
Larisha terus melihat ke kaca spion, dan polisi masih tidak juga melepaskannya! Mereka terus mengejar Larisha.
"Sitt, polisi-polisi itu tidak makan siang dulu kah? Malah sibuk mengejar ku!" Gerutu Larisha sambil terus stabil dengan kecepatan kendaraannya.
Larisha pun berbelok kearah pertokoan-pertokoan yang banyak jalan bercabangnya sebab jika terus berada dijalan utama, bisa saja polisi dapat mengejarnya. Meskipun harus mengurangi kecepatannya, namun Larisha yakin bisa lolos bila melewati jalan bercabang dan lumayan ramai ini.
Tuan Lan yang sedari tadi memperhatikan umpatan Larisha, dan anteng memeluk gadis cantik si penerobos lampu merah ini tak bisa berhenti sepanjang jalan tersenyum meskipun dia nyaris kehabisan darah tapi rasanya bahagia Larisha tidak terluka sedikitpun dan sekarang sudah bisa mengomel.
Setelah melewati jalan bercabang itu, polisi pun tak lagi bisa mengejarnya. Larisha kembali ke jalan raya utama dan menambah kembali kecepatan motor gedenya.
"Huh,, akhirnya polisi-polisi itu tidak lagi mengejar kita Tuan! Bertahanlah sebentar lagi kita akan sampai!" kata Larisha sambil terus fokus mengendarai motor.
Sampailah Larisha didepan gerbang utama kediaman Tuan Lan, disana kedua anak buah Tuan Lan yang menjaga gerbang langsung sigap membuka gerbang! Sudah ada Dokter dan beberapa perawat yang menyambut kedatangan Larisha untuk melakukan pertolongan pada Tuan Lan.
Ya, di kediaman Tuan Lan memang lengkap dengan alat-alat medis dan dia pun memiliki orang-orang medisnya tersendiri! Gunanya jika terjadi hal-hal seperti ini, tidak perlu berurusan dengan rumah sakit ataupun polisi. Di sana juga Laluna ikut menyambut kedatangan Larisha, Luna mendengar Larisha diculik dari anak buah Tuan Lan, sehingga sejak tadi Luna gelisah menunggu sang kakak.
Tuan Lan segera dibaringkan diranjang pasien yang kemudian didorong oleh beberapa tenaga medis kedalam ruangan khusus didalam rumah itu.
"Kakak!" kata Laluna lalu memeluk Larisha, Luna melihat pakaian Larisha yang penuh darah.
"Luna, kenapa kau menunggu disini?" tanya Larisha.
"Aku tau kau diculik! Kak pakaian mu penuh darah, kau terluka juga seperti Tuan Lan?" tanya Luna.
"Mana mungkin kakak terluka, Tuan Lan tidak akan membiarkan siapa pun melukai kakak Luna," kata Larisha.
"Ayo kita kedalam! Kakak harus menemani Tuan Lan," kata Larisha.
"Baiklah kak!" Sambil celingak-celinguk, mencari Tan karena yang Luna tau, Tan juga ikut untuk menyelamatkan Larisha tapi kemana Tan, apa dia tewas? Kenapa tidak ikut kembali dengan Tuan Lan dan Larisha.
__ADS_1
Sampai didepan ruangan khusus untuk mendapatkan perawatan! Larisha tak bisa tenang, dia takut Tuan Lan tak bisa selamat. Sementara Laluna juga turut mondar-mandir seperti Larisha, bahkan dilihat Laluna lebih gelisah.
"Apa kau jatuh cinta pada suamiku, Luna?" tanya Larisha menatap aneh kearah Laluna.
"Hah? Apa maksudmu kak?" tanya Laluna dengan kedua mata terbelalak.
"Kenapa kau lebih terlihat panik dan khawatir dibandingkan aku?" tanya Larisha menatap aneh kearah Laluna.
"I-itu, itu karena aku! Aku takut kau jadi janda muda," celetuk Laluna.
Sontak Larisha langsung menoyor kepala Laluna.
"Aduh," kata Laluna sambil memegangi kepalanya.
"Kau ini bicara sembarangan," kata Larisha.
Tak berselang lama, Tan dan beberapa anak buah Tuan Lan tiba dikediaman Tuan Lan. Tan pun langsung dipapah untuk mendapatkan perawatan diruangan yang sama dengan Tuan Lan.
Laluna yang melihat Tan akhirnya muncul dihadapannya, langsung merasa lega dan terus menatap wajah Tan yang seperti menahan kesakitan.
"Pangeran ku!" Gumam Laluna.
Tan pun hanya melirik sesaat pada Laluna, dan langsung masuk kedalam ruangan itu. Setelah hampir dua jam, Dokter telah selesai mengangkat peluru-peluru yang bersarang ditubuh Tuan Lan dan juga Tan, Tuan Lan bahkan harus mendapatkan transfusi darah sangat banyak, beruntung anggota medis keluarga Limson itu memiliki banyak stok.
Dokter dan beberapa perawat keluar dari dalam ruangan itu! Dan Larisha langsung penasaran bagaimana keadaan Tuan Lan saat ini.
"Bagaimana Dok?" tanya Larisha dengan perasaan cemas.
"Tuan Lan sudah tidak apa-apa nona, tapi tetap harus mendapatkan transfusi darah karena beliau kehilangan banyak darah, terimakasih telah membawanya tepat waktu," kata Dokter.
__ADS_1
"Syukurlah! Aku lega sekali Dok, lalu bagaimana dengan Tuan Tan?" tanya Larisha.
"Tuan Tan pun sudah baik-baik saja anda tidak perlu khawatir kan apapun, beberapa perawat akan tinggal disini hingga Tuan Lan dan Tuan Tan kembali pulih seperti sedia kala," kata Dokter.
"Baik terimakasih banyak Dok! Aku akan masuk kedalam," kata Larisha.
"Ya silahkan nona," kata Dokter.
Larisha kemudian masuk kedalam ruangan tersebut, diikuti oleh Laluna yang mengekor dibelakang. Terlihat Tan yang sedang ngemil kacang tiga kelinci sambil menonton acara bola di televisi ruangan itu. Begitu juga dengan Tuan Lan, yang ikut anteng menonton acara bola.
"Ah si al! Kau lihat itu Tuan, aku sampai buru-buru mengurus mayat orang itu agar bisa cepat menonton pertandingan club' kesayangan ku, ternyata kemasukan gol oleh lawan!" kata Tan sambil mulutnya terus mengunyah.
"Cih, pantas saja kau hanya membiarkan bocah ingusan itu menembak ku sebanyak tiga kali. Aku yakin jika kau tidak sedang terburu-buru, peluru yang bersarang di tubuhku lebih dari itu!" kata Tuan Lan tersenyum santai.
Larisha dan Laluna saling bertatapan melihat kedua laki-laki yang mereka khawatirkan justru asik menonton bola, padahal bisa saja keduanya mati dalam peristiwa itu.
"Tuan, kau sudah lebih baik?" tanya Larisha lalu duduk disamping ranjang Tuan Lan, sementara Laluna berdiri dibelakangnya sambil sesekali melirik kearah Tan.
"Ya lumayan, setelah aku hampir mati tadi!" kata Tuan Lan.
"Oh, ayolah Tuan aku sudah minta maaf karena terlalu lelet menyelamatkan mu!" kata Tan.
"Aku bukan hampir mati oleh luka tembak ini Tan, tapi aku hampir mati karena kau telah membiarkan istriku yang mengendarai motor itu, kau tidak tau Tan dia seperti pembalap yang memiliki nyawa cadangan, aku bahkan sepertinya sudah berada didepan pintu neraka," kata Tuan Lan.
"Tuan, kau ini! Aku berkendara seperti itu, karena khawatir kau akan mati dan aku akan menjadi janda muda yang kaya raya!" kata Larisha.
"Larisha!!!! Aku tidak akan pernah mau mati bila memiliki istri seperti mu, bahkan aku akan hidup 1000 tahun lagi untuk bisa bersama denganmu," kata Tuan Lan.
Larisha pun tersenyum manis, begitu juga dengan Laluna dan Tan. Laluna dan Tan tersenyum dan saling melirik satu sama lain, namun tak berani saling menyapa.
__ADS_1