
Deg,, hati Daniel semakin berkecamuk mendengar Laluna telah mengandung dan yang pasti itu adalah darah daging Tan, karena tidak pernah sekalipun Daniel menyentuh Laluna apalagi sampai membuatnya hamil sebelum menikah.
"Daniel, bagaimana apa HRDnya sudah datang?" tanya Larisha, yang menyadarkan Daniel dari lamunannya.
"Sudah kak, mari biar ku antar!"
Daniel pun mengantar Larisha dan Brithney menuju ruangan HRD, dan surat pengunduran diri Laluna pun diterima oleh HRD, tidak dapat disembunyikan lagi raut kesedihan diwajah Daniel, cinta pertamanya yang selama lima tahun lebih ini dia perjuangkan kini tidak akan lagi mengisi hari-harinya ditempat kerja ini, lalu untuk apalagi dirinya terus bertahan bekerja di stasiun televisi ini?
Larisha berpamitan pulang pada Daniel, setelah beres urusan surat pengunduran diri itu, Larisha mengajak Brithney mengikuti arisan bulanan yang dilakukan di salah satu kediaman temannya.
Hingga sore hari, Larisha baru sampai di rumah bersama Brithney.
"Mom, aku mau bermain di tempat mainku!"
"Brith, Momy tidak bisa menemani kamu, maaf ya sayang Dady semalam minta Momy membuat kue kering kesukaannya,"
"Lalu akan bermain dengan siapa mom?" tanya Brithney.
"Ayo ikut Momy, Momy akan carikan Brith teman main!"
Larisha pun menggandeng Brithney menuju kamar Domanick, di sana Bright juga tengah membaca buku sementara Domanick tengah asik bermain game online.
"Bright, Nick, Momy boleh minta tolong engga?"
"Minta tolong apa Mom?" tanya Nick yang kedua matanya tetap fokus pada layar gadgetnya, sedangkan Bright hanya menoleh lalu kembali membaca buku.
"Temani Brithney main dulu ditempat mainnya gih, Momy mau buat kue kering dulu untuk Dady!"
"Aduh biarkan saja anak manja itu bermain sendiri mom," Domanick terus sibuk dengan layar gadgetnya.
"Bright? Come on, Momy juga sedang meminta tolong padamu!"
__ADS_1
"Baiklah," Bright langsung beranjak dari ranjang dan menutup bukunya dan menghampiri Larisha dan Brithney.
"Nick, Wifi-nya Momy matikan ya?"
"Mom, ah tidak asik! Ya sudah, ayo aku temani," rengek Domanick.
"Hore, aku mau main dokter-dokteran ya kak Bright,"
Brithney kegirangan di senang ketika dua saudara kembarnya itu mau menemaninya bermain, Bright pun hanya menorehkan senyum dibibirnya tanpa menanggapi ocehan Brithney yang merasa kegirangan.
Beres dengan anak-anaknya! Larisha bergegas pergi ke dapur di lantai lima rumahnya! Dia mengambil bahan-bahan untuk membuat kue kering kesukaan Tuan Lan, dengan telaten Larisha mulai mencampurkan bahan-bahan, hingga hampir satu jam, lamanya tinggal bagian pemanggangan saja, Larisha pun memasukkan kue-kue kering yang sudah dicetaknya ke dalam oven.
"Beres, tinggal tunggu empat puluh lima menit matang!"
Tiba-tiba dari belakang seseorang melingkarkan kedua tangannya ditubuh Larisha, sapuan brewok-brewoknua bahkan telah menyentuh pundak Larisha, membuat Larisha hapal siapa orang yang langsung memeluknya saat ini.
"Ya aku sedang sangat merindukanmu mom, makanya aku pulang cepat!"
"Ya sudah, ayo kita ke kamar dan ganti bajulah!"
"Anak-anak mana?"
"Mereka sedang diruang bermain Dad,"
"Mom aku merindukanmu sayang," Tuan Lan berbisik ditelinga Larisha sambil menji lat daun telinganya.
"Sttthhhh dad,"
Kedua tangan Tuan Lan merengkuh tubuh Larisha dengan erat, perlahan kedua tangannya naik dan memompa kedua bukit kembar yang terlihat sangat menggoda saat ada sedikit keringat yang membasahinya.
__ADS_1
Larisha yang sejak tadi sibuk membuat adonan kue membuatnya kegerahan sehingga tubuhnya memang sedikit berkeringat walaupun diruangan itu AC selalu nyala! Tuan Lan me rem as kedua bukit kembar itu hingga Larisha pun melenguh.
"Kau sibuk terus sayang, sekarang anak-anak sedang bermain bersama aku pun ingin bermain-main bersama denganmu sayang,"
"Emttth disini dad?"
Tuan Lan segera membalikkan tubuh Larisha, dan diraihnya tengkuk leher Larisha lalu Tuan Lan segera melum at bibir ranum istrinya itu, Larisha menyambut luma tan demi luma tan yang dilakukan oleh Tuan Lan, hingga lidah keduanya saling beradu mengadu kecepatan akan siapa yang lebih dahulu dapat menembus rongga mulut satu sama lainnya.
Larisha yang berpakaian dress mini berwarna merah menyala, dengan lekuk tubuhnya yang indah membuat bangkit ga ir ah Tuan Lan, keduanya masih terus saling bertukar lidah saling menye sap tanpa peduli saat ini keduanya tengah berada di dapur dan siapapun bisa memergoki kenakalan mereka.
Kedua tangan Tuan Lan tidak mendapatkan jatah menganggur saat ini karena sudah pasti kedua bongkahan besar itu akan menyibukkan kedua tangan Tuan Lan, di rem asnya dengan kuat diaduk-aduk dengan brutal kedua melon import yang sangat menggoda untuk dilahap.
"Ah ah ahz ssstst dad,"
Ciu man Tuan Lan turun ke leher Larisha, di hi sapnya jengkal demi jengkal hingga meninggalkan banyak jejak kepemilikan diarea leher Larisha, Tuan Lan semakin turun dan turun lagi, hingga kedua tangan Tuan Lan mengangkat dress berwarna merah yang dikenakan Larisha sampai ke bagian da danya, kedua melon import itu kini terpampang nyata begitu sintal hingga Tuan Lan tak sabar untuk melahapnya.
Dibukanya b r a milik Larisha lalu dibuangnya ke lantai b r a berwarna senada dengan dress yang dikenakannya, Tuan Lan dengan rakusnya melahap bongkahan melon import itu satu persatu membuat darah ditubuh Larisha semakin berdesir hebat.
Di rem asnya sambil terus dimasukkan kedalam mulutnya melon import milik Larisha bergantian dan adil tentunya, di hi sapnya bagian pucuk melon import milik Larisha hingga Larisha replex menekan wajah Tuan Lan agar lebih kencang lagi meng hi sapnya.
"Dad ahhhhh terus dad, hi sap lebih kencang lagi dad! Oughttt geli sekali Dad ahh,"
Larisha terus semakin meracau dan gelisah kala Tuan Lan bukan hanya meng hi sap kedua melon importnya melainkan memainkan pucuknya dengan ujung lidah yang menari-nari membuat Larisha me rem as rambut Tuan Lan karena frustasi dengan kenikmatan yang dia rasakan saat ini.
Kedua tangan Tuan Lan kini mulai menelusuri pinggang ramping Larisha, sungguh indah lekuk tubuh untuk seorang ibu dari tiga orang anak namun masih memiliki wajah yang cantik dan awet muda serta bentuk tubuh bak masih gadis remaja.
Tuan Lan menelusup ke celana da lam yang memiliki warna senada dengan dress merahnya, mendapati didalam sana sudah sangat lembab sementara mulutnya masih tersumpal oleh kedua melon import yang terus menerus dihi sapnya.
Kedua kaki Larisha langsung merenggang memberi akses cukup lebar agar kedua tangan Tuan Lan bisa leluasa bermain-main diarea bawahnya yang saat ini sudah semakin lembab, padahal Tuan Lan baru menyapanya dengan satu sentuhan saja.
"Oughhhtt Dad, ini nikmat Dad ahhhhh oh my God!"
❤️❤️❤️
__ADS_1
Dady gak mau kalah ya sama asisten pribadinya yang udah berhasil pecah terlor, mau nambah lagi Dad? Bikin Dad cetak terus biar jadi kesebelasan bola😂🤭