
Akibat badai salju, kota yang tadinya ramai oleh lalu lalang orang-orang yang melakukan aktivitas kini sepi dan hanya menyisakan jalanan dan bangunan yang sudah tertutupi salju yang sangat tebal.
Si kediaman rumah Tuan Lan, Larisha yang semula berbaring diatas ranjang sambil memeluk Tuan Lan, kini berjalan kearah jendela dan menatap salju yang masih terus turun. Tuan Lan ikut menghampiri istrinya lalu memeluknya dari belakang.
"Risha, kau gelisah karena salju terus turun, apa kau ingin makan malam kita ditunda saja?" tanya Tuan Lan sambil meng cup pundaknya.
"Ya Tuan, kurasa malam ini kita habiskan waktu di rumah saja, mumpung kau libur kerja," kata Larisha.
"Lalu apa yang membuatmu masih gelisah?" tanya Tuan Lan.
"Luna dan Tuan Tan, mereka pasti terjebak oleh badai salju di kampus! Kasihan sekali mereka pasti kedinginan," kata Larisha dengan polosnya.
Cih, apa katamu Risha? Kasihan, oh God, kau tidak tau betapa buaya itu menginginkan badai salju agar dapat berduaan dengan adikmu, bisa ku tebak mungkin mereka sedang kepanasan sekarang bukan kedinginan. Dalam hati Tuan Lan.
"Sudahlah Risha, Tan pasti memberikan kehangatan untuk adikmu! Maksud ku, Tan pasti memberikan mantelnya pada Laluna agar dia tidak kedinginan," kata Tuan Lan.
"Kau benar Tuan, aku tidak perlu khawatir karena Tuan Tan memang selalu dapat diandalkan dalam keadaan apapun," kata Larisha.
__ADS_1
Ya, kau benar Risha! Tan adalah orang yang paling bisa aku andalkan dalam keadaan apapun, tidak bisa aku bayangkan setelah adikmu lulus, dia akan meminta untuk pensiun dari bisnis hitam hitam ini, bagiamana aku menghadapi situasi sulit nantinya tanpa Tan disisi ku, Dalam hati Tuan Lan.
"Ya sudah, kita kembali ke tempat tidur! Kau kan juga masih pusing, dan mual," kata Tuan Lan.
Keduanya kembali ke ranjang, lalu menarik selimut dan saling berpelukan.
Di Apartemen milik Tan!
Tubuh Tan masih betah berada diatas tubuh Laluna, keduanya masih menikmati belitan lidah dan se sapan bibir masing-masing. Tan pun sejenak melepaskan ciu man itu, untuk memberikan ruang bernafas bagi Laluna.
Sambil terus memandangi wajah Laluna dan menorehkan senyum dibibirnya, membuat wajah Laluna memerah.
"Tuan, kenapa kau tersenyum?" tanya Laluna.
__ADS_1
"Kau sudah tidak kaku lagi," kata Tan.
"Itu karena kita sudah lebih dari satu jam berciu man!" kata Laluna sambil menundukkan wajahnya.
"Kau ingin aku melanjutkan?" tanya Tan sambil kembali mendekatkan bibirnya pada bibir Laluna.
Laluna pun tidak bisa menjawab apapun, melihat paras Tan dari kedekatan membuatnya sangat gerogi, sungguh parasnya berkali-kali lipat sangat tampan apalagi pria satu ini jarang menorehkan senyumannya dibibirnya yang manis.
Laluna sudah terserap kedalam gelombang rasa yang telah diciptakan oleh Tan, hingga akhirnya keduanya kembali ber ciu man, saling melu mat dengan penuhi ga i rah, kedua tubuh mereka bahkan saling bergerilya mencoba menggesek-gesekkan sesuatu benda yang sedari tadi sudah lembab dan yang satunya sudah mengeras.
Tan dan Laluna memejamkan kedua matanya, namun gesekan kedua bagian tubuh sensitif mereka detik demi detik membuat Tan kesulitan mengendalikan naf sunya, hal itu membuatnya ingin melakukannya pada Laluna, padahal niat Tan hanya ingin melu mat bibir gadis yang saat ini tengah berada dalam kungkungannya.
Knalpot rasing miliknya sudah berontak dan tak mau tau ingin segera memasukinya, Tan juga sudah lama tidak pernah lagi tidur dengan wanita manapun sejak pertama kali melihat Laluna, Tan memang sudah tertarik pada Laluna, bisa di bilang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tan pun melepaskan ciu mannya, dan Laluna menatap bingung melihat raut wajah Tan.
"Tuan, kenapa sudah?" tanya Laluna yang masih ingin saling berpagutan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengendalikannya lagi Luna, jika kita terus saling menye sap, aku tidak tau apa yang terjadi beberapa detik kedepan terhadap mu!" kata Tan.