
Laluna dan juga Tan memutuskan untuk bermalam di rumah baru tersebut, sepanjang malam entah sudah berapa banyak keduanya kembali melakukan penyatuan itu. Tan terlelap sambil memeluk tubuh Laluna, mendekapnya seolah tak ingin sedetikpun ada jarak diantara keduanya.
Keesokkan harinya, di kediaman Tuan Lan!
Larisha sudah sekitar satu jam ini ngomel-ngomel akibat sikap anak-anaknya yang sulit sekali diatur, bahkan pengasuh mereka pun kelimpungan ketika Bright, Domanick, dan Brithney sangat sulit diatur.
"Bright, Momy sudah bilang kan jangan membaca sampai tengah malam, paginya jadi sulit untuk dibangunkan! Come on Bright, kita bisa telat semua karena menunggu mu bangun!" kata Larisha sambil memegangi kepalanya akibat Bright tak kunjung membuka kedua matanya.
"Mom, hari ini aku mau berangkat siang saja!" kata Bright.
"Astaga Bright, mana bisa kau berangkat siang! Bangun Momy bilang!" teriak Larisha.
"Mom, aku ingin pindah sekolah! Aku tidak mau satu sekolah dengan Brith dan Nick," kata Bright sambil terus bicara dengan mata terpejam.
"Memangnya kenapa? Cerita sama Momy, bagaimana Momy bisa paham apa yang kau inginkan Bright, jika kau saja tidak mau menjelaskan!" kata Larisha.
"Yang jelas mereka pembuat onar!" kata Bright lalu beranjak turun dari tempat tidurnya dan masuk kamar mandi dengan malas-malasan.
Larisha pun mengusap wajahnya, tidak mudah memang menjadi Ibu dari tiga anak yang sangat berbeda-beda karakter, Tuan Lan yang melihat wajah lelah Larisha! Langsung menghampirinya.
"Mom, lain kali biarkan pengasuh saja yang bangunkan Bright," kata Tuan Lan.
"Pengasuh kita sudah menyerah dengan anak-anak kita Dad, mereka semakin sulit diatur, bahkan satu sama lainnya tidak pernah akur!" kata Larisha.
"Mereka tidak akur, bukan berarti tidak saling menyayangi mom, sabarlah! Namanya juga anak-anak," kata Tuan Lan.
"Momy! Momy! Oh my God, Momy!" teriak Brithney yang berlari ke kamar Bright untuk menemui Larisha.
"Brith, ada apa?" tanya Larisha.
"Lihatlah, hari ini hari Rabu dan ini jadwal ku memakai kaos kaki dan tas dengan warna pink, tapi lihat Merry (pengasuh) menyiapkan aku kaus kaki berwarna coklat, aku tidak suka Momy!" kata Britney.
"Baiklah, Momy akan carikan untukmu Brith!" kata Larisha yang langsung beranjak untuk mencari kaos kaki berwarna pink itu.
"Brith, jangan membuat Momy kepusingan! Warna apapun sama saja fungsinya!" kata Tuan Lan.
"No, Dady aku harus memakai warna pink setiap hari Rabu!" kata Brithney.
Tuan Lan merasa tugas Larisha di rumah ini memang tidak ringan, meskipun ada tiga pengasuh di rumah ini! Namun ketiganya tidak sanggup bila anak-anaknya sudah bersikap sulit diatur.
Brithney terus protes karena kaos kaki pink yang ia maksud tak kunjung ditemukan oleh Larisha ataupun pengasuhnya! Sementara waktu terus bergulir dan bisa-bisa mereka terlambat ke sekolah gara-gara Brithney.
__ADS_1
"Mana Momy, bukan yang ini!" protes Brithney.
"Cukup Brith, kau harus pakai kaos kaki ini, tidak peduli apapun warnanya pakai yang ini!" kata Larisha menaikkan nada bicaranya.
"Tidak mau!" kata Brithney lalu melemparkan kaos kaki yang diberikan oleh Larisha, dan langsung cemberut.
"Brithney! Dengarkan Momy atau Momy akan mengurung mu di dalam gudang yang gelap dan penuh tikus!" bentak Larisha.
Hiks.
Hiks.
Hiks.
Bentakan dari Larisha, sukses membuat Brithney menangis kencang hingga Tuan Lan pun menghampirinya!
"Mom, sudahlah kau berangkat duluan dengan Nick dan Bright. Nanti Dady yang akan antar Brith ke sekolah!" kata Tuan Lan.
Larisha pun sedikit menyesal karena sudah membentak Brithney hingga Brithney menangis.
"Baiklah Dad, Merry! Pastikan bekalnya Brithney sudah dimasukkan ke dalam tasnya!" kata Larisha.
"Baik Nyonya!" kata Merry.
"Hei, princess kau terlihat jelek saat menangis!" kata Tuan Lan.
"Apa lebih jelek dari aunty Luna?" tanya Brithney yang sejenak menghentikan tangisnya.
"Iya benar, lebih jelek! Kau mau terus menangis dan terlihat lebih jelek dari aunty Luna?" tanya Tuan Lan.
"No, Dady!" kata Brithney yang mulai mereda.
"Kalau begitu, Dady akan mengantarmu ke sekolah kau senang berangkat ke sekolah bersama Dady?" tanya Tuan Lan.
"Dad, Momy tidak menyayangi ku! Momy terus memarahi ku!" kata Brithney.
"Tidak begitu honey, Momy hanya pusing saja tadi pagi! Apa Brith tidak kasihan kalau Momy kepusingan di pagi hari?" tanya Tuan Lan.
"Kasihan!" singkat Brithney.
"Kalau begitu, Brithney harus nurut apapun yang Momy bilang! Momy itu sangat sayang sekali pada Brith, jadi Dady mohon Brith jangan sulit diatur oleh Momy, paham?" tanya Tuan Lan.
"Ya Dady," kata Brithney.
__ADS_1
"Oke, sekarang kita berangkat ke sekolah dan bertemu kakak Bright dan Kakak Nick, let's go!" kata Tuan Lan.
Brithney pun berangkat ke sekolah bersama Tuan Lan! Padahal pagi ini Tuan Lan harus segera tiba di kantor untuk meeting pagi, tapi Tuan Lan akan menyempatkan diri untuk mengantar Brithney ke sekolah.
Sementara di stasiun televisi!
Laluna sudah sampai dengan diantar oleh Tan tadi! Saat berjalan hendak masuk lift, terlihat Daniel yang mulai masuk kerja kembali hari ini! Daniel berdiri dengan beberapa orang menunggu pintu lift terbuka.
Setelah kandasnya pertunangan mereka, ini kali pertama Laluna melihat Daniel kembali! Rasa canggung dan tak enak hati untuk menyapa Daniel membuat Laluna memilih untuk naik ke lantai atas ruang kerjanya dengan menggunakan tangga darurat, karena tidak mungkin dia berdiri di depan lift yang sama dengan Daniel ataupun pintu lift disampingnya.
Satu persatu anak tangga itu dilewati oleh Laluna! Dengan langkah kaki yang kian melambat, dan nafas yang terengah-engah, Laluna mulai kecapean.
"Astaga, apa setiap hari aku akan menderita seperti ini untuk menghindari Daniel? Sumpah ini membuat ku sangat tidak nyaman." Kata Laluna.
Dengan susah payah Laluna sampai di meja kerjanya! Dia melihat jadwal siaran berita yang harus dia bawakan hari ini, dan ternyata itu bersama dengan Daniel.
Laluna pun buru-buru pergi ke bagian terkait untuk mengganti jadwal siarannya! Laluna memohon merengek, dan meminta belas kasihan agar menroaling jadwal siarannya. Disaat Laluna sedang merengek meminta dipindah jadwal, Daniel muncul sambil mengunyah permen karet rasa strawberry di mulutnya.
"Kenapa harus di roaling?" tanya Daniel.
Suara Daniel, membuat Laluna akhirnya merengek dan melihat arah dari kemunculan suara itu.
"Da-Daniel! Kau sudah kembali ke kantor rupanya! Hahaha, wah senang sekali akhirnya kau kembali bekerja," kata Laluna berusaha menepis rasa canggungnya.
"Bukankah tadi dilantai bawah kita sudah bertemu?" tanya Daniel sambil terus mengunyah permen karet.
"Di lantai bawah? Tadi? Kapan? Maksudmu, kau melihat ku di dekat lift?" tanya Laluna.
"Aku bahkan melihat mu menaiki tangga darurat, padahal lift berderet dilantai bawah!" kata Daniel.
Deg...
Laluna pun tersenyum kaku mendengar Daniel mengetahui bahwa dirinya sejak tadi berusaha menghindar.
❤️❤️❤️
Ada yang kepo engga Brithney dewasa kaya apa??? Nih maak othor kasih bocoran tipis-tipis 😁
Kemarin banyak yang tanya, katanya umur beda berapa Daniel sama Brithney, pokoknya saat Brithney usia 17 tahun, Daniel usianya 36 tahun.
__ADS_1