
Wajah Larisha memerah karena Tuan Lan tiba-tiba menyatakan perasaannya dihadapan semua orang yang tengah berada di sungai Alegria.
"Tuan berhenti, aku malu semua orang melihat kita!" kata Larisha dengan wajah memerah dan masih terus lanjut berjalan lebih dulu.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kau membalas pernyataan cinta dariku!" kata Tuan Lan lalu tersenyum manis pada Larisha dan tetap mengikuti langkah kaki sang istri dari belakang.
Tuan Lan kemudian memeluk Larisha dari arah belakang, memutar tubuh gadis cantik itu untuk melihat pesona sungai Alegria yang nampak indah dengan arusnya yang tenang.
"Lihatlah, bahkan sungai Alegria pun saat ini sedang insecure karena melihat kecantikan wajahmu!" kata Tuan Lan yang semakin mempererat pelukannya, lalu menge cup pipi sebelah kanan Larisha.
Rambut Larisha tertiup angin kencang hingga nyaris menutupi wajahnya, namun Tuan Lan dengan senang hati merapihkannya kembali.
"Tuan, aku juga mencintaimu! Dibalik sikapmu yang keras hatimu sangat lembut. Kau bisa saja mengabaikan permintaan aku untuk menyembuhkan adikku, tapi itu tidak kau lakukan Tuan!" kata Larisha.
"Jadi kau jatuh cinta padaku karena aku sudah membuat adikmu sembuh?" tanya Tuan Lan.
"Tidak begitu!" kata Larisha.
"Lalu sejak kapan?" tanya Tuan Lan semakin penasaran.
"Ah sudahlah, aku tidak mau menjawab!" kata Larisha yang justru malu-malu.
"Aku tidak akan melepaskan pelukan ini sebelum kau menjawabnya, ayo katakan sejak kapan kau jatuh cinta padaku?" tanya Tuan Lan terus mendesak.
"Em, mungkin sejak pertama kali kau menci um bibir ku, hatiku terus berdebar sejak saat itu!" kata Larisha.
Tuan Lan kemudian melepaskan pelukan itu, lalu memutar tubuh Larisha menjadi berhadapan dengannya. Dan kembali meraup bibir ranum berwarna merah muda milik Larisha, keduanya terus berci uman ditengah dinginnya angin malam sungai Alegria.
Saling menggigit, dan saling meny e sap tak peduli ada beberapa mata yang memandang karena budaya disini memang hal seperti ini sudah biasa didepan umum. Tuan Lan kemudian melepaskan ciu mannya, lalu menggenggam erat tangan Larisha.
"Ayo kita beli sesuatu ke foodtruck, kau kan ingin makan jajanan di sini!" kata Tuan Lan.
__ADS_1
Larisha pun mengangguk lalu keduanya berjalan menuju salah satu foodtruck yang menyediakan minuman hangat dan cemilan pedas.
"Hei semua yang ada disini, ambillah makanan dan minuman di foodtruck ini! Aku akan membayar semua yang kalian makan dan minum!" kata Tuan Lan.
"Tuan kau serius?" tanya Larisha sambil menahan senyum.
"Asik hore!!!" serempak orang-orang yang berada disekitar sungai Alegria. Mereka berbondong-bondong memesan makanan dan minuman.
Terdapat beberapa foodtruck dan semuanya diborong oleh Tuan Lan, pedagang hanya tinggal menyebutkan berapa harga untuk semuanya. Orang-orang disekitar yang semula menganggap Tuan Kan aneh karena menyatakan cinta didepan orang-orang tanpa ragu, kini mereka dapat melihat betapa tulusnya hati laki-laki berusia 40 tahun itu.
Setelah mendapatkan dua minuman dan dua cemilan, Larisha dan Tuan Lan duduk di depan foodtruck.
"Risha, dengarkan aku baik-baik!" kata Tuan Lan.
"Ya Tuan, sepertinya kau nampak sangat serius," kata Larisha.
"Aku tidak bisa lagi mengizinkan mu pergi tanpa pengawalan anak buah ku," kata Tuan Lan.
"Tapi kenapa Tuan? Bukankah kemarin juga aku baik-baik saja tanpa pengawalan anak buah mu?" tanya Larisha yang bertanya-tanya.
"Dengar, Tan sudah menyelidiki tentang kematian Dev. Ada orang yang sengaja menghilangkan rekaman cctv di Bar tempat Dev pada malam kejadian! Dan itu artinya, orang ini sengaja memasukkan nar kotika itu, dia sedang mengincar ku Larisha," kata Tuan Lan.
"Entah lah itu masih diselidiki oleh Tan, dia akan pergi beberapa hari untuk memastikan dugaannya! Dan aku akan sangat sibuk tanpa Tan disini, jadi tetaplah di rumah," kata Tuan Lan.
"Baiklah Tuan! Aku akan terus di rumah sesuai keinginan mu," kata Larisha.
Lalu ngomong-ngomong soal Dev, Larisha berpikir untuk menceritakan saja pertemuannya dengan laki-laki yang mirip dengan Dev, bahkan sangat mirip bernama Briant Alberto itu.
"Tuan, sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan! Tapi aku takut kau tidak suka jika aku membicarakannya," kata Larisha.
"Apa itu?" tanya Tuan Lan.
"Aku bertemu dengan pria yang mirip dengan Dev, dia sangat mirip sekali Tuan!" kata Larisha yang dengan seriusnya mengatakan hal itu.
Hahaha..
__ADS_1
"Oh ayolah sayang! Apa kau belum move on dari anakkku, sampai-sampai wajahnya mengganggu pikiran mu! Huh, aku kira kau sudah melupakan perasaan mu pada Dev," kata Tuan Lan yang sedikit kecewa karena berpikir itu hanya perasaan Larisha saja karena terlalu memikirkan Dev jadi dia melihat wajah pria lain mirip dengan anaknya.
"Tidak, tidak begitu Tuan! Sudahlah aku tidak akan membicarakan itu lagi," kata Larisha yang melihat ada kecemburuan dihari Tuan Lan karena menganggap dirinya belum move on.
Keduanya pulang ke rumah setelah pembicaraan itu! Didalam kamar Tuan Lan langsung berganti pakaian, lalu Larisha datang membantu.
"Tuan, jangan cemburu begitu! Dev itu sudah menjadi kenangan untuk ku, yang ada di hati ku saat ini, esok dan selamanya hanya dirimu!" kata Larisha lalu memeluk tubuh kekar suaminya.
"Apa benar begitu? Kau sudah melupakan perasaan mu terhadap Dev?" tanya Tuan Lan.
"Tentu, dia adalah kenangan! Dan kau adalah masa depan dihidup ku," kata Larisha.
Mendengar hal itu hati Tuan Lan langsung berbunga-bunga. Dia lantas menggendong tubuh Larisha dan membaringkannya diatas ranjang!
"Besok aku akan sangat sibuk! Jadi aku ingin sepuas-puasnya denganmu malam ini," kata Tuan Lan sambil memegangi dagu Larisha.
"Aku akan puaskan kamu Tuan," kata Larisha.
"Naiklah keatas tubuhku sayang, dan buktikan itu!" lirih Tuan Lan.
Larisha kemudian langsung menarik tubuh Tuan Lan hingga membuatnya berada dibawah tubuhnya, tak Inging berlama-lama Larisha melucuti seluruh pakaian Tuan Lan lalu menge cup tubuh Tuan Lan, dari mulai perut, da dan bidangnya kemudian menyisir kebagian bawahnya.
Malam ini nasib mujur terjadi pada knalpot traktor sawah itu, dihi s apnya oleh Larisha di ku lum bahkan dimainkan oleh lidahnya.
"Oughttt sitttt ah," Tuan Lan terus meracau merasakan liarnya Larisha malam ini.
Larisha membuka pakaiannya sendiri lalu, menyodorkan kedua buah melon import itu pada Tuan Lan, layaknya seorang ibu tengah memberi a si pada anak bayinya.
"Emthhhh, ah sttthhh," de sah Larisha.
Sementara Tuan Lan sibuk meng hi s ap kedua melon import itu secara bergantian! Larisha kini mengarahkan knalpot traktor sawah itu mengarah pada inti miliknya, dan menekannya hingga bablas kedalam sana.
__ADS_1
Lain dengan Tuan Lan yang malam ini sedang menikmati kenikmatan diatas ranjang. Tan tengah mondar-mandir didepan kapan Laluna, dia ingin sekali berpamitan sebelum akhirnya besok dia berangkat ke Brazil untuk mendatangi rumah Fabio Alberto, karena dugaan Tan tertuju pada Fabio Alberto.