
Tuan Lan yang sudah berhasil membuat wajah Larisha tak lagi cemas, akhirnya merasa lega. Namun pikiran Tuan Lan saat ini benar-benar diambang kebimbangan besar.
Tuan Lan tidak tau kedepannya musuh seperti apa lagi yang akan berusaha menghancurkannya, dan kali ini Larisha ada di hidupnya, itu artinya Larisha akan senantiasa berada dalam bahaya selama hidup bersama dengannya.
Ketika melihat Larisha terikat kaki dan tangannya, dengan air mata yang mengalir deras karena ketakutan, hati Tuan Lan hancur! Sakit sekali rasanya melihat Larisha dalam ketakutan seperti itu, bahkan Larisha menyaksikan peluru-peluru itu menembus tubuhnya dan juga Tan.
Tuan Lan bisa membayangkan betapa traumanya Larisha saat ini, hanya saja dia mencoba untuk tetap tenang dan terlihat baik-baik saja. Tuan Lan pun menggenggam kedua tangan Larisha.
"Risha, kau beristirahat lah dulu! Ganti pakaian mu, tidak perlu khawatir lagi semuanya sudah berakhir!" kata Tuan Lan.
Larisha menatap pakaiannya yang penuh dengan noda darah, terlintas kembali peristiwa itu dalam ingatan Larisha, wajah Larisha pun kembali berubah cemas.
"Risha, semua sudah aman kau jangan khawatir! Istirahatlah, Luna antar kakakmu ke kamarnya!" kata Tuan Lan.
"Baik Tuan, ayo kak! Kau sudah melewati hari yang sulit, istirahat lah dulu!" ajak Laluna yang kemudian Larisha pun menurut.
Larisha dan Laluna pergi meninggalkan ruangan itu! Namun wajah sendu Tuan Lan, menarik perhatian Tan yang sejak tadi memperhatikannya.
"Tuan, apa masih ada yang mengganjal didalam pikiran mu?" tanya Tan.
"Menurut mu, berapa lama dia akan tetap bertahan hidup bila masih tetap hidup denganku?" tanya Tuan Lan dengan wajah penuh kesedihan.
Dari perkataan Tuan Lan, Tan sangat paham kemana arah pembicaraan ini nantinya.
"Tuan kau jangan berpikir sembarangan! Aku yakin kita semua bisa menjaga nona Larisha, kejadian itu tidak akan terulang kembali," kata Tan.
"Tan, kali ini aku beruntung masih bisa menyelamatkannya! Aku bahkan tidak tau berapa banyak diluar sana musuh-musuh ku, hari ini dengan pistol ditodongkan ke kepalanya, sementara Dev dimasukkan nar koba kedalam minumannya hingga dia kehilangan kesadaran dan kecelakaan, lalu setelah ini apa Tan? Akan ada senapan yang langsung menembus kepalanya? Atau ada yang memasukkan racun kedalam minumannya?" tanya Tuan Lan.
"Tuan ini bukan kau yang aku kenal! Kau yang aku kenal, akan berusaha untuk melindungi apa yang kau cintai, kita bisa menambahkan penjagaan untuk nona Larisha Tuan," kata Tan berusaha agar Tuan Lan mengurungkan niatnya.
"Tidak Tan, aku tidak ingin Larisha kembali dalam bahaya! Dia akan celaka bila tetap berada di sisiku!" kata Tuan Lan.
"Jadi maksud mu?" tanya Tan.
__ADS_1
"Aku akan melepaskannya, aku sangat mencintainya Tan. Aku tidak akan sanggup bila Larisha bernasib sama seperti Dev," kata Tuan Lan dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tuan! Tidak, kau akan melukai perasaan nona Larisha, Tuan aku yakin kita semua bisa melindunginya," kata Tan yang paham keputusan itu artinya Tuan Lan akan menceraikan Larisha, dan mengembalikan Larisha pada kehidupannya yang bahagia seperti sebelum bertemu dengan Tuan Lan.
"Tan, besok persiapkan berkas untuk penjualan semua bisnis ku di negara ini!" kata Tuan Lan.
"Tuan, apa kau yakin? Pikirkanlah dahulu Tuan, jangan terburu-buru," kata Tan.
Tanpa disadari oleh Tuan Lan dan Tan, pembicaraan itu terdengar oleh Larisha yang saat ini berada dibalik pintu ruangan itu! Ya, Larisha memang berniat kembali ke ruangan itu karena handphonenya tertinggal dimeja samping ranjang Tuan Lan. Namun apa yang didapat Larisha, dirinya mendengar percakapan Tuan Lan dengan Tan! Niat Tuan Lan untuk menceraikannya.
Deg
Hatinya seperti terhantam benda keras, da danya terasa sesak, sakit dan tak mampu lagi menahan bulir bening dikedua matanya.
"Tuan, teganya kau berniat untuk pergi meninggalkan aku! A-aku tidak masalah bila harus menghadapi 1000 bahaya sekalipun, asalkan bersamamu aku pasti bisa menghadapinya." Lirih Larisha dengan tubuh yang bergetar.
Hatinya remuk, dia tidak menyangka dengan semua pembicaraan Tuan Lan dengan Tan yang baru saja dia dengar. Tubuhnya lemas hingga Larisha pun duduk dilantai, air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, dunianya mendadak terasa runtuh, gelap, dan sulit udara.
"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan kau pergi Tuan. Aku akan meyakinkan mu untuk tetap disisi ku, aku percaya didekat mu aku lebih tenang." Lirih Larisha.
Larisha pun bangkit, dan menghapus air mata dari pipinya, kemudian Larisha menarik nafas panjang mencoba untuk lebih tenang.
Klek.
Pintu ruangan dibuka oleh Larisha, sontak Tuan Lan dan Tan pun menengok kearah Larisha.
"Larisha, kenapa kau kembali?" tanya Tuan Lan.
Emuah...
__ADS_1
Satu ciu man, mendarat dibibir Tuan Lan.
"Aku masih merindukanmu Tuan, rasanya aku ingin selalu berada di dekatmu! Kau akan selalu berada disisi ku kan, Tuan?" tanya Larisha.
Tuan Lan dan Tan pun saling melirik.
"Ya, tentu! Tentu saja aku akan selalu berada di sisimu, sekarang kau mandilah dulu!" kata Tuan Lan dengan nada gugup.
"Aku ingin mandi bersama mu, cepatlah sehat agar kita bisa selamanya melakukan banyak hal, memiliki putra dan putri yang cantik dan tampan seperti mu!" kata Larisha.
"Larisha!" Lirih Tuan Lan.
Larisha pun tidak dapat menahan tangisannya, air matanya tumpah! Larisha memeluk tubuh Tuan Lan dan menangis dida da bidang Tuan Lan.
Hiks.
Hiks.
"Risha, apa kau mendengarkan pembicaraan ku dengan Tan?" tanya Tuan Lan, kedua tangan Tuan Lan pun merengkuh erat tubuh Larisha.
"Tuan jauhkan pikiranmu itu! Aku tidak apa-apa meskipun harus berada dalam bahaya, asalkan bersamamu aku sudah bahagia Tuan, jangan tinggalkan aku!" lirih Larisha dengan suara serak, bahkan suaranya nyaris hilang.
Tuan Lan hanya menci um dahi Larisha dan tetap memeluk tubuh istrinya itu, namun tak memberikan jawaban apapun. Tan yang melihat Larisha menangis tersedu-sedu seperti itu, merasa tak tega bila akhirnya keputusan Tuan Lan benar adanya.
Setelah mencurahkan segala isi hatinya pada Tuan Lan, malam itu Larisha tidur dengan gelisah! Larisha terus memikirkan bila Tuan Lan benar-benar menceraikannya, dan menjauh dari hidupnya.
Bagaimana dia bisa menjalani hidup, bila separuh hidupnya adalah Tuan Lan.
Setiap harinya, Larisha terus merawat Tuan Lan dan tidak ada henti-hentinya meyakinkan Tuan Lan agar tidak akan pernah meninggalkannya. Tapi sepertinya, Larisha tidak mengerti dari sudut pandang Tuan Lan, mengapa Tuan Lan sampai ingin meninggalkannya.
❤️❤️❤️
Melepaskan dengan tulus sesuatu yang amat kita inginkan tidak selalu berarti kita lemah." - Tere Liye.
__ADS_1
Tapi, selembut apapun cara berpamitan, perpisahan tetaplah menyakitkan.