Tawanan Kamar Tuan Lan

Tawanan Kamar Tuan Lan
Bab 137


__ADS_3

Tan terus mengusap-usap perut istrinya itu, sementara Laluna sudah tidak tau lagi rasanya ruh hampir lepas dari raganya menahan rasa nyeri yang luar biasa rasanya. Tapi Laluna menengok kearah Brithney, Bright, dan Domanick, mereka yang begitu lucu Luna merasa kesakitan yang kini dia rasakan tidak sebanding dengan kebahagiaan nanti yang akan dirinya dapatkan.


Setelah hampir dua belas jam berjibaku menahan nyeri kontraksi, akhirnya sudah waktunya bayi itu lahir ke dunia. Laluna ditangani oleh seorang dokter wanita, dan beberapa perawat Tan pun ikut menemani istrinya itu di ruang bersalin.


Tidak tega memang melihat istri yang sudah lemah akibat kontraksi kini harus berjuang untuk melahirkan bayi hasil kenikmatan yang keduanya kerap lakukan. Tan tidak mau melihat Laluna melewati masa-masa getir dalam hidupnya itu sendirian, jadi meskipun sebagai seorang suami Tan terus menggenggam tangan Laluna


Tuan Lan dan juga Larisha serta ketiga anaknya, sudah tidak sabar menantikan kehadiran bayi itu lahir. Apalagi Brithney, gadis itu yakin sekali bila anak yang lahir dari rahim Laluna adalah seorang bayi perempuan, sedangkan Domanick enggan bila anggota keluarga mereka bertambah lagi seorang perempuan, Domanick maunya yang lahir itu laki-laki.


"Asik, nanti aku punya teman Momy! Ade bayinya pasti cantik seperti ku!"



Brithney sudah kegirangan untuk menyambut kehadiran bayi itu.


"Heleh,, satu seperti mu saja aku sudah pening apalagi bila bertambah lagi yang seperti mu!" ketus Domanick.


"Momy, kak Domanick itu menyebalkan harusnya kakak masuk lagi saja ke perut Momy!"


"Kau saja sana!"



"Sudah-sudah, apapun jenis kelamin bayi aunty nanti kalian semua harus saling menyayangi karena kita adalah keluarga,"


"Bener itu, Dady setuju dengan Momy! Nantinya kalian harus mengasuh baby itu, jangan sibuk bermain sendiri!"


Sementara Bright terlihat cuek saja dengan obrolan orangtua dan dua saudara kembarnya, dia asik membaca buku dan enggan ikut kedalam obrolan memusingkan itu.



Ditengah obrolan Larisha dan anak-anaknya, dari dalam ruangan bersalin terdengar suara tangisan bayi, itu artinya Laluna berhasil melahirkan secara normal meskipun harus berjuang dua belas jam lamanya.


Didalam ruang bersalin, bayi yang masih memiliki ari-arinya itu didekatkan dengan wajah ibunya yang sudah bertaruh nyawa demi melahirkan malaikat kecil itu. Sedikit cerita, Laluna dan Tan memang sengaja engga mengetahui jenis kelamin bayi mereka ketika masih didalam kandungan, agar ketika lahir itu menjadi sebuah kejutan tersendiri untuk keduanya.


"Selamat ya Nyonya dan Tuan, bayinya cantik persis seperti Momy dan Dadynya!"


Bayi itu masih terus menangis, kedua matanya masih terpejam karena belum siap menatap terangnya dunia. Tan terlihat menghapus air mat yang terus menetes di pipinya, sebuah rasa bahagia yang baru kali ini dia rasakan, darah dagingnya berbentuk bayi mungil, bahkan jari-jari tangan baby itu begitu lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Sayang lihat anak kita!" Laluna tersenyum sambil menangis haru menatap wajah bayi cantik itu.


"Terimakasih Tuhan, kau sudah menghadirkan malaikat kecil yang sempurna ini ditengah-tengah kami!" Arthan tidak bisa berhenti memandangi bayinya.


Bayi tersebut dibawa terlebih dahulu oleh salah seorang perawat! Melihat Dokter sudah keluar ruang bersalin, Larisha langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dok, bayinya sudah lahir kan?"


"Sudah nyonya, bayi lahir dengan cantik tanpa kurang suatu apapun!"


"Lalu bagaimana keadaan ibunya Dok?"


"Ibunya sehat, baik dia sosok ibu yang tangguh, sebentar lagi juga akan dipindah ke ruang rawat biasa, silahkan menunggu disana!"


"Baik Dok, terimakasih banyak," Kata Larisha yang sudah merasa lega walaupun belum melihat bayi tersebut.


Setelah dipindah di ruang rawat, seorang perawat datang dengan membawa bayi cantik itu untuk mendapatkan ASI dari Momynya. Tuan Lan dan Larisha menatap bayi tersebut dan merasa ingin kembali memiliki bayi lucu itu.



"Dad, aku sudah keteteran dengan ketiga anak kita! Kau si enak cuma goyang-goyang saja!" ledek Larisha.


Sontak Laluna dan Tan pun tertawa mendengar Larisha sesensi itu dengan suaminya yang meminta anak lagi.


Keesokan harinya! Daniel dan kedua orangtuanya yang mendengar Laluna sudah melahirkan, berniat untuk datang melihat bayi yang baru lahir itu.


"Niel, kau yakin akan ikut Momy dan Dady untuk menjenguk Luna?"


Momynya hanya khawatir Daniel belum sembuh dari luka hatinya dan tidak siap melihat kebahagiaan Luna dan Tan.


"Tenanglah mom,, hatiku sudah mati rasa! Jadi tidak akan lagi merasakan sakit!"


Angeline dan Damian pun hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya mendengar putranya begitu trauma akan cinta. Akhirnya mereka pergi bersama untuk datang ke rumah sakit dan melihat keadaan Laluna dan bayinya, Daniel bahkan membelikan sebuah bucket bunga besar sekali sebagai ucapan selamat atas kelahiran bayi tersebut.


Sesampainya di ruangan Laluna, kedatangan Damian, Angeline, dan Daniel disambut hangat oleh Larisha dan semuanya.


"Nyoba Angeline, sampai merepotkan datang ke rumah sakit segala!" Larisha cipika cipiki dengan Angeline.

__ADS_1


"Tidak kok, kebetulan Dadynya juga ingin sekali melihat bayinya,"


"Tante, Om, Daniel tidak ikut?"


"Eh mana tadi dad? Perasaan ada dibelakang kita!"


Tak lama Daniel muncul dengan membawakan bucket bunga dan langsung tersenyum memberikan bunga tersebut pada Laluna, dan diterima dengan baik oleh Laluna.


"Terimakasih banyak Daniel, kau sampai membawakan bunga ini!"


"Tidak apa Luna, selamat ya! Selamat Tua ln Tan!"


"Terimakasih banyak Niel!"


Lama mereka berbincang membicarakan banyak hal, dan tiba waktunya kedua orangtua Daniel menyampaikan hal penting pada keluarga Larisha.


"Lan, aku senang sekali tinggal disini sebenarnya tapi sepertinya Minggu besok keluarga kami akan pindah ke Jerman!" kata Damian.


"Apa? Pindah? Dam, kau bercanda kan? Itu tidak mungkin, perusahaan kalian kan juga ada yang disini!"


"Kami sudah mempercayakan perusahaan kami yang disini pada orang kepercayaan kami Lan! Daniel juga sudah setuju untuk pindah ke Jerman!"


"Astaga Nyonya Angeline, kami pasti akan sangat merindukan kalian!" kata Larisha yang sedih mendengar kabar ini.


Laluna menatap kearah Daniel, terlihat luka yang dia torehkan sepertinya masih sangat membekas di hati Daniel sampai-sampai dia memutuskan untuk pergi! Justru dari senyumnya itu terlihat betapa dia berusaha keras agar terlihat baik-baik saja dihadapan semuanya.


❤️❤️❤️


Dari kisah Daniel dan Laluna kita belajar bahwa,


JANGAN PERNAH MENJADI BULAN UNTUK SESEORANG YANG MEMBENCI MALAM, JANGAN PERNAH MENJADI PAYUNG UNTUK SESEORANG YANG MENYUKAI HUJAN, JANGAN PERNAH MENJADI NADA DERING UNTUK SESEORANG YANG MENYUKAI MODE HENING, DAN JANGAN PERNAH MENYENTUH BATANG BUNGA MAWAR YANG INDAH JIKA TIDAK INGIN TERTUSUK LEBIH DALAM.


TERAKHIR DARI AUTHOR SENDIRI,


JANGAN PERNAH MENJADI MIE SEDAP UNTUK SEORANG PECINTA INDOMIE🤗🤗🤗


paham kan maak😉

__ADS_1


__ADS_2