungkin menutup bisnis-bisnis hitam yang diturunkan turun temurun dari keluarganya itu! Selain amanat yang harus dia jalankan, ada banyak sekali anak buahnya yang dapat menghidupi anak istrinya dengan layak bahkan sejahtera, dari bisnis hitam yang selama ini dijalaninya. Tidak terbayangkan bila bisnis-bisnis itu ditutup, berapa banyak pengangguran nantinya di jaman yang sangat sulit mencari pekerjaan ini.
Sementara itu, Tan yang baru saja tiba di apartemennya! Menempelkan kartu, lalu masuk kedalam kamar apartemennya, dilihatnya Laluna tidur diatas sofa mungkin karena kelelahan menunggunya pulang! Tan meletakkan gaun serta sepatu diatas meja, lalu mengangkat tubuh Laluna untuk dibaringkan diatas ranjang.
Tan berjalan kearah ranjang, lalu membaringkan tubuh Laluna diatas ranjang dengan perlahan agar tak membangunkannya.
"Kenapa menidurkan aku secara perlahan?" tanya Laluna yang rupanya berpura-pura tidur lalu kedua tangannya membelit di leher Tan yang masih berada diatas tubuhnya.
"Kau belum tidur? Aku hanya tidak mau sampai kau terbangun," kata Tan.
"Mengaku sajalah! Yakin kau tidak mau aku terbangun Tuan? Sementara knalpot mu itu sudah mengeras kembali?" ledek Laluna saat digendong oleh Tan, Laluna memang merasakan knalpot racing itu membesar kembali.
"Sudahlah, jangan menggodaku!" kata Tan.
__ADS_1
Laluna pun melepaskan lilitan kedua tangannya dari leher Tan, dan tersenyum kearah Tan, membuat Tan salah tingkah.
"Ada apa? Kenapa tersenyum?" tanya Tan sambil duduk dibibir ranjang.
"Aku tidak menyangka, karena ditiduri oleh laki-laki setampan dirimu, kau tampan saat hendak memuntahkan lahar putih itu!" goda Laluna.
"Kalau begitu," kata Tan yang langsung kembali men ci um bibir Laluna dengan lahap.
Sementara di sebuah kediaman mewah milik group Brotherhood! Keadaan disana sedang berduka akibat satu ketua mereka tewas ditangan Tuan Lan.
Brakk.....
Ketua group Brotherhood yang masih hidup namun terluka dibagian perutnya, menggebrak meja tempat mayat saudaranya terkujur kaku.
"Aku tidak terima! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!" teriak ketua group Brotherhood.
❤️❤️❤️❤️
Ternyata bukan cuma knalpot traktor sawahnya aja yang keras! Tapi sikapnya juga keras banget Tuan Lan, di nasehatin istri bukannya dipikirkan yang terbaik, malah langsung ga terima😌
__ADS_1
Ayo Tan, tancap lagi biar mandinya sekalian!