
Tan dan Laluna pun masuk ke mobil untuk segera pulang ke rumah. Namun bukan ke arah tempat kediaman Tuan Lan mobil yang di kendarai oleh Tan menuju, ini arahnya berbeda.
"Apa kita akan mampir ke suatu tempat?" tanya Laluna.
"Hmm, kemana?" tanya Laluna bingung.
"Kau duduk manis saja! Nanti ketika sampai kau akan tau sendiri Luna," kata Tan.
"Wow, apa ini kejutan untuk ku Tuan Arthan yang tampan?" ledek Laluna sambil mencolek pinggang Tan.
"Luna, jangan iseng!" kata Tan.
"Baiklah aku akan duduk manis dan menunggu mau dibawa kemana aku ini!" kata Laluna.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, setelah perjalanan kurang lebih satu jam. Mobil tersebut masuk ke sebuah pintu gerbang rumah yang sangat besar, sama besarnya dengan kediaman Tuan Lan.
Dua orang security memberikan salam hormat pada Tan, ketika mobil Tan masuk ke dalam pekarangan rumah mewah itu.
"Apa ini rumah teman mu Tan?" tanya Laluna.
"Iya, turunlah!" kata Tan, yang baru saja mematikan mesin mobilnya.
Laluna dan juga Tan pun turun dari mobil, keduanya seperti berjalan di istana putri salju mirip negri dongeng. Rumah itu luar biasa gagah dan mewah, keduanya melangkah menuju daun pintu utama rumah yang terdiri dari lima lantai tersebut!
Tan pun membuka kedua daun pintu berwarna putih dihadapannya, hingga dalamnya rumah tersebut pun terlihat di depan mata.
"Tan kau tidak sopan sekali, ini kan rumah teman mu! Kenapa langsung buka pintu, harusnya kau tekan bel dulu!" kata Laluna.
"Iya ini memang rumah teman ku, lebih tepatnya teman hidup ku, yaitu kamu!" kata Tan sambil tersenyum dan meraih kedua lengan Laluna.
"Jangan bercanda! Mana mungkin ini rumahku," kata Laluna sambil tersenyum malu.
"Kita masuk sekarang, karena aku akan menunjukkan bahwa rumah ini memang milikmu!" kata Tan.
__ADS_1
Laluna pun melangkah masuk ke dalam rumah mewah bernuansa putih cream tersebut, Tan mengajak Laluna untuk duduk di sofa, lalu dia bukanya sebuah laci dipinggir sofa ruang tamu! Diambilnya surat-surat penting atas kepemilikan rumah ini, Tan pun menunjukkannya dihadapan Laluna.
"Apa ini?" tanya Laluna sambil membaca isi sertifikat rumah itu.
"Baca perlahan!" kata Tan.
Setelah Laluna membaca surat sertifikat itu, ternyata benar rumah ini di beli oleh Tan namun atas nama Laluna, yang artinya Laluna lah pemilik rumah ini. Laluna pun sempat mengucek-ngucek kedua matanya karena membaca sertifikat tersebut.
"Tan, kenapa atas namaku? Kau, bagaimana bisa kau membeli rumah ini dengan nilai sangat fantastis?" tanya Laluna yang otaknya masih ngeloading lupa bahwa laki-laki yang akan menjadi suaminya mantan mafia yang uang tabungannya tidak akan habis tujuh turunan, tujuh pengkolan, tujuh tanjakan.
"Aku membeli rumah ini, dan apapun harta yang aku miliki semua akan menjadi atas namamu Luna," kata Tan.
"Tapi kenapa? Aku senang kau membeli rumah besar dan mewah ini, tapi aku tidak pernah menyangka kau sekaya ini Tan!" kata Laluna.
"Apa? Jadi maksudmu aku tidak kaya, begitu?" tanya Tan.
"Tidak, bukan begitu, kau tau gaji ku sebagai presenter mungkin harus ku tabung hingga seumur hidupku untuk bisa membeli rumah ini!" kata Laluna.
Laluna pun langsung naik ke pangkuan Tan, lalu mengalungkan kedua tangannya dileher Tan.
"Aku bahagia sekali! Bukan karena rumah ini sangat mahal, tapi aku senang kau tidak akan bekerja dengan mempertaruhkan nyawa mu lagi!" kata Laluna.
"Aku akan segera menikahi mu sayang!" kata Tan.
"Aku ingin melihat kamar kita di rumah ini!" bisik Laluna.
Tan pun tersenyum dengan kode yang diberikan oleh Laluna, dia lantas memangku tubuh Laluna, membawanya masuk ke lift untuk menuju lantai lima rumah tersebut. Sementara Laluna nyaman bersandar di da da bidang Tan yang kekar itu.
Ting..
Pintu lift terbuka, dan Tan berjalan sambil menggendong tubuh Laluna menuju kamar yang nantinya akan mereka tempati! Dengan satu tangannya, di bukalah pintu kamar yang terletak di lantai lima rumah tersebut.
Sebuah kamar dengan nuansa cream lengkap dengan berbagai furniture di dalamnya yang memang sudah dari jauh-jauh hari Tan membelinya. Tanpa diketahui oleh Laluna, meskipun dulu sempat Laluna memutuskan hubungan keduanya, namun Tan tetap giat menabung dan memang sudah berniat membangun rumah ini untuk Laluna, Tan selalu berpikir positif bahwa masa depannya akan bersama Laluna, jadi meskipun sempat putus Tan tetap membangun rumah mewah ini, berikut membeli lengkap dengan berbagai furniture didalamnya.
__ADS_1
Tan membaringkan tubuh Laluna diatas ranjang kamar itu, ditatapnya gadis cantik yang tidak lama lagi akan segera dia nikahi.
"Kenapa hanya menatap ku? Mana kebuasan mu, Arthan!" goda Laluna.
"Kau memancing ku sayang? Jangan sampai menyesal karena nanti kau akan akan kewalahan dengan kebuasan ku!" kata Tan.
Laluna pun menggigit bibir bawahnya mendengar ancaman yang terdengar menyeramkan namun menggetarkan rahimnya.
"Aku suka tubuh mu yang berotot itu, membuatku selalu ingin merasakannya!" kata Laluna.
"Apa perlu kita melakukannya di rumah baru ini?" tanya Tan.
"Memangnya kenapa?" tanya Laluna, yang langsung membuka kancing pakaiannya sendiri satu persatu di hadapan Tan.
Membuat Tan yang saat ini duduk dibibir ranjang, merasakan darahnya mulai berdesir hebat saat Laluna mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya itu!
Tan menatap kearah Laluna,. memperhatikan apa yang hendak dibuat oleh gadis cantik ini sekarang! Laluna yang telah selesai melepaskan seluruh kancing kemejanya, langsung membuang kemeja miliknya hingga jatuh ke lantai.
Kini hanya tinggal penutup berwarna hitam kedua buah melon import miliknya yang tersisa, membuat Tan yang sejak tadi diam memperhatikannya semakin terbakar ga i rah yang mulai menguasai seluruh isi pikirannya.
Laluna yang melihat Tan telah memberikan sinyal tak tahannya, kemudian nekat menurunkan resleting rok yang dia kenakan, hingga rok tersebut berhasil dilepaskan. Kedua mata Tan semakin terfokus pada bagian tengah dari pangkal paha milik Laluna.
Dilihatnya pucuk dari bagian tengah pangkal paha itu, terlihat penutup terakhir dari bagian inti milik Laluna yang belum dibukanya. Tan tersenyum lalu menjulurkan lidahnya dihadapan Laluna, membuat Laluna mengigit bibir bagian atasnya.
"Apa bagian terakhir ini perlu aku buka?" tanya Laluna.
"Bukalah! Aku tak sabar melihatnya," kata Tan sambil kedua matanya terus fokus menikmati bagian inti milik Laluna.
Laluna pun membuka pengait dari penutup kedua melon import besar itu, di bukanya hingga melon import itu tak lagi tertutupi oleh apapun. Terlihat besar, sintal, dengan pucuk yang agak kecoklatan, membuat knalpot racing mulai meracau dibalik celana sana.
❤️❤️❤️
Nanem terosss tapi gak jadi-jadi ya maak 😅😅😅, rumah baru udah dibikin buat nyetak bayi coba.
Terjamin banget punya suami kaya Arthan, semua harta atas nama istrinya😁 kalau macam-macam, tinggal senggol.jadi gembel langsung.
__ADS_1